Pada 11 Juli 1989 tercatat manusia kelima miliar di bumi. Ketika itu Javier Perez de Cuellar, sekjen PBB kala itu, menyampaikan kekhawatiran peningkatan populasi dunia dan menilai kelahiran bayi kelima miliar itu sebagai titik balik dalam sejarah dunia serta menempatkan posisi pembangunan, akses pendidikan, kesehatan dan sosial sebagai pokok yang harus menjadi fokus utama dunia.

Sejak tanggal itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan penetapan tanggal 11 Juli diperingati sebagai Hari Populasi Sedunia. Sehingga dengan manajemen berbagai aktivitas, pada hari itu perhatian masyarakat dunia dapat digalang untuk bekerjasama dalam mengatasi populasi dunia yang terus berkembang.

Divisi Populasi PBB,  pada tahun 2017 memperkirakan bahwa dalam sejarah bumi, telah dilahirkan sebanyak 108 miliar manusia. Berdasarkan informasi tersebut, populasi dunia pada 1804 diperkirakan mencapai satu miliar. Antara tahun 1927, 1960 dan 1974, populasi dunia meningkat dua, tiga dan empat miliar jiwa dan berdasarkan data terbaru, pada tahun 2017 populasi dunia telah mencapai  tujuh miliar 285 juta manusia. Data ini menunjukkan bahwa seperlima dari angka perkiraan total manusia yang telah dilahirkan, hidup saat ini di muka bumi.

Keluarga

Dari jumlah tersebut, 60 persen di antaranya hidup di Benua Asia dan 20 persennya di Republik Rakyat Cina dan 17 persennya di India. Ini berarti setiap tiga orang di dunia ini satu dan lebih di antaranya adalah warga Cina atau India. 12 persen populasi dunia hidup di Afrika dan 11 persen di Eropa. Sekitar 13 persen dari populasi dunia hidup di Amerika Utara dan Selatan. Sementara Vatikan, sebuah pemerintahan independen di jantung Roma, Italia, dengan 800 orang warganya serta Nauru dengan 9.378 warga, merupakan dua negara dengan populasi paling sedikit di dunia. Di sisi lain, Cina, India, Amerika Serikat, Indonesia,  Pakistan dan Brazil, adalah negara-negara dengan populasi terbesar dunia.

Berdasarkan data yang dirilis, secara rata-rata setiap satu menit lahir 150 bayi dan jika ini terus berlanjut, maka berdasarkan perkiraan para ahli demografi PBB, jumlah populasi dunia pada 2050 akan mencapai 9,8 miliar manusia. Namun perlu diketahui bahwa tingkat pertumbuhan populasi di negara-negara berkembang lebih cepat dari perkiraan tersebut.

Data-data yang ada menunjukkan separuh dari peningkatan populasi dunia terjadi di India, Nigeria, Pakistan, Republik Demokratik Kongo, Etiopia, Tanzania, Indonesia dan Uganda. Populasi India pada 2022 akan melampaui Cina.

Peningkatan populasi dunia khususnya di Afrika sangat tinggi dan populasi benua tersebut akan mencapai dua kali lipat. Lembaga Riset Demografi Perancis mengatakan, "Salah satu perubahan besar yang terjadi adalah pertumbuhan pesat populasi di Afrika." Sementara sekarang setiap enam orang di dunia satu orangnya dari Afrika dan dalam satu dekade mendatang, satu dari setiap tiga orang adalah dari Afrika. Populasi 1,2 miliar Afrika pada tahun 2017 akan menjadi 2,5 miliar pada 2050 dan kemungkinan pada tahun 2100 akan mencapai 4,4 miliar.

PBB dalam laporannya menyebutkan faktor peningkatan populasi dunia antara lain karena peningkatan harapan hidup. Berdasarkan laporan yang sama, haparan hidup meningkat dari 65 tahun pada 1990 menjadi 70 tahun pada 2010 dan pada tahun 2045 harapan hidup akan mencapai 77 tahun. Faktor lainnya adalah penurunan tingkat kematian anak.

Seorang peneliti di Lembaga Riset Demografi Perancis mengatakan, "Meski secara keseluruhan angka kehamilan di dunia menurun, akan tetapi kesenjangan di berbagai wilayah dunia sangat besar." Ditambahkannya, "Pada tahun 1950 setiap perempuan melahirkan lima anak akan tetapi sekarang angkanya menurun menjadi 2,5 anak.

Dewasa ini angka kehamilan terendah terjadi di Taiwan dan Korea Selatan dan setiap perempuan melahirkan 1,2 anak, adapun angka kehamilan tertinggi terjadi di Nigeria di mana yang mencapai 7,3 anak. Menurut peneliti di Lembaga Riset Demografi Perancis, negara-negara yang memiliki angka kehamilan tiga atau lebih tercatat di Afrika dan sejumlah negara Asia seperti Pakistan dan Afghanistan hingga ke utara India. Di negara-negara tersebut akan terjadi peningkatan kelahiran pada tahun-tahun mendatang.

Keluarga

Sebaliknya, sejumlah negara mencatat angka minus atau lambat dalam pertumbuhan populasinya. Menurut para ahli, penurunan angka kelahiran di negara-negara tersebut akan mempercepat proses penuaan. Mengingat masyarakat muda merupakan salah satu indeks dan kekayaan sebuah negara, maka sejumlah negara sedang terancam merugi karena penurunan populasi pemudanya.

Mulai tahun 2010 hingga 2015, 83 negara yang menempati 46 persen populasi dunia mencatat angka kelahiran terendah. Dengan demikian banyak negara yang sedang menuju angka minus dalam statistik demografinya. Oleh sebab itu banyak diupayakan pemerintah untuk menetapkan politik yang mendorong pasangan untuk memiliki anak.

Di negara-negara berkembang dengan angka pertumbuhan populasi cepat, muncul berbagai tantangan yang harus ditangani dengan kontrol populasi. Berdasarkan laporan situs water.org, di negara-negara itu saat ini sekitar 663 juta orang tidak memiliki akses air minum bersih dan 795 juta orang pada tahun 2015 (berdasarkan laporan WFP) tidak memiliki cukup makanan.

Sepersembilan populasi dunia tidur malam dengan perut lapar. Setiap harinya 25 ribu orang meninggal dunia karena gizi buruk atau akibat berbagai penyakit yang berhubungan dengan krisis pangan. 18 ribu di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Menyusul pertumbuhan populasi yang tidak terkontrol ini, ketersediaan bahan pangan juga terbatas. Pertumbuhan populasi juga menimbulan banyak masalah lain seperti kesehatan, kekerasan dalam keluarga, kepadatan, pengangguran, polusi, masalah sosial dan gejolak dalam masyarakat. Banyak perang berdarah terjadi dan berkepanjangan dalam beberapa dekade terakhir, yang diakibatkan oleh peningkatan populasi dan friksi akibat sumber alam.

Dengan kondisi demikian ini, penting sekali dilakukan manajemen keluarga untuk mengontrol pertumbuhan populasi dunia. Perencaan keluarga atau program keluarga berencana untuk saat ini menjadi sangat penting. Perencanaan keluarga adalah tugas pasangan suami istri dan dengan melaksanakannya, kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup keluarga akan terjamin.

Kehamilan sesuai program keluarga berencana akan mereduksi kemungkinan kehamilan tidak diinginkan, menetapkan waktu kehamilan yang tepat dan merencanakan jumlah anak. Pemerintah Cina dan India sekarang menggalakkan slogan "kontrol kehamilan dan keluarga kecil" sebagai cara untuk mencapai kondisi keluarga ideal. Akan tetapi yang membantu keberhasilan program tersebut adalah perhatian pada hak asasi manusia dalam mengontrol populasi.

Keluarga

Pada tahun 1968 dalam konferensi internasional HAM, untuk pertama kalinya dikemukakan isu perencanaan keluarga sebagai salah satu poin dalam hak asasi manusia. Dalam dokumen yang dirisilis konferensi tersebut, ditegaskan bahwa orang tua memiliki hak mendasar untuk menentukan jumlah dan jarak usia anak-anak mereka dan mereka bebas dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan tersebut. Untuk menekankan masalah ini, PBB pada peringatan Hari Populasi Sedunia tahun ini menekankan slogan "perencanaan keluarga, sebuah hak asasi manusia" dengan alasan setiap orang dapat menentukan jalur dan capaian masa depan dirinya dan keluarganya.

Tidak adanya diskriminasi dalam perencanaan keluarga, akses merata pada komoditi dan berbagai layanan, penghormatan terhadap lingkup keluarga, kerahasiaan informasi masing-masing keluarga dalam sistem kesehatan, merupakan di antara sekian banyak standar yang telah ditetapkan PBB terkait hak-hak keluarga.

Jul 11, 2018 05:54 Asia/Jakarta
Komentar