Perekonomian Amerika Serikat di tahun 2017 mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Dari satu sisi, bersamaan dengan terjadinya peralihan kekuasaan di Gedung Putih dan naiknya Donald Trump, harapan akan teciptanya pemulihan kondisi perekonomian di Amerika meningkat, dan sejumlah indikator seperti pertumbuhan ekonomi, nilai saham di bursa efek dan lapangan kerja, menunjukkan hal itu.

Namun di saat yang sama, pengesahan undang-undang pemotongan pajak perusahaan di Amerika beberapa hari menjelang berakhirnya tahun 2017, telah memicu kekhawatiran atas kemungkinan memburuknya kondisi perekonomian terutama terkait pemangkasan anggaran, bertambahnya utang negara dan semakin curamnya kesenjangan pendapatan.

Gedung Putih dan mayoritas kubu Republik di Kongres bersama sejumlah ekonom konservatif menilai positif kinerja ekonomi pemerintah Amerika di tahun 2017. Sementara minoritas Demokrat di Kongres bersama para ekonom liberal atau independen, menilai kondisi ekonomi Amerika di tahun 2017 memburuk.

Berdasarkan data resmi pemerintah, perekonomian Amerika pada tahun 2017 mengalami sedikit kenaikan. Gedung Putih mengumumkan, ratusan ribu lapangan kerja terbuka sejak Trump menjabat presiden dan indeks saham di bursa efek New York berhasil memecahkan rekor-rekor sebelumnya. Presiden Amerika menganggap data ini sebagai indikasi bangkitnya pasar modal dan kesuksesan program kerja ekonominya.

Tahun 2016, Trump dalam kampanye pilpres Amerika berjanji akan memulihkan kondisi bisnis di Amerika. Sebagai contoh, ia berjanji dalam jangka waktu 10 tahun, 25 juta lapangan kerja baru akan tercipta dan mendorong perusahaan-perusahaan Amerika untuk menambah investasinya dengan menerapkan kebijakan pemotongan pajak.

Rekam jejak Trump sebagai seorang pengusaha terkemuka Amerika membantu menarik dukungan publik dalam pemilu, dan bantuannya untuk korban kebijakan finansial dan bisnis pemerintahan terdahulu di sejumlah negara bagian yang sebelumnya dikenal sebagai "Industri Timur Laut" dan wilayah Rust Belt, akhirnya membawa kemenangan baginya. Di sisi lain, para kritikus menegaskan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintahan Barack Obama di akhir tahun 2016 telah mendorong indikator ekonomi Amerika ke arah positif sampai pertengahan tahun berikutnya.

Selama setahun kebelakang, pemerintah Amerika berusaha melakukan perubahan dalam struktur ekonomi dan aturan-aturan induk di sektor ini. Langkah pertama adalah menghapus dan mengganti undang-undang kesehatan yang ditandatangani Barack Obama atau Obamacare. Kubu Republik sejak tahun 2010 saat undang-undang ini disahkan, berusaha memutus intervensi pemerintah di pasar asuransi kesehatan. Akan tetapi hingga Januari 2017, selama lembaga eksekutif masih dikuasai Demokrat, target kubu Republik itu tidak pernah terwujud.

Obamacare

Pelimpahan sekaligus tiga lembaga pemerintahan Amerika ke kubu Republik menyusul kemenangannya dalam pilpres tahun 2016, membuka kembali peluang penghapusan Obamacare di tengah kubu sayap kanan dan masyarakat korban kebijakan undang-undang tersebut. Meski demikian, tidak seperti yang diharapkan, perbedaan pendapat tajam di antara kubu Republik sendiri di satu sisi, dan perseteruan Republik dengan Kongres di sisi lain, menyebabkan Obamacare hingga akhir tahun 2017 masih tetap berlaku.

Ketakutan akan penghapusan UU asuransi kesehatan yang melindungi 25 juta warga Amerika dan pengaruhnya atas pemilu parlemen tahun 2018, telah menciptakan konflik sengit di tengah kubu Republik. Sebagian anggota Republik di Kongres memperingatkan, jika Obamacare dihapus, kemiskinan di Amerika akan meningkat dan sistem asuransi kesehatan negara ini akan terkena dampaknya.

Selain itu, sejumlah prediksi menyebutkan bahwa pelimpahan total sistem asuransi kesehatan ke sektor swasta dinilai akan menambah beban negara karena subsidi kesehatan untuk lapisan masyarakat miskin akan meningkat, dan tentunya akan semakin meningkatkan pemangkasan anggaran dan menambah utang negara.

Senator independen, Bernie Sanders mengatakan, lapisan masyarakat Amerika yang tidak mampu membayar biaya asuransi kesehatannya, tidak layak mati. Rencana ini akan membunuh kehidupan keluarga Amerika.

Draf undang-undang pengganti Obamacare tidak pernah mendapat dukungan serentak Gedung Putih, Kongres, Partai Republik dan Demokrat. Oleh karena itu, pada akhirnya rencana penghapusan dan penggantian Obamacare diabaikan sehingga kegagalan pemerintahan Trump dalam reformasi sistem kesehatan, tidak terlalu kentara.

Namun berbeda dengan undang-undang asuransi kesehatan, undang-undang pemotongan pajak perusahaan akhirnya dapat diloloskan berkat kerja pemerintah dan mayoritas Republik di Kongres di tahun 2017. Dalam kampanyenya, Trump juga berjanji akan melaksanakan program pengurangan pajak terbesar sepanjang sejarah Amerika. Dalam rancangan undang-undang yang akhirnya disahkan Kongres, pajak perusahaan Amerika dipangkas dari 35 persen menjadi 20 persen dan pajak penghasilan untuk masyarakat berpenghasilan menengah juga akan dikurangi.

Donald Trump

Sementara dalam undang-undang baru yang disahkan akhir tahun 2017, kerumitan proses pemungutan pajak akan berkurang. Trump dan para penasihatnya menegaskan bahwa penerapan undang-undang ini akan meningkatkan produksi di Amerika dan membuka banyak lapangan kerja baru. Menurut mereka, warga Amerika dengan melakukan penghematan dalam membayar pajak, bisa berbelanja barang dan jasa lebih banyak, dan perusahaan-perusahaan swasta tidak bisa lagi lari dari pajak dengan mengalihkan asetnya ke luar negeri.

Namun undang-undang ini juga membawa dampak negatif bagi perekonomian Amerika. Sebagai contoh, diperkirakan biaya pemangkasan anggaran untuk 10 tahun ke depan akan bertambah 1,5 juta dolar, dan dalam rentang waktu itu, utang pemerintah Amerika yang saat ini sudah mencapai angka 20 trilyun dolar, akan bertambah lima trilyun dolar.  

Lebih dari itu, tingkat penghisapan golongan super kaya dan perusahaan-perusahaan raksasa atas kalangan masyarakat menengah dan miskin Amerika relatif akan bertambah besar dan masalah ini akan berujung dengan semakin lebarnya kesenjangan pendapatan di tengah masyarakat.

Senator Demokrat, Bob Menendez, sebelum pengesahan undang-undang pemotongan pajak perusahaan Amerika menuturkan, keluarga Amerika yang berpenghasilan di bawah 75.000 dolar pertahun secara rata-rata harus membayar pajak yang lebih besar. Ini adalah trik pajak kubu Republik dan harus dicegah.

Kubu pro maupun kontra undang-undang pemotongan pajak perusahaan Amerika masih membutuhkan banyak waktu untuk memprediksi seberapa akurat pelaksanaan undangan-undangan baru ini dalam kondisi perekonomian negara sekarang.

Di sektor perdagangan luar negeri, Donald Trump berusaha melakukan perubahan dengan maksud untuk meningkatkan keuntungan perusahaan-perusahaan Amerika. Dengan slogan "America First" dan "Beli Produk Amerika dan Rekrut Orang Amerika", Trump terjun ke dalam perang yang disebutnya sebagai perdagangan tidak adil melawan perusahaan-perusahaan asing.

Dalam pandangan Trump dan para penasihatnya, kontrak-kontrak bisnis yang ditandatangani pemerintahan sebelumnya selama beberapa dekade lalu, seluruhnya merugikan kepentingan bisnis Amerika dan sangat tidak adil. Oleh karena itu, Trump di awal pemerintahannya memerintahkan agar negara itu keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik, TPP. Ia memperingatkan, jika tidak dilakukan perubahan dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara, NAFTA, maka Amerika akan keluar dari perjanjian itu.

Presiden Amerika percaya, negara-negara anggota sejumlah konvensi multilateral dengan Amerika, mendominasi pasar negara ini sehingga mendorong perusahaan-perusahaan Amerika berinvestasi di luar negeri. Akhirnya, menurut Trump bertahan dalam perjanjian-perjanjian dagang multilateral hanya akan menurunkan tingkat produksi, mengurangi kesempatan kerja dan meningkatkan defisit perdagangan Amerika.

Ia bahkan, dengan dalih menjaga tingkat produksi pabrik-pabrik Amerika dan berlanjutnya persaingan besar ekonomi, memutuskan agar Amerika keluar dari perjanjian iklim Paris. Sebuah langkah yang membahayakan secara serius upaya penurunan gas rumah kaca dan berlanjutnya kehidupan di muka bumi.

Kebijakan dukungan ekonomi Trump setahun lalu ternyata harus berhadapan dengan sejumlah hambatan. Salah satu hambatan terbesar adalah penolakan mitra-mitra bisnis Amerika termasuk Cina, Jepang, Korea Selatan dan Uni Eropa untuk menanggung risiko upaya meraih kepentingan Amerika sesuai ambisi Trump.

Penurunan tingkat produksi Amerika, meningkatnya konsumerisme di tengah masyarakat negara itu, meningkatnya aktivitas perusahaan-perusahaan besar Amerika di luar negeri dan aturan ketat atas perusahaan-perusahaan Amerika untuk memasarkan produk dan jasa dalam negeri, menyebabkan pemerintah Washington hingga akhir tahun 2017 tidak mampu melakukan perubahan signifikan dalam hubungan ekonomi dengan negara lain.

Tags

Dec 28, 2017 13:42 Asia/Jakarta
Komentar