Buku Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) merupakan karya penting dan membanggakan bagi para pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan memanfaatkan buku ini, semua orang dapat memahami lebih baik faktor-faktor munculnya penyakit yang berujung pada kematian, pencegahan dan pengobatan. Pekan lalu para pejabat WHO menyatakan tim peneliti buku ini telah mendapat lebih dari 10 ribu usulan untuk mengeditnya.

ICD menyediakan data mengenai penyebab ribuan penyakit, cedera dan kematian di seluruh dunia, serta informasi mengenai pencegahan dan pengobatan. ICD terakhir kali direvisi 28 tahun lalu. Perubahan yang terjadi sejak itu tercatat dalam edisi terbaru ini. Gangguan akibat main game ditambahkan ke dalam gangguan mental dan adiktif, karena permintaan akan layanan untuk mengatasi kondisi ini telah meningkat. Selain itu juga tentang obat-obatan herbal dan disfungsi seksual.

Gangguan akibat bermain game atau Gaming Disorder oleh WHO digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan gigih dan berulang, sehingga menyampingkan kepentingan hidup lainnya. Adapun gejalanya bisa ditandai dengan tiga perilaku.

Bermain game

Pertama dan terutama, pengidap gangguan gaming disorder akan bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas. Gejala kedua, pengidap gaming disorder juga lebih memprioritaskan bermain game. Hingga akhirnya muncul gejala ketiga, yakni tetap melanjutkan permainan meskipun pengidap sadar jika gejala atau dampak negatif pada tubuh mulai muncul.

Berdasarkan arahan dari WHO, penyembuhan gangguan gaming disorder harus dilakukan selama kurang lebih 12 bulan melalui arahan psikiater. Namun, jika gangguan yang terjadi sudah sangat parah, pengobatan bisa saja berlangsung lebih lama.

Kecanduan artinya kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yang lain). Ada kebergantungan yang sangat dan terbentuk tanpa melewati proses berpikir. Ketika seseorang telah menjadi pecandu, mungkin saja ia tampak gembira dan senang atau marah dan geram, sehingga mempengaruhi perilakunya. Kecemasan, depresi atau agresif merupakan tanda-tandanya.

Kecanduan juga menyebabkan seseorang menjadi pelupa dan tidak peduli. Dalam kondisi yang demikian, para pemuda yang mengalokasikan kehidupannya untuk bermain game komputer bakal tidak melaksanakan tanggung jawabnya dan keinginginan orang tua dan gurunya di sekolahnya. Mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya hanya untuk bermain game.

Game dibuat dengan tujuan agar orang terhibur dan memainkannya terus-menerus. Para perancang game berlomba-lomba menjadikan game buatannya jadi yang paling menantang dan menarik. Game online misalnya, menyajikan fitur-fitur yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga berbagi fitur tambahan yang makin interaktif. Semakin banyak yang memainkan satu game online, semakin lama durasinya maka perusahaan pembuat game akan semakin diuntungkan.

Gaming Disorder juga mempunyai beberapa tanda. Anak atau orang dewasa disebut kecanduan game apabila tidak bisa mengendalikan keinginan untuk bermain game. Mereka selalu memprioritaskan game daripada kehidupan sehari-harinya. Hal ini jelas membawa dampak yang sangat negatif.

Sebuah penelitian tahun 2005 di Rumah Sakit Hammersmith di London memperoleh hasil yang cukup mengejutkan, bahwa tingkat dopamin di otak naik dua kali lipat saat bermain game. Pada otak, dopamine terlibat dalam proses berpikir, belajar, pergerakan, motivasi, kepuasan, dll. Sedangkan, beberapa jenis narkoba juga bekerja dengan menaikkan tingkat dopamin. Maka, ditengarai game bekerja serupa dengan narkoba dalam membuat kecanduan.

Dampak negatif dari kecanduan game adalah pertama, Risiko Kesehatan. Sesuatu yang menyebabkan candu jelas tidak baik. Ketika seseorang telah kecanduan sesuatu, hasrat hidupnya hanya terfokus pada hal tersebut. Begitupun ketika anak kecanduan game online, satu-satunya perhatian yang penting bagi anak adalah bermain game.

Anak bermain game

Saat anak fokus bermain game, anak akan melupakan hal-hal lain, termasuk waktu makan, olahraga, dan istirahat. Padahal, layar komputer atau smartphone juga mengandung radiasi ultraviolet yang sangat tidak baik untuk kesehatan.

Kedua, Terisolasi dari Lingkungan Sekitar. Manusia pada dasarnya tetaplah makhluk sosial. Mereka membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya. Jika sedari kecil anak sudah sibuk dengan dunianya sendiri, ke depannya anak akan susah untuk mulai berinteraksi dengan sekitarnya..

Padahal, Interaksi sosial ini tidak bisa dipelajari dalam semalam. Anak harus belajar dari kecil untuk membentuk ketrampilan sosialnya, termasuk juga rasa empati, nilai moral juga tata krama. Kecanduan gadget menjadikan anak-anak kehilangan kepekaan sosial mereka.

Ketiga, Anak Menjadi Malas. Dampak negatif kecanduan game selanjutnya adalah anak akan jadi pemalas. Mereka lebih senang duduk diam di depan laptop atau smartphone. Mereka tidak akan tertarik belajar hal lain. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, anak yang malas akan berujung menjadi anak yang tidak punya pengetahuan apa-apa selain dunia gamenya. .

Masih ada banyak sekali dampak negatif dari kecanduan game. Mengingat banyaknya dampak negatif tersebut, wajar jika WHO menetapkan gaming disorder sebagai suatu penyakit mental. Dengan ditetapkannya gaming disorder ke dalam daftar ICD, keluarga sebaiknya meningkatkan perhatian tentang hal tersebut. Anak-anak yang kecanduan game harus diberikan penanganan khusus, yang sebaiknya diberikan sejak awal terdeteksi.

Untuk mencegah anak dari kecanduan game ada beberapa hal yang harus dilakukan dan benar-benar diperhatikan oleh para orangtua. Pertama, Bermain game bersama anak. Jika orangtua bermain bersama, akan lebih mudah bagi orangtua untuk menentukan kapan anak harus berhenti bermain dan kapan mereka boleh memulai lagi. Bila anda belum bisa memahami gamenya, minta anak untuk mengajarkannya kepada anda.

Kedua, Perhatikan Durasi. Minta anak untuk memperhatikan sendiri berapa lama ia sudah bermain game, lalu berikan catatan waktu yang sudah ia gunakan untuk bermain selama seminggu kepadanya. Anak bisa jadi akan terkejut bahwa ia sudah menghabiskan sedemikian banyak waktunya untuk game. Jika dirasa sudah terlalu lama/berlebihan,minta ia untuk mengurangi waktu bermainnya secara bertahap.

Ketiga, Berikan Alternatif Aktivitas. Cobalah mengajak anak untuk melakukan aktivitas lainnya, seperti bersepeda keliling kompleks, berenang, memasak, atau aktivitas lainnya yang dapat membuat perhatian anak beralih dari game di gawainya. Atau jika memang ia sangat tertarik pada gawai, ajarkan ia untuk melakukan aktivitas lain yang masih menggunakan gawai, seperti mobile photography atau belajar membuat animasi dengan gadget. Aktivitas ini akan jauh lebih positif dan dapat menghindarkan anak dari kecanduan game.

Anak bermain game di ponsel

Namun berdasarkan riset yang dilakukan terhadap anak dan remaja dalam rentang umur delapan hingga 18 tahun, Killian Mullan, salah satu periset dari Universitas Oxford menemukan bahwa tidak ada masalah pada perilaku kecanduan game. Mullan berpendapat bahwa sebagian objek pecandu game pada umumnya berhasil menyinergikan hiburan digital dan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, orang mengira bahwa anak-anak kecanduan teknologi dan berada di depan layar selama 24 jam telah mengesampingkan kehidupan mereka. Padahal tidak demikian nyatanya. Pandangan Mullan didukung oleh pengkategorian permainan game sebagai cabang dari e-sport.

Sama seperti halnya olahraga pada umumnya, para atlet e-Sport diharuskan memiliki kondisi fisik yang bugar serta nutrisi yang cukup. Sebab, bermain game ternyata menguras stamina karena pemain harus mencurahkan pikirannya untuk menjalankan strategi bermain. Meski begitu, tetap saja bermain game secara berlebihan tanpa diiringi dengan aktivitas fisik dan sosial bukanlah hal yang baik. Oleh sebab itu, tetap perlu ada kontrol dari pihak medis ketika kegiatan ini sudah mengganggu aktivitas rutin harian.

Aug 23, 2018 14:45 Asia/Jakarta
Komentar