Amerika Serikat di tiga sektor militer, politik dan perdagangan menilai kepentingannya tergantung pada proyek virus Ebola.

Berbagai media massa Afrika membongkar peran kental Amerika dan Afrika Selatan di era pemerintahan Apartheid di produksi dan penyebaran virus mematikan Ebola demi meraih tujuan busuk genosida di benua Afrika. Media Guinea juga meminta pemerintah negara ini mencegah kedatangan militer AS ke negara ini dengan dalih memerangi virus Ebola. 85 persen dari 10 juta penduduk Guinea adalah muslim dan sisanya mayoritas Kristen. Guinea merupakan salah satu pusat penyebaran Ebola dan sepertinya Amerika dengan ambisi yang telah ditentukan dan selama satu periode tertentu berupaya mengejar kepentingannya di benua Afrika.

Mencermati skala penyebaran virus Ebola di Afrika yang begitu luas, hal ini menunjukkan bahwa virus tersebut di negara-negara yang tercemar, meski mereka dikategorikan negara miskin, namun sejatinya mereka mendapat anugerah dari Allah berupa kekayaan alam melimpah. Tentu saja kekayaan alam ini mengundang ketamakan Amerika Serikat. Selain itu, Washington pun berusaha keras membendung pengaruh ekonomi Cina dan Rusia di kawasan ini.

Realitasnya adalah persaingan senjata dua kekuatan besar Uni Soviet dan Amerika Serikat di era perang dingin telah mendorong para ilmuwan menciptakan senjata biologi dari virus. Amerika Serikat tanpa mengisyaratkan ujicoba di laboratorium rahasianya untuk memproduksi virus mematikan Ebola, mengklaim bahwa seorang sumber terpercaya dan mengetahui program militer Uni Soviet pergi ke Amerika, ia telah mengkonfirmasi keputusan Uni Soviet untuk memanfaatkan virus Ebola di hulu ledak senjatanya. Setelah itu, pemerintah dan militer Amerika giat memproduksi vaksin wabah ini.

Republik Guinea adalah negara terkaya, namun juga termiskin di benua Afrika. Negara ini memiliki sepertiga cadangan bauksit (bahan biji almunium) dan menjadi negara kedua produsen besar bahan mentah ini di dunia. Guinea juga memiliki cadangan emas, intan dan biji besi. Bahkan di berbagai wilayah dan titik di ibukota atau wilayah lain di negara ini, partikel besi mudah disaksikan. Pendapatan negara ini dihasilkan dari tambang kekayaan alam tersebut. Oleh karena itu, diprediksikan selama sepuluh tahun ke depan akan ada investasi sebesar 50 miliar dolar di Guinea. Dalam hal ini, persaingan terbesar untuk investasi di Guinea adalah antara Cina dan Amerika Serikat.

Negara-negara seperti Guinea, Liberia, Mali, Seirre Leone dan berbagai negara lainnya di Afrika dapat menjadi target menggiurkan untuk mendapat bahan baku murah namun berkualitas tinggi seperti bauksit, tembaga, emas, besi dan lain-lainnya. Liberia dan Seirre Leone juga termasuk negara kaya akan biji besi, intan dan titanium. Oleh karena itu, selain AS, Cina selama beberapa tahun terakhir juga menunjukkan perhatiannya yang serius terhadap benua Afrika. Di tahun 2006, petinggi Cina menyatakan ingin menimbun tembaga, aluminium, biji besi dan berbagai bahan tambang lainnya.

Oleh karena itu, volume perdagangan Cina di Afrika dari 10 miliar dolar di tahun 2000 melonjak menjadi 166 miliar dolar di tahun 2012. Dengan demikian, Cina menjadi mitra dagang pertama Afrika. Masalah ini tentu saja membuat guncang Amerika Serikat. Cina juga tercatat sebagai investor utama di benua Afrika di tahun 2012 dengan nilai investasi lebih dari 15 miliar dolar.

Pandangan istimewa Beijing kepada Afrika, khususnya barat benua ini dari satu sisi juga didorong oleh adanya cadangan minyak sebesar 60 miliar barel. Mengingat persaingan minyak semakin tajam, untuk meragamkan sumber energi dan jaminan stabilitas energi, pemerintah Barat, khususnya Amerika Serikat berusaha sebisa mungkin menjauhkan Cina dari kekayaan Afrika dan akhirnya Washington mampu memonopoli kekayaan alam benua hitam ini. Untuk mensukseskan ambisinya ini, Amerika memanfaatkan beragam sarana termasuk virus Ebola.

Oleh karena itu, tak heran jika kita menyaksikan proses pengiriman pasukan Amerika ke Liberia dengan dalih memerangi virus Ebola atau penempatan pangkalan drone di berbagai wilayah terpencil seperti Niger, Djibouti, Burkina Faso dan Sudan Selatan serta dukungan intelijen Amerika Serikat kepada pasukan Perancis di Mali. Dengan demikian salah satu faktor yang mendorong Washington mengupayakan perluasan pengaruh Barat di Afrika adalah mengeruk sumber alam tersebut dan dari sisi lain mencegah pengaruh Cina di kawasan ini.

Amerika Serikat dengan memanfaatkan Ebola, mulai mengirim pasukannya ke kawasan ini dengan kedok bantuan memerangi penyebaran Ebola, menjaga perdamaian atau tim medis di Afrika Barat. Sejatinya Amerika berupaya memanfaatkan krisis ini untuk menciptakan sebuah posisi kokoh di benua Afrika guna mengepalai US Afrika Command (AFRICOM) yang dibentuk tahun 2008 demi melancarkan operasi imperialis Washington di kawasan ini. Liberia merupakan satu-satunya negara Afrika yang sejak lama  siap menjadi tuan rumah AFRICOM.

Wabah Ebola menjadi dalih paling tepat untuk menempatkan ribuan pasukan Amerika dan kehadiran permanen mereka. Presiden Amerika Serikat pada 16 September 2014 menyatakan, akan dibentuk sebuah pusat komando bersama guna mengkoordinir dan mengawasi operasi bantuan Amerika di Liberia. Tak lama kemudian ambisi ini terwujud dan terlaksana tanpa adanya sensitifitas serius di opini publik.

Sejatinya Liberia merupakan negara paling buncit di list negara-negara Afrika yang sepanjang beberada dekade lalu mendapat kiriman personil dan peralatan militer dari Amerika Serikat. Operasi pertama dan terpenting AFRICOM di benua Afrika adalah bombardir AS dan NATO ke Libya di tahun 2011 yang berujung pada tergulingnya Muammar Gaddafi.

Di tengah-tengah eskalasi ancaman akibat penyebaran virus Ebola, Amerika dengan dalih menanggulangi virus mematikan ini dan bantuan cepat kemanusiaan di Afrika barat, mengkonfirmasikan pengiriman empat ribu pasukannya ke kawasan. Kongres di bulan Desember 2014 meratifikasi bujet sebesar 5,4 miliar dolar untuk menanggulangi penyebaran virus Ebola baik di dalam maupun di luar negeri. uniknya petinggi AS pasca ditemukannya sebuah kasus Ebola di Texas menginstruksikan pembentukan sebuah tim medis guna menangani virus ini di seluruh wilayah Amerika serta harus dalam kondisi siaga penuh. Namun terkait virus Ebola di Afrika yang menyebabkan kematian ribuan orang, Washington merasa cukup mengirim empat ribu tentaranya ke kawasan.

Oleh karena itu sepertinya Washington tengah berupaya meningkatkan pengaruh militer dan politiknya di Guinea, Liberia dan mencegah maraknya pengaruh Cina di tambang-tambang negara tersebut. Selain itu, AS ingin memperluas hubungan perdagangannya dengan negara-negara kaya Afrika. Sejatinya dari sudut pandang strategi AS, membangun dan mempertahankan pangkalan militer di berbagai wilayah kaya Afrika di saat militeralisasi untuk memperluas wilayah dan imperialisme telah kehilangan legalitasnya di dunia akibat tekanan opini publik, maka dengan dalih kemanusiaan dan memerangi wabah virus mematikan, ambisi ini masih tetap dapat dipertahankan.

Sejatinya dapat dikatakan bahwa Barack Obama, presiden Amerika dengan dalih menanggulangi Ebola hanya merasa cukup mengirim pasukannya ke Afrika, namun yang benar adalah hanya tim medis dengan kemampuan tinggi yang mampu membunuh virus Ebola dan bukannya senjata. Penyidikan membuktikan bahwa Gedung Putih berusaha menjegal rival-rivalnya di tingkat internasional semakin kuat melalui beragam kebijakan. Apalagi Cina yang tercatat sebagai investor terbesar asing di dunia hingga akhir dekade kedua abad ini merupakan rival utama Washington di konstelasi internasional.

Merebaknya wabah SARS di Cina terjadi ketika Barat mengalami resesi ekonomi dan kondisi ini mampu menghambat laju ekonomi Beijing. Sementara penyebaran virus Ebola diharapkan mampu mendorong investor Cina lari dan posisi kosong yang ditinggalkan di Afrika akan diisi oleh perusahaan Amerika.

Sementara di sudut pandang kepentingan politik, penyebaran wabah Ebola bagi mesin-mesin investasi Amerika adalah menciptakan citra kemanusiaan negara ini di media internasional. Meningkatkan popularitas Amerika di mata opini publik dunia termasuk Afrika menjadi tujuan penting diplomasi global Washington. Hal ini dikarenakan Gedung Putih menyadari bahwa legalitas yang timbul akibat diplomasi umum dapat mensukseskan ambisi Amerika tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Sejatinya dibalik kedok sebuah misi kemanusiaan dengan tujuan menangani penyebaran virus Ebola, pemerintah Obama memanfaatkan wabah ini untuk menciptakan peluang politik dan militer yang kuat di benua Afrika. Sama seperti ketika Washington memanfaatkan vaksin Ebola dan sikapnya bersama Kanada yang enggan menyerahkannya kepada sekelompok negara Amerika Latin yang tidak sejalan dengan Gedung Putih, tentunya dengan berbagai dalih.

Analisa global terhadap berbagai bukti dan dokumen yang ada soal virus Ebola menunjukkan bahwa Amerika Serikat memanfaatkan wabah mematikan ini untuk merealisasikan tujuan ekonomi, politik dan militernya di benua Afrika. Kini AS melalui senjata biologinya telah mempersiapkan kehadiran luasnya di Afrika. Ujicoba militer AS dengan menyebar virus mematikan ke berbagai wilayah ditujukan untuk permainan propaganda dan media guna menjalankan tujuan yang telah digariskan sebelumnya. Sepertinya kebijakan Amerika ini tidak terbatas di benua Afrika, dan negara ini kemungkinan besar serta di masa mendatang akan memanfaatkan bioterorisme untuk mensukseskan kepentingannya.
Feb 08, 2016 19:22 Asia/Jakarta
Komentar