Aug 13, 2022 08:48 Asia/Jakarta
  • Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Naik Dua Kali Lipat

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 meminta pemerintah dan masyarakat Indonesia tetap waspada terhadap penularan virus corona, usai jumlah positivity rate atau rasio kasus positif Covid-19 meningkat hampir dua kali lipat belakangan ini.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito melanjutkan, positivity rate di Indonesia mengalami kenaikan signifikan dalam lima pekan terakhir, yakni dari 5,12 persen menjadi 10,05 persen.

"Jika dibandingkan dengan saat puncak Omicron lalu, dalam 5 minggu kenaikan hampir 17 persen. Sedangkan saat puncak delta lalu kenaikan 9 persen," kata Wiku hari Jumat (12/8).

"Artinya, kenaikan positivity rate kali ini masih lebih rendah dibanding saat puncak Omicron dan Delta. Namun, ini tetap perlu kita waspadai karena positivity rate sudah di atas 10 persen," imbuhnya.

Wiku menyebut, kenaikan angka positivity rate ini merefleksikan kenaikan kasus positif Covid-19 di tengah masyarakat. Jumlah kelurahan atau desa yang dipantau dalam sebulan terakhir, lanjut Wiku, juga mulai terlihat mengalami tren kenaikan kasus meski belum terjadi secara signifikan.

Untuk itu, Wiku mengingatkan perlu adanya penyesuaian strategi vaksinasi Covid-19 di Indonesia yaitu dengan cara mempercepat pemerataan cakupan vaksinasi dosis terlengkap maupun dosis pengat agar mencapai kekebalan optimal.

"Saat ini, tugas kita bukan sekadar memastikan diri sendiri sudah divaksinasi lengkap, namun juga orang di sekitar kita. Karena tujuan utama kita adalah membentuk kekebalan kolektif bukan individual," ujarnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi puncak kasus virus Covid-19 di Indonesia kemungkinan masih bisa terjadi pada akhir Agustus 2022.Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu menyebutkan ketidakpastian proyeksi puncak kasus Covid-19 di Indonesia itu terjadi lantaran karakteristik subvarian Omicron BA.4, BA.5, dan BA.2.75 di Indonesia berbeda dengan sejumlah negara lainnya.

"Memang kalau kita mengikuti Omicron BA.4 BA.5, pola di Afrika Selatan ditemukan itu puluhan ribu kasus [per hari], tapi kita tidak mengikuti pola itu," kata Maxi dalam rekaman suara yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (12/8).

"Jadi [puncak akhir Agustus] bisa, kalau lihat ini, dan semoga tidak ada subvarian baru lagi," imbuhnya.

Maxi menilai sementara ini tingkat penularan BA.2.75 masih lebih rendah dibandingkan dua subvarian sebelumnya yakni BA.4 dan BA.5.

Namun, Kemenkes masih menunggu kajian dan penelitian terkait karakteristik BA.2.75 berdasarkan temuan di sejumlah negara.

Ia mengatakan Kemenkes terus berupaya memperkuat mitigasi sebaran subvarian baru. Apalagi baru-baru ini ada ancaman subvarian terbaru BA.4.6 yang masih belum teridentifikasi di Indonesia.(PH)

 

 

 

Tags