Aug 25, 2019 13:37 Asia/Jakarta
  • Gambar surat yang berisi tentang usulan penetapan 3 April sebagai “Punish a Muslim Day” atau Hari Menghukum Muslim.
    Gambar surat yang berisi tentang usulan penetapan 3 April sebagai “Punish a Muslim Day” atau Hari Menghukum Muslim.

Edisi kali ini mengulas tentang pola baru serangan Islamophobia di Inggris serta serangan teror ke masjid-masjid di Jerman, Italia, dan Belanda.

Pola baru mulai muncul dalam kasus serangan Islamophobia dan sentimen anti-Muslim di Eropa. Dalam kasus terbaru, sejumlah warga Inggris di kota London, West Midlands, dan Yorkshire menerima surat yang berisi tentang usulan penetapan tanggal 3 April sebagai “Punish a Muslim Day” atau Hari Menghukum Muslim.

Sejumlah warga Inggris di London, West Midlands dan Yorkshire mengatakan mereka menerima surat yang dikirim melalui pos. Surat itu berbunyi, "Mereka telah menyakiti Anda, mereka membuat orang-orang yang Anda cintai menderita. Mereka telah menyebabkan Anda sakit dan sakit hati. Apa yang akan Anda lakukan tentang itu?"

Selanjutnya menawarkan hadiah bagi penyerang yaitu 10 poin untuk serangan verbal terhadap seorang Muslim, 50 poin jika melemparkan air keras kepada seorang Muslim, 1.000 poin jika mengebom sebuah masjid, dan 2.500 poin jika melakukan serangan nuklir ke Mekkah.

Ada lebih dari 2,5 juta orang Muslim di Inggris, di mana Islam adalah agama terbesar kedua.

Masyarakat Muslim Inggris, para tokoh agama, politisi, dan kelompok pembela hak-hak sipil mengungkapkan rasa takut dan kemarahan atas perkembangan tersebut.

"Kampanye surat keji yang dikirim ke Muslim di seluruh Inggris ini telah memicu keresahan dan kecemasan serius. Kami menyambut tindakan yang diambil oleh polisi untuk menyelidiki kasus ini," kata Miqdaad Versi, Wakil Sekjen Dewan Muslim Inggris.

"Kasus ini mencerminkan meluasnya kebencian terhadap Muslim di samping kebangkitan sayap kanan. Para pejabat terpilih Inggris perlu melawan dan mengambil tindakan terhadap Islamophobia dengan cara yang sama ketika mereka melawan fanatisme terhadap komunitas lain," tambahnya.

Kepala Hubungan Antaragama Gereja Inggris, Andrew Smith mengatakan, "Kami marah mendengar pengiriman surat tentang Hari Menghukum Muslim. Ini adalah waktunya untuk melipatgandakan upaya kami demi membangun perdamaian di masyarakat kami dan mendukung mereka yang merasa takut atau terintimidasi."

Aksi protes menolak pembangunan masjid di Inggris.

Tell MAMA Inggris – sebuah organisasi yang memantau kejahatan rasial anti-Muslim – mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja dengan polisi. "Kasus ini sedang ditindaklanjuti dengan sangat serius," kata organisasi itu.

"Sangat penting bahwa semua surat dan amplop disimpan sebagai bukti bagi polisi untuk diselidiki," kata Tell MAMA.

Seorang anggota Tell MAMA mengatakan, "Orang-orang di Birmingham, Cardiff, Leicester, London, dan Sheffield juga telah melaporkan menerima surat tersebut."

"Ini menimbulkan cukup banyak ketakutan di masyarakat," kata Iman Atta, Direktur Tell MAMA. "Mereka bertanya apakah mereka aman, apakah anak-anak mereka aman untuk bermain di luar. Kami telah memberitahu mereka untuk tetap tenang," tambahnya.

Polisi Metropolitan London dan pejabat lainnya telah memperingatkan warga Inggris untuk waspada, sementara para pejabat kontraterorisme sedang menyelidiki kasus ini.

Naz Shah, seorang anggota Parlemen Inggris dari Bradford West, mengatakan di akun Twitter-nya bahwa anggota komunitasnya telah menerima surat-surat tersebut dan situasinya sekarang “sangat menyedihkan, tidak hanya mereka yang menerima surat itu, tetapi juga untuk komunitas yang lebih luas.

"Saya mengimbau masyarakat luas untuk tetap waspada dan melaporkan segala kegiatan mencurigakan kepada polisi. Kita berdiri bersama dan saling membantu, dan hal apapun tidak dapat menciptakan perpecahan di antara kita. Ini adalah penyebaran kebencian dan tidak akan berhasil," tegas Naz Shah.

Surat tersebut menunjukkan bahwa para pengobar Islamophobia di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, ingin menciptakan ketakutan di tengah warga Muslim sehingga mereka terisolasi dan memaksa mereka meninggalkan Inggris.

Pola lama menciptakan ketakutan terhadap warga Muslim Eropa adalah menyerang pusat-pusat kegiatan Islam, terutama masjid dan rumah ibadah. Tiga masjid diserang di Jerman oleh kubu sayap kanan pada 26 Maret 2018. Polisi Jerman menyatakan sebuah masjid di Berlin dibakar, tetapi tidak jatuh korban.

"Masjid di distrik Reinickendorf dibakar oleh tiga remaja ekstrem," kata polisi Jerman.

Dalam kasus lain, sebuah masjid Turki di kota Lauffen am Neckar, selatan Jerman diserang dengan bom molotov yang memicu kobaran api, tetapi berhasil dipadamkan oleh imam masjid tersebut.

Jaksa dan polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa insiden itu dianggap sebagai kejahatan yang bermotif rasisme dan Islamophobia. Imam masjid sedang berada di dalam saat serangan terjadi dan kasus ini sedang diselidiki sebagai percobaan pembunuhan.

Serangan molotov ketiga dilakukan terhadap sebuah masjid yang terletak di distrik Baden-Wurttemberg, yang terhubung dengan bandar Lauffen Jerman. Tidak ada jamaah yang sedang shalat cidera, namun diberitakan ada beberapa kerusakan kecil di masjid yang dimiliki Islamic Community National View (IGMG) ini.

Sekretaris Jenderal IGMG, Bekir Altas mengatakan, kekerasan terhadap Muslim dan rumah ibadah yang tumbuh di Eropa sudah pada taraf mengkhawatirkan. "Serangan ini harus diselesaikan secepat mungkin. Serangan Islamophobia jangan dianggap tidak penting, pemerintah Baden-Wurttemberg harus bertindak,” serunya.

Serangan kelompok anti-Islam terhadap sebuah masjid di Jerman.

Serangan terhadap pusat-pusat kegiatan umat Islam di Jerman meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Investigasi kasus seperti ini biasanya tidak membuahkan hasil dan jika pun pelakunya diketahui, ia tidak diberi hukuman yang bisa memberikan efek jera.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Jerman, hampir 1.000 serangan terhadap Muslim dan pusat-pusat umat Islam terjadi di negara ini pada 2017 dan lebih dari 30 orang cidera dalam insiden itu.

Serangan Islamophobia juga dilaporkan terjadi di Italia dan Belanda. Sebuah masjid di kota Padova, Italia diserang dengan lemparan api oleh kelompok anti-Islam dan menyebabkan pintu masuk masjid rusak ringan.

Di Italia hanya ada delapan masjid dengan arsitektur bangunan yang jelas seperti kubah dan menara. Ada juga 800 pusat kebudayaan Islam dan mushalla di negara itu, beberapa di antaranya terletak di garasi, basement, dan gudang, dan dipakai sebagai ruang shalat atau kegiatan pendidikan dan budaya.

Kelompok anti-Islam dan anti-imigran, PEGIDA memprotes pembangunan sebuah masjid di kota Enschede, Belanda. Para anggota PEGIDA memasuki lokasi pembangunan masjid baru di Enschede dan kemudian membuat 23 potong kayu salib dan mengecatnya dengan warna merah darah, secara harfiah tampak seperti darah babi.

PEGIDA Belanda dalam sebuah pesan di media sosial menulis, "Islam berarti kebencian dan terorisme. Oleh karena itu, hari ini kami menunjukkan reaksi terhadap pembangunan sebuah rumah kebencian di Enschede. Kami akan melakukan apapun untuk melawannya."

PEGIDA adalah singkatan dari Orang Eropa Patriotik Melawan Islamisasi Barat. Gerakan ini muncul pada Oktober 2014 di kota Dresden, Jerman. Tujuannya adalah menolak kedatangan imigran ke Barat dan mencegah bertambahnya populasi Muslim di negara-negara Eropa. (RM)

Tags

Komentar