Feb 17, 2020 12:29 Asia/Jakarta
  • Menurunnya pertumbuhan ekonomi global
    Menurunnya pertumbuhan ekonomi global

Wabah virus Corona diproyeksi mengganggu pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Demikian diungkapkan oleh Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva dalam Global Women's Forum di Dubai.

"Mungkin ada pemotongan yang kami perkirakan berada dalam persentase 0,1-0,2%," katanya, dikutip dari Economic Times, Senin (17/2/2020).

Sebelumnya pada World Economic Outlook Januari lalu, IMF telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,3%.

Sementara itu, dilaporkan bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan IV 2019 tercatat 404,3 miliar dolar AS, terdiri dari utang sektor publik (pemerintah dan bank sentral) 202,9 miliar dolar AS dan utang sektor swasta (termasuk BUMN) 201,4 miliar dolar AS.

Rupiah dan Dolar

ULN Idonesia tersebut tumbuh sebesar 7,7 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ULN pada triwulan sebelumnya sebesar 10,4 persen (yoy).

"Perkembangan tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah dan ULN swasta," kata Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) dalam info terbarunya di Jakarta, Senin. Demikian hasil pantauan Parstodayid dari Antaranews, Senin (17/02/2020).

Dijelaskan, posisi ULN pemerintah pada akhir triwulan IV 2019 tercatat sebesar 199,9 miliar dolar AS atau tumbuh 9,1 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 10,3 persen (yoy).

Pertumbuhan ULN pemerintah tersebut ditopang oleh arus masuk investasi nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan dual currency global bonds dalam mata uang dolar AS dan euro.

"Hal tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tinggi dan imbal hasil aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun," sebut Dekom BI.

Pengelolaan ULN pemerintah, katanya, diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,1 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,6 persen), sektor jasa pendidikan (16,2 persen ), sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib (15,4 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,3 persen).

Konflik Geopolitik Bikin Impor Indonesia Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor dan impor Indonesia untuk bulan Januari 2020. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, impor Indonesia untuk Januari 2020 turun tipis 1,60 persen dibandingkan dengan Desember 2019.

Dengan demikian, nilai impor Indonesia pada Januari 2020 ialah sebesar USD 14,28 miliar dari posisi Desember 2019 yang sebesar USD 14,51 miliar.

"Impor Indonesia turun 1,60 persen menjadi USD 14,28 miliar, didorong penurunan impor minyak dan gas sebesar 6,85 persen dan penurunan impor non migas sebesar 0,69 persen," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers bulanan BPS di kantornya, Senin (17/02/2020). Sebagaimana dilaporkan Liputan6, Senin (17/02/2020)

Suhariyanto menyatakan, berbagai faktor menyebabkan impor Indonesia turun mulai dari ketidakpastian global, konflik geopolitik, perang dagang yang tak kunjung usai, fluktuasi harga komoditas dan lainnya.

Tags

Komentar