Sebuah pusat Amerika Serikat di salah satu laporannya mengungkapkan terjadinya peningkatan jumlah korban warga sipil di Afghanistan akibat serangan udara militer AS. Open Society dalam laporannya menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak memperdulikan dampak akibat serangan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil Afghanistan.

Laporan Open Society juga menyinggung ketidakpedulian pasukan AS selama 15 tahun terakhir terhadap akurasi sasaran dalam serangan udara yang menyebabkan begitu banyak korban dari warga sipil. Laporan Open Society tersebut disertai deretan data faktual. NGO ini menyebut 65 persen korban serangan udara militer AS di tahun 2008 adalah warga sipil Afghanistan. Di tahun yang sama, misi bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) melaporkan, sebanyak 828 warga sipil Afghanistan tewas akibat serangan udara AS.

 

Media Barat dan pusat riset di AS terkadang menyinggung dampak destruktif invasi militer Amerika Serikat terhadap Afghanistan selama 15 tahun disertai deretan data lapangan. Kesimpulan dari berbagai laporan tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat sejak menginvasi Afghanistan di tahun 2001 hingga kini telah melakukan berbagai kejahatan, bahkan lebih mengerikan dari tentara merah Uni Soviet yang pernah menguasai Afghanistan sebelumnya. Tentu saja laporan Open Society bukan yang pertama dari NGO AS sendiri tentang kejahatan pemerintah Washington dan NATO terhadap warga Afghanistan.

 

Laporan ini hanya sebagian kecil dari gunungan fakta di lapangan yang lebih besar. Ironisnya, sebagian realitas getir serangan militer AS di Afghanistan disensor oleh media Barat. Misalnya, pembantaian berdarah terhadap 16 warga Afghanistan yang dilakukan oleh seorang tentara AS bernama Robert Bales di Panjway, Kandahar di tahun 2013. Dari jumlah korban yang ditembak mati 9 di antaranya adalah anak-anak Afghanistan. Untuk meredam kemarahan rakyat Afghanistan militer Amerika mengalihtugaskan Bales ke Kuwait dan dari sana ditarik ke Amerika Serikat.

 

Jurubicara Pentagon mengelak tuntutan parlemen Afghanistan untuk mengadili secara terbuka Robert Bales di negara itu dan menyatakan pengadilan militer AS akan memutuskan hukuman terhadap Bales sesuai aturan yang berlaku di Amerika. Keluarga 16 orang korban jiwa pembantaian yang dilakukan Bales menuntut tentara Amerika itu dieksekusi mati di Afghanistan.

 

Pentagon dan NATO mengklaim pembantaian massal itu hanya terjadi oleh satu orang pelaku, tapi saksi mata di lapangan mengungkapkan keterlibatan sejumlah tentara lain dalam pembantaian warga sipil. Saksi mata menyebut setidaknya 15 orang tentara Amerika yang berada dalam kondisi mabuk memasuki desa Panjway. Mereka mengancam warga dan menimbulkan keonaran di sana. Investigasi lapangan terhadap jenazah korban tewas menunjukkan sepak terjang biadab tentara Amerika. Mereka menebarkan bahan kimia di atas jenazah sebagian korban dan membakarnya.

 

Hamid Karzai yang menjabat sebagai Presiden Afghanistan saat itu menilai kejahatan tentara AS terhadap warga negaranya di Kandahar tidak bisa ditolerir. Pada saat yang sama, rakyat Afghanistan juga sangat marah terhadap sepak terjang AS seperti membakar al-Quran dan perilaku destruktif lainnya. Mereka berunjuk rasa menuntut pengusiran tentara Amerika dari negaranya.

 

Tidak hanya itu, pembunuhan warga sipil Afghanistan dijadikan hiburan oleh tentara Amerika Serikat. Pemotongan jari korban, peledakan rumah warga sipil dan pelecehan terhadap jenazah korban hanya sebagian dari deretan kejahatan tentara AS di Afghanistan. Tapi ironisnya, sebagian dari para pelaku tersebut tidak dihukum dan kasusnya dipetieskan.

 

Tidak hanya itu, berbagai laporan mengindikasikan penggunaan bahan radio aktif oleh militer AS di Afghanistan. Doktor Muhammad Dawood Mirgi dalam bukunya Afghanistan Pasca Demokrasi membongkar penggunaan uranium yang diperlemah oleh tentara AS di Afghanistan. Observasi langsung yang dilakukan oleh penulis buku ini terhadap anak-anak korban menunjukkan tanda-tanda seperti kelahiran cacat, penderita diabetes meningkat, kematian tanpa indikasi fisik akibat operasi dan terjadi lekatan burung di pohon.

 

Seluruh rangkaian tanda-tanda tersebut memperkuat dugaan penggunaan uranium yang diperlemah sebagai senjata yang dipergunakan tentara Amerika di Afghanistan. Penggunaan uranium yang diperlemah tersebut menyebabkan masalah genetika, cacat bawaan, kanker, serangan terhadap sistem kekebalan tubuh dan penyakit serius lainnya yang menimpa warga sipil Afghanistan.

 

Mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai menyatakan bahwa kejahatan pasukan AS terhadap warga sipil tidak bisa dimaafkan. Karzai menyebut pembunuh perempuan dan anak-anak sebagai teroris. Kekebalan hukum pasukan agresor AS di Afghanistan menyebabkan pengadilan di negara ini tidak bisa mengadili seorang pun pelaku kejahatan dari pihak tentara AS. Akibatnya, dengan leluasa militer AS dan juga Inggris melanjutkan berbagai kejahatan terhadap warga sipil. Untuk melepaskan tentara Amerika Serikat dari hukuman berat, Pentagon biasanya mengeluarkan pernyataan bahwa pelaku mengalami masalah psikologis dan penyakit mental.

 

Koran Denmark, Dagbladet Information membongkar dokumen tentang penggunaan bom, roket dan granat yang memakai fosfor putih oleh pasukan NATO yang dipimpin Amerika di Afghanistan. Senjata tersebut dipergunakan oleh pasukan NATO untuk menyerang permukiman warga sipil Afghanistan. Padahal jelas sekali aturan internasional memasukkan fosfor putih sebagai bahan berbahaya yang dilarang.

 

Dilaporkan Amerika Serikat menggunakan sekitar 20 hingga 50 roket yang menggunakan fosfor putih di Afghanistan. Korban yang menjadi sasaran bahan berbahaya ini mengalami kebakaran kulit serius. Ketika oksigen sampai ke tempat luka, api semakin memasuki tubuh korban.

 

Kejahatan lain yang dilakukan komandan senior militer Amerika Brigjen Jeffrey Sinclair yang memaksa korban melakukukan hubungan seksual dengannya di bawah ancaman, membawa minuman keras ketika bertugas, memiliki gambar porno dan melakukan penyalahgunaan kartu kredit pemerintah untuk kepentingan pribadi di Afghanistan.

 

Setelah kasus ini terbongkar, ia dipindahtugaskan ke pangkalan militer Bragg. Jurubicara pangkalan militer Bragg, Kevin Arata membenarkan seluruh tudingan yang disampaikan kepada Sinclair. Tapi anehnya, meski terbukti bersalah, ia tidak dihukum, bahkan tidak ada investigasi serius dilakukan untuk menyelidiki kejahatan Sinclair di Afghanistan.

 

Rangkaian kejahatan militer AS di Afghanistan tidak hanya berhenti di sana. Helikopter Amerika menyerang rumah sakit yang dikelola oleh dokter lintas batas di kota Kunduz. Serangan tersebut menyebabkan 42 orang pasien dan petugas medis rumah sakit tewas. Sebagian orang lainnya cedera. Ironisnya, dengan enteng Amerika Serikat mengatakan bahwa serangan tersebut kesalahan bidik yang biasa dilakukan oleh manusia. Tapi para pengamat meragukannya. Sebab Amerika Serikat memiliki perlengkapan militer yang canggih, termasuk keberadaan satelit yang akurat. Oleh karena itu, para pengamat menilai serangan tersebut dilakukan secara sengaja dan terorganisir. Pihak dokter lintas batas menuntut investigasi terhadap masalah ini dan menyeret pelakunya ke meja hijau.

 

Radio Jerman menyampaikan laporan mengenai serangan udara terhadap rumah sakit di Kunduz yang dilakukan helikopter militer AS. Serangan tidak berperikemanusiaan ini menyebabkan 180 pasien dan petugas kesehatan beserta karyawan rumah sakit tewas dan cidera. Durasi pemboman berlangsung sekitar 30 menit. Meskipun ada peringatan, tapi militer AS tetap melanjutkan serangan tersebut.

 

Fakta ini menunjukkan dengan jelas lemahnya klaim militer Amerika yang menyebut serangan terhadap rumah sakit Kunduz kesalahan target. Hingga kini begitu banyak fakta yang bisa diajukan untuk menyeret militer Amerika sebagai penjahat perang di Afghanistan. Pada saat yang sama, keluarga korban tidak bisa memperoleh keadilan yang menjadi haknya.

 

Sejak tahun 2009 hingga 2013, sekitar 1100 warga sipil tewas dalam serangan udara malam hari pasukan NATO dan Amerika Serikat di Afghanistan. Sementara keluarga korban tidak bisa menggugat pelaku serangan tersebut. Berdasarkan kesepakatan antara pemerintah Afghanistan di era Karzai dengan militer Amerika, kedua pihak sepakat bahwa serangan udara militer Amerika harus dilakukan dengan koordinasi militer Afghanistan dan tidak dilakukan di malam hari. Tapi faktanya, militer AS tidak menepati komitmen tersebut. Lebih dari itu, Barack Obama justru menambah jumlah tentara AS di Afghanistan untuk mendukung serangan udara di negara itu.

Tags

Jul 28, 2016 19:48 Asia/Jakarta
Komentar