Mei 12, 2019 14:41 Asia/Jakarta
  • Ledakan teroris di Sri Lanka
    Ledakan teroris di Sri Lanka

Maithripala Sirisena, Presiden Sri Lanka menyampaikan laporan tentang bagaimana pasukan keamanan menangani para tersangka serangan teroris Palestina pada hari Paskah kepada parlemen negara ini seraya menyatakan bahwa 56 tersangka terkait serangan ini telah ditahan dan telah mengidentifikasi tiga belas rumah dan 41 rekening bank.

Pada saat yang sama, Uskup Agung Colombo menyerukan agar menjaga ketenangan dan mengakhiri aksi-aksi anti-Muslim yang provokatif. Permintaan ini dibuat setelah serangan baru-baru ini terhadap Muslim di kota negombo serta gangguan dan pelecehan terhadap mereka.

Ledakan teroris di Sri Lanka

Dalam serangan teroris 21 April terhadap gereja-gereja St. Anthony di ibukota, Colombo, Katuwapitiya di Katana, serta St Sebastian di Negombo dan pada saat yang sama hotel-hotel Shangri-La, Kingsbury dan hotel Grand Cinnamon di ibukota menewaskan sekitar 400 orang dan lebih dari lima ratus orang terluka. Dewan Muslim Sri Lanka langsung mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan itu dan menekankan bahwa beberapa ekstremis berusaha untuk menciptakan keretakan antara kelompok etnis Sri Lanka dan ngin mengganggu kehidupan yang damai antara agama, suku dan ras di negara ini.

Meskipun sejumlah kalangan media tidak mengesampingkan kemungkinan keterlibatan anggota yang tersisa dari organisasi yang dibubarkan, separatis Tamil dalam serangan teroris 21 April, tetapi pemerintah Sri Lanka telah menyatakan kelompok lokal yang disebut "Jamaah Tauhid Nasional" yang bertanggung jawab atas serangan itu, dan menekankan bahwa kelompok kecil ini tidak dapat mengatur serangan yang begitu luas. Karena itu, ia bekerja sama dengan kelompok teroris internasional. Kelompok teroris Daesh (ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan teroris Sri Lanka baru-baru ini dengan mempublikasikan gambar Zahran Hashim, ketua kelompok teroris Jamaah Tauhid Nasional.

Presiden Sri Lanka mengatakan beberapa anggota kelompok teroris, "Jammiyathul Millathu Ibrahim" juga berpartisipasi dalam serangan terorisdi Hari Paskah. Dia menyebut kelompok itu ilegal dan tidak sah dan dituntut. Kelompok teroris yang dikenal dengan Jamaah Tauhid Nasional dibentuk tahun 2014 oleh seorang ekstrim bernama Zahran Hashim di timur Sri Lanka.

Sebagian meyakini bahwa kelompok teroris ini merupakan cabang dari Jamaah Tauhid Nasional Sri Lanka yang pemimpinnya telah ditangkap tahun 2016. Dengan mencermati bahwa kelompok teroris Jamaah Tauhid Nasional memulai aksinya dengan menyerang patung Budha, tujuannya adalah upaya untuk menyeret umat Islam dan Budha, Muslim dan Hindu atau Muslim dengan Kristen terlibat konflik di Sri Lanka.

Maithripala Sirisena, Presiden Sri Lanka

Kelompok yang disebut "Jamaah Tauhid Nasional" hanyalah kelompok lokal yang mengkritik diskriminasi terhadap Muslim di Sri Lanka dan mencoba untuk merekrut anggota lebih banyak. Kelompok-kelompok ekstremis eqn p3lqku kekerasan di Pakistan, Bangladesh dan India di bawah pengelolaan keuangan dan militer sebuah organisasi yang solid seperti Wahabisme dan Arab Saudi, di mana di Pakistan disebut Lashkar-e-Jhangvi dan Sipah-e-Sahaba, sementara di India dan Bangladesh atas nama Jamaat-e-Islami yang dikenal sebagai cabang dari Wahhabisme. Dengan demikian, kemungkinan "Jamaah Tauhid Islam" Sri Lanka memiliki dengan kelompok-kelompok ini bukan sesuatu yang terlalu mengada-ada.

Misi pertama dan terpenting dari mereka semua adalah untuk menumbuhkan sektarianisme dengan menciptakan perang agama antara minoritas yang berbeda. Altolabetoben, pakar anti-terorisme soal serangan teroris Sri Lanka, mengatakan, "Serangan terkoordinasi semacam itu tidak biasa di negara ini dan memiliki karakteristik serangan kelompok teroris Daesh dan al-Qaeda."

Setelah pasti kekalahan kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah, kelompok itu mencoba memperluas cakupan kegiatan globalnya memanfaatkan kemampuan finansialnya dengan mengambil kesetiaan dari kelompok-kelompok lokal di Asia Selatan dan Tenggara. Dan dengan mentransfer kekuatan terorisnya ke negara-negara dan wilayah dari mana mereka dirikim ke Suriah Irak, selain mengkonsolidasikan kembali organisasi, mereka berusaha mewujudkan apa yang disebut kekhalifahan Islam.

Kelompok teroris Maute di Filipina yang berhasil menduduki dan mengendalikan bagian kota Maravi untuk waktu yang singkat, melakukan bait dan sumpah kesetiaan kepada kelompok teroris Abu Sayyaf, sebenarnya mengumumkan keberadaan kelompok teroris Daesh di Asia Tenggara. Namun setelah gagal di Filipina, mereka melancarkan serangan teroris di Indonesia terhadap gereja-gereja.

Sementara Sri Lanka yang terletak di Asia Selatan, kelompok teroris Daesh menyatakan kehadirannya dengan mengambil baiat dari kelompok-kelompok lokal berusaha merekrut tentara bayaran lewat Jamaah Tauhid Islam dengan imbalan dolar. Mengingat Daesh tidak memiliki kemampuan untuk beroperasi di India, kehadirannya di Asia Selatan disampaikan dengan melakukan serangan teroris terbesar di Sri Lanka.

Sebelumnya, kelompok teroris Daesh mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan teroris di Pakistan, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lokal. Menurut sehynkag laporan yang dirilis, 32 orang warga Sri Lanka bergabung dengan kelompok teroris Daesh di Suriah dan Irak, setelah kekalahan kelompok ini Asia Barat dan begitu kembali ke Sri Lanka, mereka bergabung dan dikoordinasi dalam kelompok-kelompok teroris lokal seperti Jamaah Tauhid Nasional.

Scott Morrison, Perdana Menteri Australia dalam menanggapi serangan teroris Sri Lanka mengatakan, "Para pelaku serangan ini adalah elemen teroris yang kembali dari Suriah dan Irak dab untuk menangkal mereka, komunitas internasional harus bertindak tegas."

Scott Morrison, Perdana Menteri Australia

Sri Lanka adalah negara kepulauan di Samudera Hindia dan di sub-wilayah negara-negara anak benua India dan di Asia Selatan dengan populasi sebanyak 21 juta orang, di mana 9,7 persennya adalah Muslim. Meskipun Muslim Sri Lanka selalu memiliki kehidupan yang damai dengan Sinhala dan Tamil, dan memiliki hubungan yang baik dengan minoritas Hindu dan Kristen, mereka selalu berada di bawah tekanan dari pemerintah dan organisasi separatis Tamil, yang menuduh Muslim bekerja sama dengan lawan-lawan mereka. Muslim mendukung pemerintah Colombo untuk membangun negara itu ketika perang etnis di Sri Lanka berakhir dekade lalu.

Sekalipun demikian, umat Islam tidak pernah selamat dari serangan para ekstremis. Sementara kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda mencoba menggunakan isu kemiskinan dan diskriminasi yang diterapkan terhadap Muslim untuk merekrut dan membangun basis regional, namun tidak pernah berhasil. Oleh karena itu, pembentukan kelompok-kelompok teroris dan ekstremis seperti "Jamaah Tauhid Nasional" harus dipertimbangkan sebagai arah program dan gerakan yang dikoordinasi oleh arus besar ekstremisme yang dipimpin oleh Wahabisme dan bantuan keuangan Arab Saudi dan Barat, yang berupa kebijakan sektarian dan penyebab konflik agama antara Muslim dan Kristen, dan dalam skala besar dengan Hindu dan Budha.

Sebagian besar analis menganggap serangan teroris ke masjid-masjid Muslim di Selandia Baru dan gereja-gereja di Sri Lanka merupakan satu paket dan sepenuhnya sesuai dengan teori Samuel Huntington dalam bukunya "The Clash of Civilisations", Benturan Peradaban; antara Islam dan Kristen dan menekankan kemungkinan realisasinya. Teori-teori semacam itu, termasuk gerakan terorganisir dan sudah direncakan di Barat, dipandu oleh rezim Zionis Israel. Teori benturan peradaban antara Islam dan Kristen diperkenalkan oleh Samuel Huntington setelah runtuhnya Uni Soviet.

Oleh karena itu, rekomendasi terbaru Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat kepada Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, untuk mempertahankan kelompok-kelompok teroris, khususnya Daesh di Timur Tengah untuk mencegak pembentukan Kekaisaran Islam dan mempertahankan hegemoni global Amerika Serikat, harus dimaknai sebagai upaya untuk memperbarui teori Benturan Peradaban. Pernyataan Azzam Ameen, ahli politik dan keuturan Sinhala di Sri Lanka soal serangan teroris di negara ini dilakukan sangat terkoordinasi dan dengan rencana yang detil, dapat menjadi poin untuk memahami teori Benturan Peradaban.

Namun, konsekuensi dari serangan teroris Sri Lanka sangat signifikan di sektor domestik dan internasional. Dalam lingkungan internal tekanan oleh pemerintah Colombo, sejumlah gerakan ekstrimis Sinhala dan Tamil dan gerakan Kristen telah meningkat atas umat Islam. Presiden Sri Lanka mengeluarkan perintah larangan penggunaan cadar yang menutup wajah wanita muslimah dan menyatakannya sebagai langkah darurat dengan alasan keamanan.

Di tingkat internasional, serangan teroris Sri Lanka juga telah menyebabkan meningkatnya kebijakan arogansi kepada umat IslamIslam yang meningkat, sementara banyak kalangan Amerika Serikat Donald Trump, rasis, dan perilaku rasis yang egois dan kebijakan telah menjadi kontributor penting bagi penyebaran serangan rasis. Dan religius di dunia.

Tags

Komentar