Mei 14, 2019 12:10 Asia/Jakarta
  • Hari Keluarga
    Hari Keluarga

Para pemikir dari berbagai komunitas berusaha untuk menemukan solusi dasar untuk menciptakan keluarga yanag sehat, mempertahankannya dan memperkuatnya.

Keluarga sebagai institusi sosial utama telah menjadi asal mula budaya dan peradaban dalam sejarah manusia. Memperhatikan fondasi sakral dan fundamental keluarga dan mengarahkannya ke posisi sebenarnya, memodifikasi komunitas manusia dan mengabaikannya, mengarah pada penyingkiran manusia dari kehidupan sejati dan transendental. Di dunia kita, pengabaian perbedaan alami antara pria dan wanita dan desakan pada kesetaraan, penyebaran kekerasan dan ketidakpedulian, pengurangan kekuatan toleransi pasangan dan, akhirnya, kurangnya prevalensi budaya transendental dan berharga, membuat keluarga lebih rentan dari sebelumnya. Apakah Selain itu, keluarga yang telah dibentuk dalam kondisi seperti itu tidak memiliki keakrabann, kehangatan dan keceriaan yang dibutuhkan?

Di zaman sekarang, para pemikir dari berbagai komunitas berusaha untuk menemukan solusi dasar untuk menciptakan keluarga yanag sehat, mempertahankannya dan memperkuatnya. Karena itu, setiap tahun pada 15 Mei (25 Ordibehesht) diperingati sebagai Hari Keluarga Internasional. Pada hari ini, dilakukan berbagai acara seperti mengadakan lokakarya dan konferensi, program budaya dan media, artikel dan ceramah diadakan untuk menyoroti masalah keluarga.

Topik yang menjadi fokus PBB pada 2019 adalah isu perubahan iklim dan lingkungan yang menjadi masalah saat ini. Untuk mengatasi masalah keluarga di dunia, PBB telah mengajukan perlindungan keluarga tahun ini dengan slogan "Aksi Keluarga dan Iklim" untuk mencoba memperkenalkan metode yang ada setiap keluarga dalam kondisi iklim mereka melakukan langkah-langkah berpengaruh untuk mengelola perubahan ini.

Perubahan iklim adalah rantai yang saling terkait. Rantai kegiatan pembangunan ini, terutama penggunaan bahan bakar fosil, dimulai dengan sejumlah implikasi. Apa yang sejauh ini telah dipelajari dan dipertimbangkan adalah angka produksi emisi gas rumah kaca, pengendaliannya dan, pada akhirnya, fenomena yang dihasilkan darinya, seperti pemanasan bumi, tenggelamnya tempat pemukiman, badai, banjir atau kekeringan. Sementara bencana besar akan terjadi setelah tahap ini. Fenomena ini akan menyebabkan tuna wisma, pengungsian besar-besaran, kehilangan kewarganegaraan, kemiskinan dan rasa tidak aman. Perubahan iklim telah menyebabkan perubahan dalam kehidupan ratusan juta orang, tetapi sebagian besar bahkan tidak menyadari bahwa mereka adalah korban dari perubahan iklim. Dari 262 juta orang yang diperkirakan telah terkena dampak perubahan iklim antara 2000 dan 2004, 98 persen di antaranya berada di negara berkembang.

Tidak diragukan lagi, semua orang yang peduli tentang masa depan dan masyarakat masa depan dapat berpengaruh dalam hal ini. Keluarga, sebagai basis sosial paling penting yang juga merupakan pendiri lembaga sosial lainnya, dapat memainkan peran mereka sebagai aktor utama dalam evolusi masyarakat dengan memodifikasi sikap dan gaya hidup dan memengaruhi perencanaan, dan pada topik seperti konservasi ini memiliki dampak pada lingkungan dan merupakan faktor untuk perubahan yang mendukung kondisi modern, dan penggunaan pengetahuan paling mutakhir dalam pembuatan kebijakan.

Mungkin anggota keluarga tidak tahu kapan mereka menonton televisi, atau bermain dengan komputer, mereka menggunakan pendingin atau koil kipas, mereka menggunakan stereo, menyalakan lampu, mencuci pakaian, atau menyetrikanya, naik mobil, mereka memakan makanan yang dipanaskan oleh microwave, atau menggunakan pemanas gas atau minyak, semua ini membantu mereka menghasilkan gas rumah kaca di udara.

Emisi gas rumah kaca memiliki efek negatif pada iklim planet ini. Keluarga, terutama wanita, dengan menggunakan enerti secara tepat gua berperan besar dalam mengurangi konsumsi energi, konsumsi gas, dan menggunakan alat pemanas dan pendingin sesuai standar.

Wanita mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, seperti kemampuan memodifikasi pola penanaman dan irigasi, dan konservasi sumber-sumber air dan tanah oleh petani perempuan dan lulusan pertanian.

Memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptif terhadap iklim dan bencana alam di semua negara adalah cita-cita yang UNESCO harapkan untuk capai dan membantu mengurangi kerusakan rumah tangga dalam kemitraan dengan negara-negara.

Tetapi, hal yang harus dipertimbangkan adalah bahwa itu bukan upaya serius untuk memahami dan mereformasi strukturnya hanya dengan menyebutkan satu hari atas nama keluarga, atau dengan mengatakan bahwa keluarga adalah lembaga sosial yang penting. Hampir semua peneliti percaya bahwa kebijakan melindungi keluarga dalam langkah pertama harus menyiapkan kondisi yang dapat memperkuat hubungan emosional dan memperbaiki kesejahteraan rumah tangga. Keluarga yang sukses dan stabil membutuhkan kesuksesan dan stabilitas ekonomi. Dan harus direncanakan untuk mempromosikan mata pencaharian dan ekonomi keluarga dengan memberdayakan mereka. Juga, keluarga di dunia saat ini menghadapi tantangan dalam menggabungkan modernitas dengan perubahan cara memandang keluarga. Cara pandang seperti ini dalam beberapa kasus menyebabkan gangguan keluarga, dan peran identitas dan pendidikan semakin berkurang setiap hari. Sementara prinsip terpenting dalam keluarga adalah harus memiliki target. Oleh karena itu, budaya Islam telah menekankan pembentukan keluarga dan pelestarian dan stabilitasnya.

Karena komunitas terdiri dari keluarga, spesifikasinya dapat dijelaskan melalui hubungan keluarga. Efek dari keluarga yang sehat dan sukses, atau konsekuensi dari kehilangan keluarga akan berdampak pada masyarakat. Pembentukan keluarga dan perannya dalam ketenangan atau kegelisahan masyarakat, motivasi anggotanya juga akan mempengaruhi motivasi komunitas. Dan bagaimana gaya hidupnya memainkan peran penting dalam etika masyarakat dan kesehatan atau penyakitnya. Karena itu, melihat kembali keluarga dalam bentuk diskusi dan ekspresi fungsinya memiliki sejarah yang panjang. Lembaga sakral ini telah lama menarik bagi para sarjana karena urgensi dan posisi pentingnya dalam kehidupan manusia.

Para sosiolog, politisi dan perencana telah mempertimbangkan keluarga sebagai komunitas dan mempelajarinya dengan pendekatan agama, moral, filosofis dan hukum. Sejak munculnya ilmu-ilmu baru, kita telah menyaksikan studi sejarah, antropologis, psikologis, dan terutama sosiologis dari subyek keluarga. Sosiolog menyebut fungsi yang luas untuk institusi keluarga seperti, mengatur perilaku seksual, reproduksi, dukungan dan perawatan, sosialisasi, kasih sayang dan kerekanan, menyediakan status sosial bagi anggota keluarga, mengendalikan pasangan dan anak-anak, fungsi ekonomi, dan ketidaksetaraan yang berkelanjutan.

Keluarga memainkan peran penting dalam membangun dan memberikan identitas manusia, dan Tuhan menganggapnya sebagai sumber ketenangan dan kedamaian, dan melihat ketenangan ini sebagai tanda-tanda keagungan dan kekuatan Tuhan. Yaitu, seorang wanita dan seorang pria yang tidak memiliki ikatan emosional dan jiwa satu sama lain. Dengan pernikahan dan pembentukan keluarga, mereka dihubungkan bersama dalam hubungan jiwa dan saling memberikan ketenangan.

Allah Swt dalam surat al-Rum ayat 21 berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

Menurut para pemikir dan reformis masyarakat, perlu melakukan investasi luas untuk meningkatkan jumlah keluarga yang diinginkan, sehingga mencegah runtuhnya fondasi sosial asli ini. Sejarah dan pengalaman menegaskan bahwa dengan perangkat hukum saja, fondasi keluarga tidak dapat dikonsolidasikan, terutama di dunia saat ini. Cara terbaik untuk mencapai tujuan seperti itu adalah memperhatikan nilai-nilai spiritual dan etika dan mendekati kembali pusat keluarga sebagai fondasi dan dasar masyarakat yang sehat. Islam adalah sekolah transendental yang menetapkan cara ini dan menekankan ketaatan pada prinsip-prinsip etika di semua bidang, termasuk dalam hubungan keluarga.

Tags

Komentar