Dalam beberapa tahun terakhir, di banyak kalangan akademis dan bisnis, tersebar isu reduksi anggaran berbentuk dolar Amerika dan penggeserannya dengan mata uang lain. Sejumlah pihak percaya bahwa mata uang ini tidak lagi dapat diandalkan seperti sebelumnya. Risiko modal dalam bentuk dolar semakin meningkat selama beberapa tahun terakhir menyusul berkuasanya Presiden ke-45 AS, Donald Trump, dan politik perdagangannya.

Seperti yang Anda ketahui, dolar telah menggurita dalam perdagangan internasional selama beberapa dekade dan menjadi mata uang internasional. Sehingga hampir semua bursa perdagangan di dunia menggunakan dolar sebelum pembentukan kawasan euro, serta menguatnya mata uang yuan terhadap dolar. Kekuatan dolar bangkit dalam perekonomian dunia sejak tahun 1944, setahun sebelum akhir Perang Dunia Kedua.

Pada tahun itu, lebih dari 40 negara berkumpul di Bretton Woods, New Hampshire, di Amerika Serikat untuk memutuskan bagaimana menentukan struktur ekonomi pasca perang Perang Dunia Kedua. Salah satu hasil pertemuan, yang terkenal dengan Konferensi Bretton Woods itu adalah pengadopsian dolar dengan dukungan emas sebagai mata uang internasional. Artinya, pemerintah AS pada konferensi itu menjamin tingkat konversi tetap satu ons emas seharga $ 35. Perjanjian tersebut dibatalkan oleh Amerika Serikat pada tahun 1971 karena sejumlah alasan, termasuk Perang Vietnam. Sejak itu, dolar menjadi mata uang tanpa dukungan.

Dolar dan Yuan

Tapi mengapa dolar terus mempertahankan nilainya selama dekade berikutnya, meski terjadi pelanggaran di pihak AS? Salah satu faktor yang mempengaruhi masalah ini adalah harga pertukaran minyak dengan dolar. Sejak tahun 1970-an, hampir semua bursa minyak telah dibuat dalam dolar AS. Bahkan ketika Amerika tidak memainkan peran dalam pertukaran antarnegara. Selain itu, dolar AS juga menjadi sumber investasi yang dapat diandalkan bagi banyak investor di dunia.

Dalam ekonomi makro untuk uang, terdapat tiga fungsi penting telah didefinisikan, kriteria parameter nilai, perantara pembayaran (alat pembayaran) dan sarana penyimpanan uang. Sejak 1944, ketika dolar AS diperkenalkan sebagai mata uang internasional, statusnya sebagai sarana pertukarannya melebihi fungsi lain dalam kegiatan ekonomi dunia. Berarti banyak negara mengalami kesulitan dalam menyetujui nilai barang mereka dalam pertukaran ekonomi. Keberadaan dolar sebagai mata uang perantara dan internasional telah berhasil memecahkan masalah tersebut.

Seiring dengan peningkatan cadangan dolar banyak negara, fungsi sebagai sarana penyimpanan nilai juga menyusul di tahap berikutnya. Dengan demikian, negara-negara menganggap simpanan dolar mereka sebagai investasi. Berdasarkan kondisi ekonomi dunia saat ini, pertanyaannya adalah apakah dolar masih bernilai sebagai investasi simpanan?

Menjawab pertanyaan itu harus dikatakan bahwa bukti menunjukkan bahwa investasi dalam dolar telah menurun, banyak negara yang mengubah cadangan dolar mereka dalam bentuk investasi lain, yang berarti penurunan nilai dolar. Pada paruh pertama tahun 2017, Bank Sentral Belgia meningkatkan investasi asing sebesar 200 juta euro dalam bentuk yuan Cina dan 100 juta euro dalam bentuk won Korea Selatan. Pada periode yang sama Bank Sentral Eropa mengalokasikan EUR 500 juta (setara dengan $ 558 juta) dari cadangan devisanya untuk berinvestasi dalam aset yuan.

Harga global satu ons emas selama 70 tahun terakhir, dari 1945 hingga 2018, naik dari 480 USD menjadi 1.350 USD. Dengan demikian, dolar kehilangan 65% nilainya terhadap emas. Dan salah satu alasan di balik depresiasi dolar adalah utang AS yang melambung tinggi.

Euro dan dolar

Menurut Departemen Keuangan AS, utang negara sampai akhir pemerintahan mantan presiden Barack Obama hampir 20 ribu miliar USD. Banyak ahli percaya bahwa peningkatan 500 miliar USD dalam utang tersebut dapat menjadi ancaman bagi ekonomi dunia. Perlu dicatat bahwa, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), tingkat utang luar negeri AS pada akhir 2015 adalah sebesar 108 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dalam beberapa dekade terakhir, di samping menjadi kekuatan ekonomi, dolar juga berperan sebagai sarana efektif untuk politik AS di bidang politik karena tingginya permintaan terhadap dolar. Seperti saat ini, dolar  digunakan oleh Amerika Serikat sebagai senjata melawan negara lain.

Michele Brand dan Remy Herrera, penulis artikel "Imperialisme Dolar" menyatakan, "Apa yang menentukan nilai dolar bukanlah jumlah dolar yang beredar, tetapi permintaan untuknya. Permintaan ini sangat besar karena posisi dolar sebagai mata uang internasional. Posisi dolar ini hanya dapat dipertahankan dengan dominasi militer AS, meskipun ekonomi AS dan kebijakan moneternya jauh lebih lemah."

Penulis artikel "Imperialisme Dolar" percaya bahwa "Dolar bukan hanya mampu menjaga imperialisme AS, melainkan perlindungan terhadap dolar merupakan salah satu alasan utama di balik perang imperialisme Amerika. Kekuatan finansial dan militer Amerika Serikat bergantung pada fakta bahwa dolar adalah mata uang cadangan devisa serta mata uang untuk perdagangan global. Ini menciptakan permintaan global cukup besar terhadap dolar. Permintaan tersebut memungkinkan AS mencetak dolar sebanyak apapun yang diinginkannya."

Hegemoni Amerika dan penyalahgunaan negara itu dalam perdagangan global berbasis dolar untuk memberlakukan sanksi dan tekanan terhadap negara-negara lain telah menyebabkan banyak pemerintahan menghapus dolar dari pertukaran minyak dan perdagangan mereka, serta berusaha keluar dari dominasi dolar dengan menjalin kerjasama moneter bilateral dan multilateral.

Kelompok lima negara berkembang BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan selama empat tahun terakhir (sejak Juli 2014) telah secara aktif mempercepat proses peningkatan pertukaran perdagangan bilateral dengan menggunakan mata uang nasional mereka sendiri. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai dan solusi yang diusulkan, volume perdagangan negara anggota BRICS diperkirakan setiap tahunnya akan mencapai sekitar 17 persen dari total perdagangan global setiap tahun.

Jika ini tercapai, dolar akan disingkirkan dari 17 persen dari total perdagangan global, yang berarti kebebasan banyak negara dari dolar dalam kegiatan ekonomi mereka. Menghapus dolar dari pasar global bukan hanya akan menghilangkan pengaruh Amerika pada pertukaran netral ini, tetapi juga menghapus biaya konversi mata uang menjadi dolar dan sebaliknya. Di sisi lain, penggunaan mata uang nasional negara-negara dalam rangka meningkatkan nilai dan kredibilitasnya di pasar internasional akan meningkatkan pertukaran bilateral dan multilateral negara-negara dalam bentuk perjanjian moneter.

Dolar

Kemungkinan pencetakan dolar, permainan suku bunga, dan adopsi kebijakan kontraksi moneter dan ekspansi moneter oleh pemerintah AS membuka peluang bagi Washington untuk memainkan perekomian banyak negara yang bergantung pada dolar. Guna menghindari situasi tersebut, beberapa negara berusaha menghapus dolar dan mengurangi pengaruh dolar dalam perdagangan mereka. Investasi dalam bentuk mata uang regional serta penandatanganan kontrak dan laporan keuangan berdasarkan mata uang non-dolar dapat mengurangi pengaruh dolar atas perdagangan global.

Mempertimbangkan perlunya parameter nilai pertukaran ekonomi di tingkat global, tampaknya keberadaan mata uang sebagai cadangan dan global baru sangat diperlukan. Satuan moneter kokoh, mata uang bukan milik satu negara, dapat mengikis dominasi dolar di pasar global. Mata yang tersebut perlu dikelola oleh lembaga internasional. Lembaga handal dan netral dibandingkan dengan lembaga yang ada saat ini.

Sep 09, 2018 15:05 Asia/Jakarta
Komentar