Nov 30, 2021 11:47 Asia/Jakarta
  • Stagflasi AS dan Cina akan Pengaruhi Inflasi Indonesia ?

Fenomena stagflasi atau lonjakan harga barang dan jasa yang diiringi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi mulai terjadi di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Cina. Kondisi ini menyita perhatian analis yang mengingatkan kemungkinan dampaknya bagi inflasi di Indonesia.

Kekhawatiran stagflasi tak hanya muncul di AS, Cina dan Jepang juga menghadapi kondisi serupa.

IHK Cina sebetulnya masih rendah sebesar 0,7% secara bulanan dan 1,5% secara tahunan. Kinerja tahun tersebut juga masih berada di bawah target pemerintah 3% tahun ini. Meskipun demikian inflasi bulan lalu merupakan kenaikan dalam lima bulan berturut-turut. Inflasi tahunan juga tertinggi sejak September tahun lalu.

Menkeu Indonesia Sri Mulyani menyatakan pemerintah akan berupaya untuk mendorong pemulihan dari sisi permintaan tanpa menimbulkan lonjakan inflasi.

Pemerintah tetap akan melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan harga, baik dari sisi harga yang bergejolak, harga yang diatur pemerintah, maupun inflasi inti. 

"Di AS dan Eropa, distrupsi suplai memberikan dampak yang luar biasa. Kita harus waspada kemungkinan ini terjadi di Indonesia jika kenaikan permintaan lebih cepat dari kenaikan suplainya . Untuk itu sektor manufaktur perlu disiapkan," kata dia. 

Sejauh ini, menurut Sri Mulyani, industri manufaktur juga sudah memasuksi zona ekspansi. Dengan demikian, suplai diharapkan terjaga saat permintaan kembali naik. 

Efek Rambatan Stagflasi di Cina dan AS Meski kemungkinan tak terjadi di Indonesia, stagflasi yang terjadi di AS, Cina, dan beberapa negara lainnya tentu membawa pengaruh bagi perekonomian Indonesia. Ada dampak positif dan negatif dari kondisi tersebut. 

David Sumual menilai kondisi stagflasi yang kini terjadi di Cina dan AS justru menjadi berkah bagi Indonesia. Hal ini lantaran lonjakan inflasi disebabkan oleh krisis energi yang berdampak pada harga komoditas. Kenaikan harga komoditas ini positif bagi perekonomian Indonesia. 

"Kita justru diuntungkan dengan stagflasi yang terjadi di negara lain. Tahun 1950an, saat stagflasi dan harga karet naik. Tahun 1970an juga sama, kita diuntungkan karena harga migas naik," kata David.

Sementara saat ini, menurut dia, neraca perdagangan Indonesia Januari-Oktober berhasil mencetak surplus besar mencapai lebih dari US$ 30 miliar seiring harga komoditas yang melonjak akibat krisis energi. 

"Neraca transaksi berjalan kita bahkan bisa mengarah ke surplus, karena ada 'durian runtuh' dari kenaikan harga batu bara, CPO, dan lain-lain.

Ekonomi luar jawa yang terutama menikmati," kata dia. 

Sementara itu, Josua melihat dalam jangka pendek, kenaikan inflasi di AS dapat mendorong pasar kembali memperhatikan rencana tapering off The Fed.

Sekalipun bank sentral sudah memperingatkan belum mempertimbangkan kenaikan bunga acuan, pasar semakin khawatir dengan inflasi yang memanas.

"Kenaika inflasi tersebut dampaknya langsungnya sudah terlihat dari rupiah melemah, kenaikan inflasi mendorong tren yield US Treasury meningkat," kata Josua.

Adapun dalam jangka panjang, jika inflasi terus naik dan bertahan lama, dapat memicu pemulihan ekonomi AS terganggu. Pemulihan yang melambat dapat memukul perekonomian domestik melalui jalur ekspor-impor. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat mendorong permintaan ekspor dari Indonesia juga turun, padahal AS adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.(PH)   

 

Tags