• Gereja st-thaddeus di Iran
    Gereja st-thaddeus di Iran

Wisata religi termasuk salah satu model wisata budaya. Di wisata ini, para wisatawan dengan motif tertentu mengunjungi tempat-tempat suci, melakukan ritual agama atau mempelajari dan menyebarkannya.

Di wisata religi selain bagian utama dari wisata adalah mengunjugi seluruh lokasi dan melakukan berbagai aktivitas seperti mengunjungi pusat budaya, sejarah dan seni. Sejatinya tempat-tempat suci di samping berbagai pusat wisata lainnya menjadi daya magnet bagi wisatawan.

 

Sebagian wisatawan Iran dan asing yang mengunjungi kota Shiraz untuk berziarah ke makam Shah Cheragh, juga menikmati daya tarik lainnya di kota ini selain berziarah.

 

Terkadang keberadaan tempat ibadah dan peninggalan agama, menjadi satu-satunya motivasi kunjungan wisatawan sebuah lokasi, dan wisatawan karena daya tarik tempat tersebut mengunjunginya, seperti umat Muslim yang berziarah ke Baitullah (Kabah) di Mekah, makam para Imam Maksum di Irak atau seluruh tempat suci lainnya.

 

Kelompok peziarah ini juga termasuk wisatawan religi. Wisata religi dan ziarah, tujuan utama adalah berkunjung ke tempat suci dan melakukan ritual keagamaan. Ziarah merupakan model wisata religi paling populer.

Gereja ST Mary di kota Urmia Iran

 

Di antara wisata ziarah adalah kunjungan pengikut Kristen dari berbagai dunia ke Iran. Jika kita abaikan keberadaan Gereja St. Mary di Kota Urmia, Provinsi Azerbaijan Barat Republik Islam Iran yang menurut sejumlah sejarawan termasuk gereja kedua terbesar dunia setelah Gereja Bethlehem, maka gereja terpenting lain di Iran adalah Gereja St. Thaddeus.

 

Gereja St. Thaddeus setiap tahun di bulan April menjadi tujuan para pengikut Kristen dari berbagai penjuru dunia untuk menggelar ritual agama mereka. Razmik Petrosyan, warga Armenia termasuk peziarah yang mengunjungi Iran tahun 2017 untuk mengkuti ritual keagamaan di Gereja St. Thaddeus. Setelah kembali ke Armenia ia menulis perjalanannya ke Iran dan merilisnya di sejumlah media di negara tersebut.

 

Di sebagian tulisannya, Petrosyan menulis, "Aku sangat terobsesi untuk mengunjungi Iran, namun keinginan ini tertunda akibat pekerjaan, masalah keluarga dan propaganda buruk media Barat. Sampa pada 27 Juli 2017, saya bersama 16 orang lainnya berkesempatan berkunjung ke Iran selama empat hari..."

 

Ia menambahkan, "....Kami tiba di Iran setelah melalui jalan pegunungan Provinsi Syunik dan melewati perbatasan Meghri. Kami melanjutkan perjalanan di sepanjang jalan yang bersih dan beraspal yang lebih mirip dengan jalan tol hingga jalan-jalan di terpencil. Seluruh jalan yang kami lalui dalam kondisi terang tak ubahnya dengan kondisi siang hari..."

 

"....Kami melewati berbagai kota kecil dan besar. Kami sampai ke wilayah Gereja St. Thaddeus saat tengah malam. Teman-teman kami dari Iran telah menentukan posisi kemah kami di sekitar gereja. Kami langsung mendirikan kemah di tempat tersebut dan beristirahat. Pagi harinya ketika kami dibangunka oleh kicauan burung dan angin sepoi-sepoi musim panas, kami menyaksikan pemandangan di luar dari dalam kemah dan kami kaget. Di sekitar kami ada ratusa kemah baik besar maupun kecil, sementara gereja berada di tengah-tengah dikelilingi ratusan kemah tak ubahnya sebuah cincin. Sejenak aku berpikir tengah berada di sekitar Gereja Geghard atau Vagharshapat, tapi di sini bukan Armenia, tapi Iran. Semuanya berbicara dengan bahasa Armenia. Hampir 5000 orang yang berkumpul," tambah Petrosyan.

 

Lebih lanjut Petrosyan mengungkapkan, "Setiap tahun banyak umat Kristiani dari seluruh penjuru dunia yang berkunjung ke Iran untuk menggelar ritual khusus, mulai dari Armenia, Suriah, Lebanon, Belanda, Perancis, Austria, Jerman, Kanada dan berbagai negara lainnya. Mereka berkumpul di sekitar gereja dan mendirikan kemah. Saya mengundang kalian untuk mengunjungi tempat indah ini di Iran dan bagaimana minoritas agama Armenia dan bahkan umat Kristen dari negara lain berkumpul di tempat suci ini dan berdoa kepada Tuhan dengan khusyu, menyalakan lilin, memotong hewan kurban dan membabtis bayi-bayi mereka."

 

Agama dan spiritualitas secara konseptual memiliki hubungan dekat dan terkadang penggunaannya sama. Memenuhi kebutuhan spiritualitas memainkan peran utama di wisata religi, namun mengingat arti luas dari spiritual, wisatawan religi juga dapat dikategorikan dalam berbagai kelompok.

 

Wisata irfani-pengetahuan adalah bentuk wisata budaya dan sebagian pakar industri pariwisata memasukkannya ke dalam kelompok wisata religi. Kata-kata mistisisme dan pengetahuan memiliki arti satu dan keduanya berarti pengetahuan.

 

Dari sudut pandang wisata pengetahuan, alam dan pencipta masing-masing dapat menjadi tujuan dari pengetahuan ini. Oleh karena itu, ajaran agama Islam manusia pada intinya mencari Tuhan dan ingin mengenal-Nya. Pengetahuan ini dapat diraih melalui indera, akal, riwayat atau hati.

 

Menurut perspektif ini, Irfan atau mistisisme dalam istilah adalah pengetahuan yang diraih melalui pencerahan internal dan hati. Untuk sampai pada pengetahuan epistemik, sebagian wisatawan berkunjung ke berbagai tempat seperti Konya, Ashgabat, Khujand, Samarkand dan Bukhara.

 

Destinasi wisata yang telah ditentukan oleh pihak penanggung jawab industri pariwista biasanya menjadi arena investasi. Tapi dengan berani kami mengatakan bahwa tidak ada tempat seperti gurun pasir yang sunyi dengan langit penuh bintang esrta laut dengan ombaknya yang dapat mengantarkan manusia kepada pengetahuan dan pemikiran.

 

Tags

Aug 08, 2018 20:05 Asia/Jakarta
Komentar