Des 06, 2021 19:31 Asia/Jakarta

Gunung Semeru kembali memuntahkan awan panas pada Senin (6/12/2021) sekitar pukul 09.00 WIB. Akibatnya, hujan abu kembali turun. Warga Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang panik dan lari berhamburan.

"Ayo, ayo cepat, bahaya ini," kata salah satu warga bernama Sofa Marwa (38), dilansir Kompas.com.

Sofa Marwa mengaku ingin mengungsi karena merasa bahaya dengan erupsi tersebut. Warga lainnya, Dedi Afandi (30), juga mengungkapkan hal yang sama.

Menurutnya, awan pekat dari erupsi Gunung Semeru sangat berbahaya. "Erupsinya turun lagi, besar, lari-lari," ujarnya.

Terutama petugas yang ditugaskan melakukan pembersihan jalan di sekitaran Jembatan Gladak Perak. Turunnya hujan abu membuat mereka lari berhamburan.

"Semua disuruh turun, sekarang belum ada perintah lagi apakah sudah aman atau tidak," kata Personel Brimob Polda Jatim, Faisol, dikutip dari Tribun Jatim.

Dikatakan dia, Senin pagi sekira pukul 04.00 WIB, debit air di sungai laharan Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro juga mengalami peningkatan.

"Cukup riuh pas subuh tadi, terutama relawan yang jaga-jaga. Kalau warga sudah banyak yang ngungsi," terangnya.

Mengutip Kompas.com, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mencatat sebanyak 2.970 rumah warga terdampak erupsi Gunung Semeru.

Sebagian rumah warga rusak dan tertimbun material awan panas guguran Gunung Semeru. Sementara sebagian lainnya penuh dengan abu. Seperti rumah warga di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo yang luluh lantak akibat material erupsi Gunung Semeru.

"Jumlah rumah terdampak APG Semeru 2.970," kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Kabupaten Lumajang, Joko Sambung melalu keterangan tertulis, Minggu (5/12/2021).

Data tersebut terkumpul per Minggu pukul 17.00 WIB. Selain rumah warga, ada 13 fasilitas umum yang ikut terdampak. Terdiri dari jembatan, sarana pendidikan, dan tempat ibadah.

Dampak fasilitas umum terparah adalah putusnya Jembatan Gladak Perak yang menjadi akses utama Lumajang dan Malang.

Sementara itu, diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat erupsi Gunung Semeru sebanyak 15 orang.

Sementara itu, terdapat sebanyak 27 orang dinyatakan hilang. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, pihaknya masih akan terus mengecek dan memvalidasi data untuk memastikan status korban.

"Pengecekan dan validasi data terus dilakukan untuk memastikan status korban tersebut." "Hingga hari ketiga, posko tetap melakukan operasi pencarian dan pertolongan terhadap kemungkinan warga yang menjadi korban awan panas guguran Gunung Semeru," kata Abdul dilansir laman resmi bnpb.go.id.

Dari 15 orang korban meninggal dunia, 8 di antaranya telah teridentifikasi di Kecamatan Pronojiwo. Sementara 7 korban lainnya teridentifikasi di Kecamatan Candipuro. (RA)

Tags