Isu kemerosotan moral di Amerika Serikat, semakin mencuat setelah hasil jajak pendapat terbaru dirilis beberapa waktu lalu oleh lembaga polling Amerika, Gallup. Dalam hasil jajak pendapat tersebut, 77 persen responden percaya, nilai-nilai moral di tengah masyarakat Amerika jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Sementara 81 persen responden yang lain mengatakan bahwa nilai-nilai moral masyarakat Amerika dibandingkan sebelumnya berada pada kondisi menengah atau rendah.

Pada tahun 2013, 40 persen warga Amerika yang ikut dalam jajak pendapat meyakini bahwa nilai-nilai moral di negaranya lemah dan di tahun 2017 warga Amerika yang berpendapat serupa jumlahnya meningkat jadi 45 persen. Saat ini, prosentase warga Amerika yang menganggap nilai-nilai moral di negaranya sedang-sedang saja menurun dari 45 persen menjadi 36 persen, dan mereka yang percaya moralitas di Amerika tinggi atau baik, jumlahnya menurun dari 18 persen menjadi 17 persen.

Sejak pertama kali Gallup melakukan jajak pendapat di tengah masyarakat Amerika tentang apakah nilai-nilai moral di negara itu semakin buruk atau semakin baik di tahun 2002, prosentase responden yang mengatakan semakin buruk selalu menempati peringkat tertinggi. Hasil jajak pendapat bulan November 2004 menunjukkan 64 persen warga Amerika menyatakan nilai-nilai moral di negara itu merosot, dan responden yang menyatakan hal serupa di tahun 2017 jumlahnya menjadi 77 persen.

Lalu apa faktor yang menyebabkan kemerosotan moral terus memburuk di Amerika ?  Dalam membahas tema moralitas di setiap masyarakat termasuk di masyarakat Amerika, ada tiga faktor yang dapat dievaluasi, yaitu moral individu, moral masyarakat dan moral politik.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan, pertama-tama masalah ini harus diperhatikan bahwa kemerosotan moral di Amerika adalah sebuah fenomena relatif dan tidak berarti hilangnya sama sekali moralitas di negara itu.

Dengan kata lain, masih banyak warga, lembaga masyarakat dan aktivis sosial di Amerika yang menjunjung tinggi moralitas. Tapi pada saat yang sama, data-data resmi menyebutkan, tingkat komitmen masyarakat Amerika terhadap moralitas atau lebih tepatnya, tingkat kepercayaan mereka atas penghormatan terhadap nilai-nilai sosial di negara itu mengalami kemerosotan dan terus melemah.

Sejumlah alasan dikemukakan untuk menjelaskan munculnya kondisi semacam ini. Salah satunya, bersamaan dengan pudarnya beberapa nilai sosial seperti keselamatan jiwa, menepati janji, menjaga keutuhan keluarga, beriman kepada Tuhan dan spiritualitas, sekarang warga Amerika dinilai lebih banyak berbohong dari sebelumnya, lebih sering melanggar janji, lebih jauh dari nilai spiritualitas dan pada akhirnya, menderita masalah moral akut ketimbang sebelumnya. Data-data resmi seperti yang disampaikan Gallup adalah salah satu buktinya.

Steve Hale dalam bukunya "Truth Decay" (Pembusukan Kebenaran) yang mengulas kemerosotan moral di Amerika, menyamakan negara itu dengan sebuah kapal yang sedang tenggelam seperti kapal Titanic. Hale menulis, kita adalah sebuah bangsa yang berada di bawah permukaan air yang gelap dan asing, sementara kita membutuhkan jawaban, petunjuk dan jalan yang dapat mengembalikan kita ke jalur yang benar.

Sejumlah penelitian lain menjadikan tingkat pengetahuan warga Amerika atas "10 perintah Tuhan" yang diberikan kepada Nabi Musa as untuk umat Yahudi dan Kristen, sebagai tolok ukur penilaian. Menurut hasil penelitian itu, mayoritas warga Amerika tidak meyakini 10 perintah agama atau tidak mengetahuinya sama sekali. Salah satu hasil riset menunjukkan, hanya 31 persen warga Amerika yang percaya pada 10 perintah Tuhan.

Individualisme ekstrem di Amerika turut berperan dalam kemerosotan moral di negara itu. Berdasarkan sebuah jajak pendapat, 93 persen warga Amerika yakin bahwa individu sendirilah yang menentukan perbuatan benar atau salah. 75 persen warga Amerika percaya, tidak ada satu standarpun yang bisa menjadi tolok ukur benar-salah dan 83 persen remaja Amerika memiliki keyakinan ini.

Dalam kondisi seperti ini, bukan hal yang mengejutkan bahwa warga Amerika demi meraih sebanyak mungkin keuntungan pribadinya, tidak pernah memperhatikan kepentingan orang lain dan melakukan secara terang-terangan perbuatan amoral.

Kemerosotan moral individu di Amerika, membawa dampak yang sangat buruk pada moral masyarakat di negara itu. Pada tahun 2010, tercatat lebih dari sembilan juta aksi pencurian terjadi di Amerika dan menimbulkan kerugian sampai 15 milyar dolar. Pada tahun yang sama, lebih dari 16 ribu orang dibunuh, artinya setiap hari terjadi sekitar 45 aksi pembunuhan.

Di sisi lain, warga Amerika yang dipenjara berjumlah dua juta orang, angka tertinggi di dunia, dan warga yang dijatuhi hukuman lain sebagai ganti penjara, jumlahnya lebih banyak. Kondisi lebih buruk di alami para remaja dan kaum muda Amerika. Sebagai contoh, setiap hari sekitar 1000 remaja putri Amerika hamil di luar nikah dan 1000 remaja mengkonsumsi minuman keras. Dilaporkan, sejak tahun 1973 setelah Pengadilan Tinggi Amerika melegalkan aborsi, 57 juta kasus pengguguran janin terjadi di negara itu.

Setiap tahun, tiga juta kasus penyiksaan anak di Amerika terjadi dan setiap hari empat anak-anak meninggal karena aksi penyiksaan. Ditambah setiap tahunnya 800 ribu anak dilaporkan hilang dan setiap hari 2.000 pelajar sekolah lari dari rumah. Lebih dari 237 ribu orang setiap tahun di Amerika menjadi korban penyiksaan fisik dan menurut sejumlah riset, 0,2 persen perempuan Amerika menjadi korban pelecehan seksual.

Runtuhnya bangunan keluarga di Amerika juga membawa dampak buruk bagi masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan, 53 persen warga Amerika yang sudah menikah pernah mengkhianati pasangannya. 65 persen warga Amerika berpikir untuk menjalin hubungan bebas dan hidup bersama di luar nikah.

Di dekade 60-an kurang dari setengah juta pasangan muda-mudi di Amerika melakukan kumpul kebo, dan angka ini bertambah menjadi lebih dari 6,4 juta pasangan pada tahun 2013. Pada tahun 2008 dari total kelahiran bayi di Amerika, 41 persen proses kelahiran itu terjadi pada wanita muda yang belum menikah, sementara di tahun 1963 angka itu hanya tujuh persen.

Dekandensi moral di Amerika selain terjadi di ranah individu dan masyarakat, juga merambah sampai ke perilaku politik. Salah satu buktinya, skandal seks salah seorang presiden Amerika dengan staf magang di Gedung Putih yang sempat memicu krisis politik di negara itu. Skandal seks Bill Clinton dengan Monica Lewinsky menunjukkan seberapa besar tingkat kemerosotan moral di Amerika.

Jika di dekade 90-an terbongkarnya skandal semacam ini dan dampaknya, bisa menyeret presiden Amerika sampai ke impeachment, sekarang hampir setengah warga negara itu justru memilih seorang presiden yang mengeluarkan kata-kata menghina perempuan. Saat ini, sebagian besar masyarakat Amerika tidak terlalu peduli dengan latar belakang kehidupan calon presiden mereka, apakah pernah terlibat skandal asusila atau tidak, itu bukan persoalan.

Saat ini, hanya ada segelintir politisi Amerika di Gedung Putih yang bersih dari dugaan terlibat korupsi atau memiliki jumlah uang mencurigakan di rekeningnya untuk membiayai kampanye. Sejak Pengadilan Tinggi Federal menghapuskan ambang batas pengumpulan bantuan dana kampanye, para kandidat yang terpilih di lembaga eksekutif dan yudikatif Amerika, menjadi pengutang dari orang-orang super kaya negara itu atau yang dikenal sebagai kelompok satu persen.

Lebih dari itu, para kandidat yang terpilih lebih dahulu membela pendukung finansialnya daripada rakyat yang memilihnya. Maka tidak mengejutkan jika dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kepercayaan rakyat Amerika terhadap pejabat dan Kongres kian menurun. Sekarang hanya 30-35 persen warga Amerika yang percaya kepada presiden dan untuk Kongres angka itu lebih kecil. Kemerosotan moral di antara para pejabat politik Amerika bukan hal yang mengherankan.  

Para filosof akhlak dan sosiolog meyakini bahwa bertahannya sebuah tatanan masyarakat disebabkan oleh terjaganya moral dan keyakinan masyarakat itu sendiri. Jika nilai-nilai moral melemah atau keyakinan umum atas nilai-nilai ini menurun, maka masyarakat terancam rusak.

Sekarang, nilai-nilai moral, keluarga dan spiritual bagi kebanyakan masyarakat Amerika menjadi hal yang tidak terlalu dianggap penting sehingga muncul kekhawatiran jika tidak segera diatasi, masyarakat negara itu akan mengalami kerusakan moral akut yang sulit disembuhkan.

Nov 08, 2017 10:58 Asia/Jakarta
Komentar