Jun 16, 2018 15:44 Asia/Jakarta
  • Idul Fitri
    Idul Fitri

Kembali ke kondisi fitri adalah momen yang mestinya direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa. Oleh karena itu, sejumlah tokoh nasional menyatakan bahwa makna Idulfitri harusnya menjadi momen umat saling merangkul, membesarkan, dan tak mengecilkan satu dengan lainnya.

 “Idulfitri adalah kondisi kembali ke nol. Yang buruk kita tanggalkan, kembali bersih. Kita harus saling membesarkan, jangan saling mengecilkan. Ini momen kita untuk saling bersatu, bukan cerai berai, apalagi berseteru yang bersifat paradoks dari makna Idulfitri,” ujar Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko kepada wartawan, usai Shalat Jumat (15/6).

 

“Jadi amatlah disayangkan jika semua potensi ini tergerus karena warga negaranya tak berpikiran bersatu,” tambah mantan Panglima TNI yang juga bergelar doktor ini.

 

Ajakan bernada serupa juga diutarakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Zainut Tauhid Sa'adi. Lewat keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Gatra.com, Zainut mengajak kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menjadikan hari raya Idulfitri sebagai momentum menjaga kohesi sosial, menjaga perdamaian, memperkuat dan mengokohkan kembali ikatan dan hubungan antar sesama saudara seagama (ukhuwah islamiyah), saudara sebangsa (wathaniyah), saudara sesama manusia (insaniyah).

Image Caption

 

Terlebih lagi, menurutnya Idulfitri  tahun ini dekat dengan agenda politik nasional berupa Pemilukada, Pemilihan legislatif dan Pemilihan  Presiden 2019. Lebih lanjut, sebagai  Wakil Ketua Umum MUI, Zainut mengimbau kepada para khatib shalat Idul Fitri untuk selain menyampaikan pesan peningkatan keimanan dan ketakwaan, persaudaraan dan kedamaian kepada para jamaah, juga mengingatkan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya terorisme, narkoba, minuman keras, dan segala bentuk perbuatan mudharat lainnya.

 

“Perbedaan aspirasi politik merupakan hal biasa yang harusnya dipandang sebagai rahmat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Zainut.

 

Pada kesempatan lain, cendekiawan muslim Prof Komaruddin Hidayat berharap Idul Fitri menjadi momen bagi anak bangsa untuk mendinginkan suhu politik. “Momen Idul Fitri dengan libur lebaran yang cukup panjang memang memberi jeda cooling down, semua bersilaturahmi, kondisi ekonomi juga saya kira meningkat, jadi betul-betul dinikmati lah lebaran kali ini,” ujarnya saat dihubungi wartawan.

 

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, meski suhu politik dipastikan akan naik lagi usai Idul Fitri, ia mengimbau masyarakat untuk tidak lagi, atau mengurangi ujaran-ujaran kebencian baik bentuk tulisan, gambar, atau lainnya.

 

Sedangkan Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Achmad Satori Ismail menyatakan bahwa hari raya ini harus dimaknai sebagai momentum untuk tetap menjaga perdamaian antar umat manusia. "Menjaga persatuan, menjaga ukhuwah, dan menjaga persatuan, itu yang paling penting," katanya.

 

Seperti dikemukakan Moeldoko, Satori menegaskan, pada dasarnya semua agama menginginkan dan mengajarkan hal yang sama, yakni perdamaian. Di mana perdamaian dapat terwujud jika antar umat saling mengasihi dan menghormati perbedaan. "Oleh karena itu, semua langkah kita arahkan kepada penciptaan dalam wujud kasih sayang di kehidupan nyata," imbuhnya.

 

Dalam konteks politik, dia juga mengajak seluruh masyarakat dalam para elit politik agar memiliki kesamaan pandangan dan niat untuk membangun bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. "Tujuannya harus sama untuk membangun negeri ini," tutur Satori.

 

Sementara itu, Pemuka Agama Islam Kota Manado, Sofyan Lahilote, mengajak seluruh muslim untuk menjadikan Idul Fitri, sebagai motivasi untuk makin mencintai Tanah Air.

 

"Kita ini diciptakan Allah SWT dari tanah, karena itu harus mencintai Tanah Air Indonesia tempat kita tinggal," kata Lahilote, di Manado, Jumat.

 

Dia mengatakan, mencintai Tanah Air adalah fitrah manusia, sebab itu maka secara naluriah manusia itu mencintai Tanah Airnya, dan keragamannya.

 

Menurut Lahilote, hari raya Idul Fitri, melambangkan kembali ke fitrah, dimana manusia ibarat baru dilahirkan dari rahim ibunya, maka harus terus sadar dan menjadi lebih baik.

 

Dia mengatakan, pada hari ini semua kembali ke fitrah, kesucian jiwa, bagaikan lahir kembali dan terlepas dari kungkungan dosa, tekanan hawa nafsu dan terbebas dari ahlak tercela, keangkuhan dan kesombongan.

 

"Alhamdullilah Insya Allah terbebas dari kekosongan iman, seperti kata Rasulluah, barang siapa berpuasa dengan penuh keimanan dan kesadaran mengharapkan ridho Allah, diampunilah dosanya terdahulu," katanya.

 

Dia juga juga menjelaskan, bahwa Allah SWT berfirman, tidak melarang seorang muslim berlaku adil, dengan memberikan sebagian hartanya kepada siapapun, walaupun bukan muslim.

 

"Muslim tidak dilarang berlaku adil walaupun bukan kepada sesama, asalkan tidak memerangi agamamu dan tidak mengusirmu dari Tanah Airmu," katanya. (Gatra/antaranews)

 

Tags