Jun 09, 2019 14:26 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Khamenei pimpin shalat Idul Fitri di Tehran
    Ayatullah Khamenei pimpin shalat Idul Fitri di Tehran

Awal Syawal merupakan hari besar umat Islam, hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.

Tahun ini hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Rabu 5 Juni 2019 bertepatan dengan 15 Khordad 1398 Hs. Di hari ini jutaan warga Iran setelah sebulan berpuasa dan beribadah, berbondong-bondong menunaikan shalat Idul Fitri.

Rahbar pimpin shalat Idul Fitri di Tehran

Warga Tehran juga sejak pagi hari mendatangi Musallah Imam Khomeini untuk menunaikan shalat Idul Fitri yang dipimpin oleh Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

 

Di awal khutbahnya Rahbar mengucapkan selama hari raya Idul Fitri kepada jamaah shalat dan umat Islam. Seraya mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat Ilahi serta manifestasi keimanan dan pembersihan hati dari kotoran, Rahbar menyebut perkumpulan warga di waktu sahar dan pagi bulan Ramadhan untuk mendengarkan khutbah dan membaca doa serta munajat sebagai nikmat besar.

 

Ayatullah Khamenei juga berharap simpanan spiritual ini yang tersimpan di hati-hati suci para remaja dan pemuda Iran mampu memberkahi masa depan negara ini.

 

Di antara poin-poin khutbah Rahbar di khutbah kedua shalat Idul Fitri tahun ini adalah isu Palestina. Beliau menyebut Palestina sebagai isu terpenting dan utama dunia Islam. Seraya menjelaskan bahwa pengkhianatan sejumlah negara Islam akhir-akhir ini telah mendorong aksi-aksi pengkhianatan nyata terhadap isu Palestina, Rahbar mengatakan, "Pertemuan yang dijadwalkan digelar di Bahrain milik Amerika, namun pemimpin Bahrain dengan kelemahannya dan beragam ketidakmampuannya serta dengan spirit anti rakyat dan Islamnya, telah mempersiapkan hal ini serta komitmen menggelar pertemuan tersebut..."

 

Lebih lanjut Rahbar menambahkan,"...Tujuan dari pertemuan ini adalah rencana penuh pengkhianatan dan busuk Amerika terkait Palestina yang diberi nama kesepakatan abad. Pastinya hal ini tidak akan terjadi dan dengan ijin Allah Swt kesepakatan abad tidak akan sukses. Kami berterima kasih kepada negara-negara Islam dan Arab yang menentangnya serta faksi-faksi Palestina yang menolak rencana ini. Ini sebuah pengkhianatan besar terhadap dunia Islam. Saya berharap pemimpin Bahrain dan Arab Saudi memahami betapa mereka telah menginjakkan kakinya di kubangan lumpur dan betapa kerugian yang akan mereka terima bagi masa depannya."

 

Isu Palestina dan urgensitasnya merupakan poros utama pidato Rahbar saat bertemu dengan pejabat pemerintah, para duta besar negara Islam dan berbagai elemen masyarakat di hari raya Idul Fitri. Rahbar menyebut pesan Idul Fitri adalah persatuan dan solidaritas neagra-negara Islam serta kembali kepada wacana "Umat Muslim". Seraya mengisyaratkan rencana musuh untuk menciptakan perpecahan dan perang saudara di antara umat Islam, Rahbar mengungkapkan, "Kami bersikeras tema dan wacana Umat Muslim ini terpatri kuat di benak seluruh lapisan masyarakat Islam, khususnya para pejabat Muslim, karena upaya musuh Islam dan Muslim adalah melupakan tema Umat Muslim dan kita lupa serta lalai bahwa kita bagian dari komunitas besar 1,5 atau mendekati dua miliar yang berada di puluhan negara Islam dan ini adalah satu komunitas. Dan dalam hal ini musuh telah berhasil..."

 

Rahbar menambahkan, "...Kini jika kalian menyaksikan kawasan kami, kalian akan menyaksikan konfrontasi yang ada bukan antara Islam dan kafir, antara mukmin dan agresor, tapi antara sesama Muslim. Sebuah negara Islam dengan rakyat muslimnya, tapi muncul pemimpin yang tidak kompeten dan acuh tak acuh, di mana mereka memilih mengiringi rezim Zionis Israel dan bekerja demi kepentingan mereka, menyuarakan slogan dan berbicara yang menguntungkan musuh ketimbang memusuhinya. Ketika itu, mereka malah memerangi sebuah negara Islam. Sangat disayangkan musuh memiliki kesempatan untuk mengobarkan perang antara negara Islam dan antara sesama saudara Muslim. Ini harus segera diobati."

 

Rahbar menilai solusi bagi kendala dunia Islam saat ini adalah kembali kepada tuntutan al-Quran dengan tolok ukur, Ashiddau 'Alal Kuffar (bersikap keras terhadap orang kafir) dan Ruhamaau Bainahum (Berlemah lembut terhadap sesama Muslim).

َAyatullah Khamenei

Ayatullah Khamenei seraya menjelaskan bahwa negara-negara Islam harus bersatu melawan keberadaan musuh, penjahat dan penjajah di Palestina ketimbang saling berperang mengungkapkan,"Hari ini Anda menyaksikan sebuah musuh, penjajah di jantung negara-negara Islam, di pusat negara Islam yakni Palestina, aktif melakukan kejahatan, di mana hal ini mengharuskan seluruh Muslim sangat sensitif atas masalah ini, mereka harus bersatu melawan musuh ini, mecengahnya melakukan kejahatan...."

 

Rahbar menambahkan, "....Namun masalahnya adalah tidak ada di dunia Islam yang memerangi musuh ini, malah mereka saling membangun kekuatan, saling mencakar, saling berperang dan mengobarkan friksi di antara mereka sendiri. Idul Fitri adalah hari raya umat Islam dan harus dipikirkan persatuan umat Islam. Kami merekomendasikan negara-negara ini, pemerintahan yang lupa akan apa yang diinginkan al-Quran dari mereka. Ayat yang mereka baca وَ الَّذینَ مَعَه، اَشِدّاءُ عَلَی الکُفّارِ رُحَماءُ بَینَهُم (mereka bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut terhadap sesama saudara muslim mereka), apakah mereka umat Islam ?

 

Ayatullah Khamenei mengungkapkan, Mengapa di negara semacam Libya, dua kelompok saling berperang dan menumpahkan darah, mengapa sebuah negara yang mengaku Islam, membombardir rakyat Yaman dan infrastruktur negara ini, dan mereka harus mematuhi keinginan dan perintah musuh.

 

Rahbar mengungkapkan, "Suatu hari, di manapun kebijakan Inggris dan hari ini Amerika, memasuki di negara Islam, muncul beragam fitnah, muncul pula perpecahan di antara negara Islam, kebencian pun marak bahkan di satu negara. Kalian saksikan Libya saat ini, apa yang tengah terjadi di nagara ini ! Mengapa di sebuah negara Islam dua kelompok harus saling berperang, padahal keduanya milik satu negara, milik satu tanah air dan milik satu masa depan. Kebaikan mereka saling terkait ! Siapa yang memprovokasi mereka ? Mengapa sebuah negara seperti Yaman, masjid, pasar dan rumah sakitnya dibombardir, gedung sekolah SD dan infrastruktunya dihancurkan. Mengapa ? Siapa pelaku pembombardiran ini ? Pelakunya adalah mereka yang mengaku Islam, negaranya juga Islam dan rakyatnya juga Muslim. Dengan alasan palsu dan berdasarkan keinginan musuh Islam mereka aktiv di dunia Islam dan berusah keras. Ini adalah kendala kita."

 

Seraya menekankan bahwa kendala utama dunia Islam dapat diselesaikan dengan solidaritas antar Muslim, Rahbar mengatakan, cendikiawan dan ulama Islam memiliki kewajiban ganda untuk merealisasikan tuntutan ini. Rahbar kembali mengisyaratkan dukungan Republik Islam Iran terhadap Palestina dan cita-cita bangsa tertindas ini serta harga yang harus dibayar untuk membelanya.

Rahbar dan Hari Quds Sedunia

"Kami di Republik Islam Iran menerima harga yang harus kami bayar ketika membela Palestina. Kami telah katakan bahwa kami akan membela Palestina dan dunia arogan bangkit melawan kami, namun kami bertahan dan melawan, serta kami akan tetap melawan. Kami yakin bahwa kemenangan pada akhirnya milik bangsa Palestina," kata Rahbar.

 

Di akhir khutbanya Ayatullah Khamenei seraya mengingatkan usulan Republik Islam Iran terkait referendum di Palestina dengan melibatkan warga Muslim, Kristen dan Yahudi di wilayah tersebut serta pengungsi Palestina terkait koridor sistem pemerintahan negara ini menekankan, "Kami berbeda dengan pemimpin terdahulu Arab yang mengatakan kita akan menenggelamkan Yahudi ke laut, kita bukan pakar menenggelamkan Yahudi ke laut. Kami mengatakan, perjuangan total bangsa Palestina, perjuangan politik, militer, moral dan budaya harus terus berlanjut sehingga penjajah tanah Palestina menyerah terhadap suara bangsa Palestina..."

 

Lebih lanjut Rahbar mengungkapkan, "....Seluruh rakyat Palestina baik muslim, Kristen dan Yahudi serta mereka yang diasingkan ke luar Palestina harus dilibatkan dalam referendum. Mereka ini yang akan menentukan bentuk pemerintahan di Palestina dan semua pihak harus menerima pendapat mereka. Hingga saat itu, perjuangan harus terus dilanjutkan dan pasti akan terus berlanjut. Dengan rahmat Ilahi dan bantuannya, bangsa Palestina selama perjuangan damainya ini akan diterima oleh dunia dan negara Palestina akan kembali ke rakyat Palestina. Dengan bantuan Ilahi, kalian para pemuda Insyaallah akan menyaksikan hari tersebut."

 

 

Tags

Komentar