Sep 22, 2020 11:53 Asia/Jakarta
  • Sudah Optimalkah Usaha Indonesia Kendalikan Virus Corona?

Ketika sejumlah negara tengah mempersiapkan untuk terjadinya gelombang kedua pandemi virus corona baru penyebab Covid-19, Indonesia justru masih berjibaku dalam merespons gelombang pertama.

Epidemiolog dari Griffith University, Australia Dicky Budiman mengatakan, penyebab Indonesia masih terjebak dalam gelombang pertama alias Endless First Wave adalah karena respons penanganan pandemi yang masih belum optimal.

Dicky menyebutkan, ada lima hal yang bisa menjadi indikator apakah Indonesia, secara nasional dan juga provinsi, sudah merespons secara optimal pandemi Covid-19, yaitu: Kurva pandemi, Pertumbuhan kasus, Daya dukung fasilitas kesehatan, Kapasitas testing, dan Acuan strategi penanganan.

"Dari lima ini, terlihat kita masih belum dalam kategori yang merespon baik," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Senin (21/9/2020).

Dicky mengatakan, landai atau tidaknya kurva pandemi bisa dilihat dari dua indikator, yakni angka kematian dan angka kasus baru harian.

"Dua-duanya ini kan kita lihat masih tinggi. Artinya, tentu ini belum menunjukkan kalau kurva sudah melandai," kata Dicky.

Diberitakan Kompas.com, Senin (21/9/2020) Indonesia kembali mencatat angka tertinggi baru dalam penambahan kasus harian Covid-19.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Senin (21/9/2020), terdapat penambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 4.176 orang dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak kasus perdana Covid-19 diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu.

Indikator kedua adalah pertumbuhan kasus. Dicky mengatakan, hal itu bisa dilihat dengan membandingkan tren pertumbuhan kasus secara kumulatif dengan bulan sebelumnya.

"Bisa juga dibandingkan dengan negara lain di wilayah sekitar, misalnya di ASEAN. Terlihat, kita juga termasuk dalam kelompok yang trennya meningkat," ujar dia.

Berdasarkan data Worldometers, Selasa (22/9/2020) Indonesia saat ini berada di peringkat dua ASEAN untuk negara dengan total kasus konfirmasi positif terbanyak. Posisi pertama ditempati oleh Filipina dengan total 290.190 kasus.

Ilustrasi penyebaran virus Corona di Indonesia.

Daya dukung fasilitas kesehatan

Dicky mengatakan, indikator ketiga untuk menilai respons penanganan pandemi adalah kapasitas atau daya dukung dari fasilitas kesehatan, meliputi kapasitas tempat tidur isolasi, ICU, ventilator, dan SDM kesehatannya.

"Apakah angka kematian pada kelompok tenaga kesehatan tinggi? Nyatanya, iya. Berarti kan responsnya belum optimal. Termasuk juga angka kesakitan pada kelompok ini menunjukkan belum optimalnya respons penanganan," kata Dicky.

PB Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) mengungkapkan, angka kematian dokter di Indonesia saat ini tercatat yang tertinggi di Asia. Padahal, menurut Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT, jumlah dokter di Indonesia merupakan yang terendah kedua di Asia Tenggara.

Kapasitas testing

Indikator keempat adalah tentang kapasitas testing. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan standar testing per minggu adalah 1 per 1.000 penduduk.

Dicky menyebut Indonesia serta banyak daerah di dalamnya, terutama provinsi-provinsi besar, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, masih jauh dari target WHO.

"Artinya belum optimal responsnya. Karena kalau tanpa tes, sekali lagi sangat mustahil kita bisa tahu siapa yang bawa virus dan siapa yang harus diisolasi. Kita masih jauh dari itu," kata Dicky.

Acuan strategi penanganan

Dicky mengatakan, indikator kelima untuk melihat respons penanganan Covid-19 di Indonesia adalah dengan mencermati acuan strategi penanganan.

Apakah tetap tidak konsisten dengan strategi eliminasi Covid-19 atau justru berfokus pada aspek ekonomi.

"Ini akan mengakibatkan ketidakoptimalan respons. Hal ini juga masih kita lihat, belum ada strategi yang komprehensif, yang firm, yang konsisten, yang juga memperkuat sistem kesehatan," kata Dicky.

Pada awal September lalu, Presiden Joko Widodo mengingatkan seluruh jajarannya untuk mengutamakan aspek kesehatan terlebih dahulu, daripada aspek pemulihan ekonomi dalam penanganan pandemi Covid-19.

Jokowi menegaskan, jika aspek pemulihan ekonomi didahulukan, maka akan timbul situasi yang berbahaya. (RM)

Tags

Komentar