Kurang dari dua bulan pasca pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, kini isu tentang impeachmentnya semakin deras. Sebagian penentang keras Presiden Amerika Serikat berpendapat bahwa Trump tidak memiliki kelayakan sebagai presiden negara ini dan dalam 50 hari sejak kepemimpinannya, seluruh kebijakannya dapat dijadikan pijakan untuk meng-impeachmentnya. Akan tetapi apakah segala langkah impeachment untuk Trump memang benar-benar sudah siap atau belum?

Berdasarkan teks UUD AS, proses impeachment dapat dilakukan terhadap seluruh pejabat federal termasuk presiden. Meski demikian, sama seperti di banyak negara dunia, para pejabat federal tidak dapat di-impeachment hanya karena perbedaan pendapat politik atau karena kritik atas kinerja mereka. Impeachment adalah tahap akhir dalam proses hukum untuk sebuah kasus yang melibatkan para pejabat Amerika Serikat. Dengan kata lain, jika seluruh anggota Kongres Amerika Serikat berselisih pendapat tentang  kinerja presiden, maka dia tidak dapat tersentuh oleh impeachment.

 

Langkah awal dalam hal ini adalah pemunculan gugatan hukum terhadap para pejabat federal Amerika Serikat. Pada hakikatnya jika para pejabat federal tidak melakukan kesalahan apapun termasuk kasus pidana besar, maka mereka tidak akan terusik dengan gugatan kasus. Kejahatan yang dimaksud antara lain, korupsi, suap dan pengkhianatan, serta kejahatan besar sosial atau memberikan kesaksian palsu. Tanpa gugatan seperti itu, impeachment terhadap para pejabat federal AS termasuk presiden tidak mungkin dilakukan. 

 

Namun perang pengaruh dan kekuasaan antara presiden dan penentangnya dalam hal ini sangat memainkan peran besar. Dengan kata lain, jika para penentang presiden Amerika Serikat merasa bahwa presiden telah mengambil langkah-langkah yang merugikan negara atau bahkan presiden dinilai tidak dapat menjalin interaksi proporsional dengan para penentangnya, maka tidak tertutup kemungkinan dia akan terseret ke pengadilan dengan hanya masalah-masalah sepele. Sebagaimana impeachment yang diberlakukan terhadap Bill Clinton, karena skandal seksualnya.

 

Tradisi politik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebelum impeachment dimulai, maka harus ditetapkan seorang jaksa khusus dalam hal ini. Mengingat Jaksa Agung AS adalah orang yang ditunjuk oleh presiden, maka penyerahan berkas impeachment presiden kepadanya tidak masuk akal. Oleh karena itu, Presiden AS akan ditekan untuk menentukan seorang jaksa khusus. Jaksa ini akan bekerja diluar radius jangkauan Jaksa Agung AS. Dia akan menyusun berkas, menyelidiki dan bahkan menginterogasi presiden.

 

Apabila dalam proses penyelidikan ditemukan bukti-bukti penyimpangan besar oleh Presiden AS, maka berkasnya akan dilimpahkan kepada komisi hukum di parlemen untuk tahap final keputusan. Jika para panggota komite ini menetapkan penyelidikan lebih lanjut, maka berkasnya akan kembali diserahkan kepada para anggota parlemen. 

 

Pada tahap ini, anggota parlemen yang mencapai 435 orang akan mengambil keputusan apakah berkas ini perlu untuk disidangkan atau tidak. Namun jika para anggota parlemen memutuskan untuk menyelidiki lebih dalam, maka berkas hukum terhadap Presiden AS ini akan diserahkan kepada Senat untuk dibahas lebih lanjut.

 

Pembahasan kasus gugatan terhadap Presiden Amerika Serikat di Senat adalah tahap akhir dari sebuah proses panjang impeachmentnya. Pada tahap ini, akan digelar sidang impeachment presiden di Dewan Tinggi Federal AS. Dalam sidang-sidang tersebut, jaksa khusus akan mengemukakan tuduhan terhadap presiden dan presiden akan memberikan mengemukakan pembelaannya. Para senator akan mengawasi dan memonitor proses tersebut. Dalam sidang tersebut, para senator akan berstatus seperti dewan juri. Di akhir sidang, para senator akan menetapkan apakah presiden bersalah atau tidak. Jika mayoritas anggota senat menyatakan presiden bersalah, maka presiden harus meletakkan jabatannya.

 

Dalam sejarah Amerika Serikat, hingga kini telah digelar 16 sidang impeachment untuk para pejabat federal negara ini. Jumlah tersebut melibatkan seorang senator, seorang menteri, 12 hakim federal dan dua presiden. Andrew Johnson pada abad 19 dan Bill Clinton pada abat 20 adalah dua presiden AS yang mengalami impeachment. Johnson di-impeachment karena tuduhan pengkhianatan dalam menindak negara-negara bagian AS yang terlibat perang dalam negeri, sementara Clinton di-impeachment karena skandal asusila. Keduanya diberhentikan dari jabatan mereka dengan selisih hanya satu suara lebih banyak dibanding para penentang impeachment.

 

Richard Nixon pada dekade 1970 juga terancam impeachment soal kasus Watergate. Akan tetapi sebelum para anggota parlemen menyusun berkas soal tuduhannya, Nixon terlebih dahulu mengundurkan diri dan dia menjadi Presiden AS pertama yang mengundurkan diri.

 

Sekarang, apakah impeachment untuk Trump sudah benar-benar dapat dilakukan? Jawaban pertanyaan ini negatif untuk sementara ini. Alasannya adalah karena hingga kini tidak ada indikasi tentang tindakan kejahatan, pidana atau kesalahan besar yang dilakukan Trump. Kedua karena belum ada berkas gugatan terhadap Trump dan tidak ada jaksa khusus yang ditetapkan untuk menindaklanjutinya. Ditambah lagi bahwa mayoritas mayoritas di Kongres dipegang oleh Republikan. Karena perintah untuk pembentukan komite-komite hukum ada di tangan Republikan.

 

Meski ada nama-nama besar penentang Trump di partai Republikan termasuk Senator John McCain dan Lindsay Graham, namun sangat kecil kemungkinannya para pemimpin partai ini menyetujui impeachment presiden. Namun masalah ini dapat setiap saat berubah, dan jika memang terdapat sedikit saja indikasi penyimpangan potensial oleh Presiden Amerika Serikat, maka permainan akan berubah pula.

 

Ketika itu Republikan pun akan mengayunkan kapak UUD terhadap Trump demi menjaga kredibilitasnya di opini publik. Saat itu, bahkan seluruh anggota Republikan akan menyetujui proses impeachment Turmp. Karena dalam pemilu sela pada tahun 2018 nanti, akan mampu merebut suara mayoritas di Kongres. Pada saat itu, akan terbuka peluang bagi Demokrat di Kongres untuk menyusun rencana impeachment Trump.

 

Meski demikian, pembahasan hubungan terselubung tim keamanan Donald Trump, sebelum dia melenggang ke Gedung Putih, memberikan potensi bagi para penentang Trump untuk mencoba keberuntungan mereka dalam upaya melengserkan Trump. Jika penyelidikan menunjukkan bahwa Trump terlibat dalam kasus penipuan Michael Flynn soal kasus kontak telepon dengan Duta Besar Rusia di Washington terbuktu, maka masalah ini akan menjadi ancaman besar baginya yang berpotensi berujung pada impeachment.

 

Di sisi lain, tampaknya para penguasa Republikan di Kongres Amerika Serikat memilih sikap keras soal kasus dengan Rusia dan hukuman untuk negara itu. Sebuah perspektif yang ditentang keras oleh Gedung Putih. Jika para pejabat Gedung Putih ingin menjalin interaksi persahabatan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, tanpa memperhatikan peringatan dari Kongres yang dikontrol oleh Republikan, maka kemungkinan besar proses hukum dan politik di AS akan sangat merugikan Trump serta berujung pada impeachmentnya.

 

Tergerusnya purnawirawan jenderal Michael Flynn, sebagai penasehat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, karena kontak teleponnya dengan pihak Rusia, dapat menjadi alarm bahaya bagi Trump dan para pendukung rencana rekonsiliasi dengan Rusia, mengingat isu tersebut merupakan garis merah dan isu vital dalam garis besar poiltik AS.

Tags

Mar 16, 2017 13:42 Asia/Jakarta
Komentar