Pertumbuhan pesat media-media baru membuat penyebaran informasi dan isu-isu politik terjadi begitu cepat. Perkembangan teknologi informasi dan kemajuan internet telah menjadi ciri utama era globalisasi.

Kemajuan teknologi membawa pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan negara-negara dunia. Oleh karena itu, keamanan global juga menemukan makna baru seiring meningkatnya ancaman di dunia siber dan keprihatinan kolektif negara-negara dunia tentang ancaman tersebut.

Revolusi komunikasi dan kehadiran media-media sosial telah menyebabkan pertumbuhan besar-besaran Neo-Salafis ekstrim di dunia. Dengan kata lain, pasukan maya takfiri – tanpa perlu sebuah pusat koordinasi – melancarkan aksinya secara serentak dari “Imarah Islam.” Gerakan takfiri khususnya ISIS secara agresif memanfaatkan media sosial dan internet untuk memperluas pengaruhnya di dunia dan menciptakan teror digital.

Internet dan media sosial sangat cepat dalam mempengaruhi opini publik, karena dunia maya memiliki banyak peselancar dan pengguna dari semua kalangan usia. Sejak memulai operasinya, kelompok teroris ISIS memanfaatkan media sosial dan internet untuk meracuni opini publik dan menyasar anak muda.

ISIS sedikitnya mengejar tiga tujuan di media sosial. Dengan memposting adegan kekerasan dan aksi bejatnya di dunia maya, ISIS mencoba menciptakan ketakutan di benak masyarakat. Kelompok teroris itu – dengan cara merilis video pendudukan wilayah baru di situs resminya – ingin membangun image tentang kekuatannya. Di samping itu, ISIS memamerkan aksi-aksi yang disebut kegiatan kemanusiaan, di mana sepenuhnya berbeda dengan propaganda pola pertama.

Dengan perilaku ganda dan penuh kontradiksi ini, ISIS ingin unjuk kekuatan dan meraih popularitas relatif di tengah masyarakat dunia. Sebagai contoh, ISIS secara bersamaan memposting video pemenggalan dan kegiatan pasukannya yang sedang membagi-bagikan susu kepada anak-anak atau tengah bermain bersama mereka. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ISIS mencoba menciptakan ketakutan di tengah masyarakat sekaligus menarik simpati mereka. Dengan cara ini mereka berharap dapat merekrut anggota yang lebih banyak.

ISIS memilih media untuk mencapai tujuan yang sarat kontradiksi itu dan untuk menarik anggota dari kalangan anak muda, mereka meluncurkan sebuah video game yang mengajak para gamer menghancurkan pasukan Irak dan AS. Game besutan ISIS ini merupakan modifikasi dari game kriminal GTA yang cukup populer di dunia dan mensimulasikan semua taktik yang dipakai ISIS untuk melumpuhkan lawan-lawannya. Dalam permainan ini, para anggota ISIS meneriakkan kalimat “Allahu Akbar” sambil memenggal kepala orang-orang yang menentang mereka. Game ini secara keseluruhan memperagakan konsep jihad ala ISIS.

ISIS juga meluncurkan sebuah aplikasi mirip Twitter yang diberi nama Fajr al-Bashaer. Dari aplikasi inilah, ISIS mengirim berita dan uptade perjalanan operasi teror mereka di Suriah dan Irak. Diperkirakan ratusan dan bahkan ribuan orang telah berlangganan aplikasi ini di smartphone berbasis Android. Meski mengadopsi pemikiran yang kolot, tapi ISIS menunjukkan ketertarikan yang luar biasa untuk penggunaan jejaring sosial dan media-media baru.

Kelompok ini diperkirakan punya ribuan akun di Twitter dan dan media sosial lainnya seperti, Telegram. Mereka melakukan propaganda, menyemangati anak muda untuk berbagung dengan ISIS, menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengguna, melakukan wawancara dengan anggota baru, menyebarkan informasi perekrutan tenaga ahli dan mengkampanyekan jihad seks. Dalam pola operasinya, ISIS awalnya mengajak para pendatang baru untuk merapat ke salah satu satu negara Turki, Yordania, dan Uni Emirat Arab, dan setelah memperoleh pelatihan yang cukup, mereka kemudian akan dikirim ke Suriah dan Irak.

Negara-negara Barat sudah lama menyuarakan keprihatinan tentang keberangkatan orang-orang dari sejumlah negara dunia untuk berperang bersama kelompok teroris di Suriah, Irak, Somalia, dan Mali, tapi mereka tidak mengambil langkah serius untuk menghentikan tren itu. Pembiaran ini mendorong banyak pemuda Eropa untuk bergabung dengan ISIS. Menurut sejumlah data termasuk laporan Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik, pemuda yang bergabung dengan ISIS sejak tahun 2013-2015 menunjukkan tren peningkatan. Pada 2013, sebanyak 1937 teroris asing memutuskan bergabung dengan ISIS.

Laporan Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik mencatat bahwa antara 5 sampai 11 ribu teroris asing bergabung dengan ISIS pada tahun 2014. Laporan lain pada tahun 2015 menyebutkan bahwa lebih dari 20 ribu teroris asing memilih menjadi anggota ISIS. Data terbaru memperkirakan jumlah orang dari negara-negara Eropa Barat yang sudah memilih ISIS hampir mencapai 4 ribu orang.

Isu terorisme telah menjadi salah satu tantangan utama bagi negara-negara Barat selama beberapa tahun terakhir. Namun, fokus mereka lebih banyak tertuju pada ISIS sebagai sebuah organisasi teroris terkuat di dunia. Selain sama seperti semua organisasi teroris lain yang bisa menciptakan kerusakan untuk Barat, ISIS menyimpan kekuatan lain yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok sejenisnya.

Meskipun pusat operasi dan lahan genosida ISIS berada di jantung Timur Tengah yaitu Suriah dan Irak, namun tidak ada yang bisa memungkiri bahwa grup monster itu memiliki pengaruh global dan ancaman yang ditimbulkan dari fenomena ini mulai dirasakan dari timur Cina sampai Amerika Serikat.

Kehadiran teroris asing di kamp ISIS sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Para alumni medan perang Suriah dan Irak itu bisa menjadi ancaman potensial bagi Barat. Persoalan di sini adalah bagaimana mengidentifikasi orang-orang yang bisa menciptakan petaka ini? Semakin lama mereka bertempur di Suriah, maka mereka semakin siap untuk melancarkan operasi teror di negara asalnya. Kehadiran ribuan warga Perancis, Inggris, Jerman, Austria, dan lain-lain di tengah ISIS membuat dinas-dinas keamanan Barat diliputi ketakutan yang luar biasa.

Kehadiran pemuda Barat di kamp ISIS tentu saja menjadi tantangan besar bagi para pejabat keamanan Uni Eropa. Serangan teror di Perancis pada November 2015 menunjukkan bahwa masing-masing dari para teroris itu dapat menyeberangi perbatasan Schengen dan kemudian melancarkan teror di setiap sudut di Benua Biru itu. Celakanya lagi, sebagian teroris asal Eropa sampai sekarang belum diidentifikasi oleh dinas-dinas keamanan Barat. Sebagian dari mereka menyusup ke Suriah dan Irak melalui negara ketiga seperti Turki. Situasi seperti ini tentu saja mempersulit upaya identifikasi mereka oleh otoritas Barat.

Ancaman teroris ISIS terhadap Uni Eropa memiliki dimensi yang berbeda. Pertama, perkembangan ISIS di Timur Tengah dengan sendirinya akan menjadi pukulan serius atas klaim-klaim Barat terkait perang kontra-terorisme. ISIS sekarang memperoleh dukungan dari banyak organisasi teroris di berbagai belahan dunia dan memperlebar wilayah geografi ancamannya. Kedua, ISIS lewat sebuah pernyataan pada Januari 2014 secara praktis mengancam Barat dengan serangan langsung. Dan ketiga, kepulangan anasir ISIS ke negara mereka masing-masing di Eropa, tidak hanya akan membantu penyebaran ideologi takfiri di daerah-daerah rawan seperti Balkan, tapi juga bisa mempercepat terbentuknya sel-sel teroris di wilayah Eropa.

Jelas bahwa akar perkembangan ISIS harus ditelusuri dalam dukungan negara-negara Barat terhadap kelompok-kelompok takfiri dalam krisis Suriah. Penumpasan teroris juga harus menjadi satu paket dengan penyelesaian krisis di negara Arab itu. Jadi untuk menyelesaikan kemelut Suriah sebagai langkah kunci, Eropa perlu memainkan peran konstruktif dan serius.

Peran positif ini tentu harus meninggalkan segala bentuk campur tangan, karena pengalaman intervensi Barat pimpinan AS di kawasan – mulai dari Irak dan Afghanistan sampai Libya serta bantuan mereka kepada teroris di Suriah – tidak menghasilkan sesuatu kecuali instabilitas dan kekacauan serta pertumbuhan kelompok-kelompok teroris semisal ISIS. Uni Eropa bisa memainkan peran lain ketimbang intervensi dan membantu terbentuknya sebuah tatanan regional serta mendorong para pemain untuk mengambil posisi yang tepat dalam tatanan itu.

Tags

Feb 08, 2016 19:07 Asia/Jakarta
Komentar