Des 01, 2021 10:31 Asia/Jakarta
  • Ketua Satgas Covid-19 IDI: Omicron di Afsel Menurun, Indikasi Positif

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menyoroti angka kematian COVID-19 di Afrika Selatan yang menurun dan menilainya sebagai indikasi positif.

Menurut dia, angka kematian yang dilaporkan di akhir November terus menurun. Artinya, Zubairi menilai kemunculan varian Omicron di Afrika Selatan tidak perlu terlalu dikhawatirkan meskipun tingkat penularan amat tinggi. Ia menilai kondisi tersebut sebagai sinyalemen positif.

"Data kematian Afsel, negara dengan kasus Omicron terbanyak. 25 November 144 jiwa, 26 November 12 jiwa, 27 November 8 jiwa, 28 November 6 jiwa, 29 November 25 jiwa," beber Zubairi dalam akun Twitter pribadinya.

"Tentu kematian bukan sekadar angka. Tapi poin saya, angka itu cukup rendah, sehingga tak perlu panik meski penularan tinggi. Namun, harus waspada untuk jaga-jaga," sambungnya.

Varian Omicron semakin menyebar ke banyak negara termasuk sejumlah negara Asia yakni Hong Kong hingga Jepang. Singapura belakangan juga mengkhawatirkan dua pelancong yang sempat transit di Bandara Changi, terkonfirmasi positif COVID-19 varian Omicron.

Indonesia hingga kini belum mencatat satupun kasus varian Omicron secara resmi, pemerintah terus memperketat pintu masuk dengan memperpanjang masa karantina menjadi 14 hari untuk warga negara Indonesia yang baru berpulang dari negara dengan kasus terkonfirmasi varian Omicron.Baca artikel detikHealth, "Pakar IDI Soroti Angka Kematian di Afsel, Negara Kasus Omicron Terbanyak" 

Sementara itu, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai varian Omicron bisa jadi sudah ditemukan di Indonesia.

"Kemungkinan bahwa varian ini sudah ada atau terdeteksi setidaknya 1,2,3 (kasus) itu ya tentu ada, karena pertama kalau bicara ketika varian ditemukan iya bukan berarti pada hari itu dia benar-benar baru muncul, kan nggak seperti itu," beber Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (30/11/2021).

Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI segera menerapkan larangan masuk bagi pendatang dari delapan negara Afrika pada Minggu (28/11). Delapan negara itu di antaranya Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, Mozambik, Eswatini, dan Nigeria.

Pemerintah RI juga menyetip sementara pemberian visa tinggal terbatas bagi warga 8 negara tersebut. Namun, kebijakan itu tak berlaku bagi delegasi negara G20 yang akan datang ke Indonesia.Pemerintah juga memperpanjang masa karantina orang dari luar negeri menjadi 7 hari dari sebelumnya 3 hari.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan aturan itu berlaku bagi warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA). Aturan berlaku sejak Senin (29/11).

Kementerian Perhubungan juga menyatakan menerapkan pembatasan perjalanan darat bagi WNI dan TKI yang akan pulang ke Indonesia dengan mengurangi jumlah gerbang masuk ke Indonesia.Sementara itu, pelaku perjalanan TKI juga harus melakukan empat tahap pemeriksaan sebelum pulang.

Pertama, tes rapid antigen. Kedua, pengecekan dokumen, identitas diri, dan barang bawaan (CIQ) pelaku perjalanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Ketiga, penentuan tempat karantina yang dibutuhkan. Keempat, melakukan tes RT-PCR satu hari setelah pelaku perjalanan internasional tiba di lokasi karantina.(PH)

Tags