Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengumumkan pada Jumat malam (dalam waktu setempat) bahwa ia telah memerintahkan serangan terhadap target tertentu di Suriah. Dia mengatakan tindakan ini melibatkan kerja sama Inggris dan Perancis. Para pejabat Washington, London, dan Paris gencar menuduh pemerintah Suriah melakukan serangan kimia di Douma, Ghouta Timur dalam beberapa hari terakhir. Tuduhan ini sebagai justifikasi untuk serangan potensial ke Suriah.

Pada 7 April 2018, kelompok teroris Jaish al-Islam di Douma menuding tentara Suriah melakukan serangan kimia ke daerah itu yang menewaskan puluhan warga sipil. Pemerintah Damaskus membantah keras tuduhan tersebut. Serangan AS Cs dilakukan dengan alasan dugaan serangan kimia di Douma. Padahal, berdasarkan sebuah kesepakatan tahun 2014, Damaskus telah menyerahkan semua senjata kimianya di bawah pengawasan PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).

AS dan sekutunya secara sepihak dan gegabah melancarkan serangan rudal dan udara ke Suriah, tanpa menunggu proses investigasi independen terhadap dugaan serangan kimia di Douma. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka berniat mengobarkan perang baru di Suriah. Klaim serangan kimia dibuat hanya untuk menutupi kejahatan teroris dan menjustifikasi tindakan militer asing di Suriah.

Klaim serangan kimia di Douma

Intervensi sepihak dan tanpa mandat PBB ini bertentangan dengan hukum internasional dan melanggar Piagam PBB. Dalam hal ini, koresponden PBB, Andreas Zumach mengatakan AS tidak memiliki hak untuk terlibat dalam aksi militer di Suriah, dan serangan Barat ini adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

"Tidak, tindakan seperti ini ilegal dalam keadaan apapun. Di sini, sama sekali tidak ada persoalan pembelaan diri dan tindakan pencegahan bagi AS. Serangan ke Suriah tanpa mandat Dewan Keamanan PBB jelas merupakan pelanggaran hukum internasional," ujar Zumach ketika menjawab pertanyaan media Swiss, tentang apakah tindakan militer AS memiliki dasar hukum dalam menanggapi dugaan serangan kimia di Suriah.

Menurut banyak pengamat, menuduh pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia adalah usaha untuk menyesatkan opini publik dan memutarbalikkan fakta setelah militer Suriah mencapai kemenangan dalam menumpas teroris. AS dan sekutunya sangat prihatin tentang kekalahan total teroris, dan melakukan petualangan baru untuk mengubah perimbangan Suriah demi kepentingannya. Pada Maret 2017, AS juga menyerang pangkalan Angkatan Udara Suriah, al-Sha'irat dengan puluhan rudal.

Selain itu, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman pada Maret 2018 melakukan pembicaraan maraton dengan pemimpin negara-negara Barat, terutama Trump. Dari pembicaraan ini, muncul banyak spekulasi bahwa Saudi telah menjanjikan dukungan finansial untuk membiayai perang baru AS di Suriah.

Sejak awal pecahnya krisis di Suriah, Trump berniat menguji peruntungannya di negara Arab itu dan dengan sebuah serangan terbatas, Gedung Putih mengejar beberapa tujuan antara lain; untuk memamerkan kekuatan AS, mencegah kemenangan final militer Suriah dan sekutunya, dan untuk memuaskan sekutu tradisionalnya di Timur Tengah; Arab Saudi dan rezim Zionis Israel.

Di sini muncul pertanyaan, sebenarnya perkembangan apa yang telah terjadi di Suriah, sehingga AS drastis mengubah kebijakannya setelah beberapa hari lalu berbicara tentang penarikan pasukannya dari Suriah. AS sekarang malah terlibat lebih jauh dalam konflik di Suriah.

Serangan Amerika ke Suriah

Seorang analis dan jurnalis Italia, Sebastiano Caputo percaya bahwa Trump didera kebingungan terkait masalah Suriah. Dalam wawancara dengan media Rusia, Sputnik, Caputo mengatakan lobi-lobi senjata menekan Trump agar melanjutkan perang Suriah. Trump tampak kebingungan soal Suriah, dan petualangan militernya di negara itu juga dapat ditinjau dari sudut ini.

"Tujuan pemerintah AS adalah mengembalikan tatanan lama di Timur Tengah, dan hanya melalui langkah-langkah agresif seperti itu mereka dapat menempatkan dirinya pada posisi yang lebih kuat di meja perundingan," ujarnya.

Setelah teroris kalah di Suriah dan Irak, muncul sebuah perimbangan baru yang melibatkan para aktor regional dan global. Sebelum serangan AS ke Suriah, ada beberapa peristiwa penting yang membuat Washington khawatir antara lain; kekalahan teroris di berbagai daerah Suriah, terutama Ghouta Timur Damaskus, pelaksanaan sukses pembicaraan antara kubu oposisi Suriah di Sochi, dan yang terbaru, pertemuan puncak antara pemimpin Iran, Rusia dan Turki di Ankara.

Semua transformasi ini mencerminkan berkurangnya peran dan pengaruh Amerika dan sekutunya di kawasan. Tentu saja fenomena ini membuat Washington tidak nyaman. Oleh karena itu, AS dengan propaganda dan pengerahan kekuatan militer, berupaya mengubah kondisi tertentu di Suriah demi kepentingannya.

Perlu dicatat bahwa serangan AS ke Suriah mengejar beberapa tujuan seperti, ingin terlibat lebih jauh dalam krisis Suriah, mencari keuntungan dari masa depan negara itu, menutupi kekalahan beruntun teroris yang didukung AS dan Barat di Suriah dan Irak, menekan Damaskus agar menerima peran Washington dan Riyadh di Suriah, dan mengurangi peran dominan Iran dan Rusia di negara tersebut.

Pakar masalah Suriah, Abdul Masih al-Shami dalam wawancara dengan RT Arabic mengatakan, tujuan Barat menekan pemerintah Damaskus adalah untuk menghentikan kemenangan militer Suriah. Mengacu pada klaim Barat tentang penggunaan senjata kimia oleh Suriah, al-Shami menuturkan, ketika kita melihat ancaman AS, Inggris dan Perancis untuk menyerang sebuah negara berdaulat, maka kita akan melihat adanya berita palsu yang dibuat.

Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa intervensi lebih besar AS dalam berbagai krisis, justru akan memperburuk krisis dan membawanya ke fase yang lebih berbahaya. Selain itu, AS dan sekutunya akan tenggelam lebih jauh dalam pasir hisap yang mereka ciptakan sendiri di kawasan.

Tentara Amerika

Trump menabuh genderang perang di Suriah justru ketika kampanye koalisi internasional kontra-terorisme pimpinan AS, tidak membawa apapun kecuali pembunuhan dan kehancuran bagi rakyat Suriah. Di sisi lain, kelompok-kelompok teroris terus eksis dan melanjutkan aksinya di Suriah.

Serangan baru militer AS ke Suriah – terlepas dari sesumbar Trump – merupakan indikasi dari pendekatan hati-hati Gedung Putih terhadap krisis Suriah dan ketakutan mereka akan aksi balasan dari kubu perlawanan Suriah dan sekutunya. Sejumlah politisi dan analis menilai serangan terbaru AS dan sekutunya ke Suriah tidak akan memiliki banyak pengaruh. Namun, para pejabat Gedung Putih tampaknya tidak mau belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu.

Jelas bahwa kebijakan Trump bertumpu pada globalisasi perang dan membuka ruang konflik di kancah internasional. Pendekatan ini telah meningkatkan ketegangan politik dan diplomatik antara AS dan negara-negara lain di dunia. Perilaku semacam ini akan memperbesar kebencian masyarakat internasional terhadap AS sebagai sebuah rezim agresor.

Apr 19, 2018 05:58 Asia/Jakarta
Komentar