Jan 18, 2020 12:51 Asia/Jakarta
  • Suhu panas
    Suhu panas

Suhu panas yang terjadi sepanjang tahun 2019, ternyata merupakan yang terpanas sepanjang sejarah.

Melansir DW Made for Minds, Jumat (17/1/2020), PBB menyampaikan dekade terakhir adalah yang terpanas, dan sepanjang tahun 2019 diklaim sebagai tahun terpanas kedua.

Sebelumnya, suhu terpanas sepanjang sejarah juga pernah terjadi pada tahun 2016.

Organisasi berbasis di Jenewa, Swiss, tersebut mengumpulkan data dari berbagai pengukuran di dunia, di antaranya yang dikumpulkan Badan Angkasa Luar milik Amerika Serikat, atau NASA dan Data dari Kantor Cuaca Inggris.

Menurut World Meteorological Organization atau Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), semua penduduk dunia harus bersiap-siap menghadapi suhu udara yang lebih panas dan dapat mengakibatkan bencana, seperti kebakaran semak yang terjadi di Australia.

Data yang disimpulkan WMO menunjukkan suhu global di tahun 2019 adalah 1.1 derajat Celcius di atas sebelum industri revolusi.

Angka ini kemudian dianggap sebagai angka yang aman.

Kebakaran di Australia

"Kita akan menghadapi suhu yang lebih ekstrem di sepanjang tahun 2020 dan juga selama beberapa dekade mendatang disebabkan gas rumah kaca yang ada di atmosfer," kata Sekjen WMO, Petteri Taalas seperti dikutip dari ABC Indonesia, Sabtu (18/1/2020).

Penyebabnya, kata Taalas, yakni karena tingginya tingkat gas rumah kaca yang membuat panas terangkap di atmosfer.

Dalam kesepakatan yang dicapai di Paris tahun 2015, dunia menyetujui untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, sehingga pemanasan global tidak melebihi 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Di atas angka tersebut, pemanasan global akan menyebabkan terumbu karang di dunia musnah dan juga melelehnya lapisan es di Kutub Utara.

Namun WMO mengatakan bila dunia tidak melakukan apapun, maka suhu dunia bisa naik antara 3 sampai 5 derajat Celcius.

Amerika Serikat, sebagai negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, serta produsen minyak dan gas besar, telah menarik diri dari Perjanjian Paris tahun lalu.

Emisi gas karbon harus turun

Serangkaian bencana dan peristiwa yang terjadi akibat cuaca panas ini telah banyak terjadi.

Taalas merujuk pada peristiwa kebakaran hutan hebat yang melanda Australia.

Akibatnya, kebakaran telah menewaskan 28 orang dan membuat puluhan ribu orang mengungsi.

Bahkan, kebakaran hebat di hutan-hutan benua ini telah membunuh hingga 1 miliar hewan. Bumi sedang dalam kondisi yang tidak baik.

PBB memeringatkan emisi karbon harus turun 7,6 persen per tahun untuk menyelamatkan bumi. (Kompas/Antaranews)

Tags

Komentar