Feb 21, 2020 16:52 Asia/Jakarta
  • Diamond Princess
    Diamond Princess

Banyaknya rumor beredar tentang virus corona Wuhan yang sengaja direkayasa. Para ilmuwan melawannya dengan sejumlah bukti yang ditulis dalam makalah yang diposting di forum daring ilmiah Virological.

Dalam makalah tersebut, para ilmuwan, termasuk ahli epidemiologi terkemuka W. Ian Lipkin dari Columbia University, Edward Holmes dari University of Sydney, dan Kristian Andersen dari Scripps Research mengatakan ada petunjuk genetik penting yang menunjukkan virus corona, atau SARS-CoV-2 tidak dibuat di laboratorium.

Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (18/2/2020), para ilmuwan telah berulang kali berupaya untuk menghilangkan prasangka dan teori konspirasi tentang asal-usul virus corona.

Peneliti utama institut itu, Shi Zhengli mengklarifikasi dalam sebuah media sosial dan mengatakan ia bersumpah virus corona Wuhan sama sekali tidak berhubungan dengan laboratorium.

Penelitian yang diterbitkan pada Senin merupakan hal yang terbaru dari serangkaian analisis dan komentar dari para ilmuwan yang menunjukkan bukti virus itu adalah produk dari evolusi alami.

Penampakan virus corona

Studi ini bergantung pada data urutan genom dari virus ini dan strain coronavirus yang dikenal untuk mengidentifikasi indikator kunci dalam evolusi struktur virus.

Namun dengan melihat sebanyak 634 penumpang kapal pesiar Diamond Princess positif COVID-19, Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto, menyebut kapal pesiar itu sudah menjadi pusat penyebaran baru atau episentrum baru COVID-19.

Di Wuhan angka penularan masih sekitar 5 persen karena jarak antar orang lebih lebar. Di kapal Diamond Princess, angka penularan mencapai 15 persen diduga, karena mengalami kontak dekat dan kemungkinan kontak langsungnya lebih tinggi.

"Karena muncul episentrum baru maka kelompok ini dikhawatirkan muncul mutasi COVID-19. Dari beberapa referensi, kelihatannya positif tapi gejalanya makin ringan," kata pria yang akrab disapa dr Yuri kepada media di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (21/2/2020). Demikian hasil pantauan Parstodayid dari Detikcom, Jumat (21/02/2020).

"Dari episentrum kebujakannya sekarang 2 kali episode inkubasi. Kita akan melakukan observasi selama 28 hari. Kalau dari pemerintah Jepang boleh diambil maka kita melakukan observasi kesehatan 2x14 hari," pungkasnya.

Bahkan, menurut penuturan dr Yuri, beberapa pasien dilaporkan positif tanpa gejala berat atau positif dengan gejala minimal. Mutasi COVID-19 disebut mulai bergeser ke arah seasonal flu atau flu biasa. Meski demikian pengawasan tetap diperketat dan masa karantina bagi pendatang dari area episentrum diperpanjang.

Tags

Komentar