Okt 01, 2020 19:24 Asia/Jakarta

Sebelum pandemi Virus Corona melanda Indonesia, pantai-pantai alami di pulau Lembongan yang tersusun oleh Samudera Hindia dipenuhi para turis yang berjemur dari berbagai negara dunia.

Namun, karena penyebaran COVID-19, tidak ada wisatawan asing yang berkunjung ke Lembongan, sehingga pendapatan penduduk setempat dari sektor pariwisata hilang dan ekonomi mereka melemah.

Kini penduduk setempat sering terlihat membawa keranjang berisi rumput laut ke pantai di tengah pergeseran kembali ke cara mencari nafkah sebelumnya.

"Saya sedih karena kami kehilangan pekerjaan dan sekarang kami harus mulai dari awal," kata I Gede Darma Putra, 43 tahun, penduduk asli Lembongan, yang biasa memandu wisatawan sebagai ahli selam, seperti dilansir Reuters.

Seperti banyak penduduk lokal di pulau sekitar 50 km (30 mil) dari Bali ini, dia dan istrinya, Kadek Kristiani, sekarang mengarungi perairan yang masih asli untuk mengumpulkan rumput laut yang tumbuh di kawasan tersebut.

Bali biasanya menarik jutaan pengunjung dan wisatawan dari dalam dan luar negeri setiap tahunnya. Mereka tertarik dengan pantai di tempat-tempat seperti Lembongan, namun rencana untuk membuka kembali bagi wisatawan asing telah ditunda tanpa batas waktu disebabkan meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia.

Banyak restoran dan bar di Bali tutup akibat penyebaran Virus Corona. Pengeringan rumput laut tampak memenuhi jalan-jalan di Lembongan ketika para pekerja pariwisata terpaksa kembali ke industri yang mati satu dekade lalu. Indonesia adalah penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia setelah China.

"Petani mulai menanam rumput laut lagi," kata Boedi Sarkana Julianto dari Jaringan Sumber Daya Alam Indonesia (JASUDA), sebuah lembaga swadaya masyarakat pembudidaya rumput laut.

"Awalnya saya bingung, bertanya-tanya, 'apa yang harus saya lakukan?',” Kata Kadek, 34 tahun.

Tapi, lanjut Kadek, sepanjang perjalanan kami menemukan pekerjaan ini, menanam rumput laut dan mendapatkan penghasilan untuk membeli makanan dan barang-barang untuk anak-anak kami.

Wali Putra, seorang manajer restoran berusia 50 tahun yang telah bertani rumput laut hampir sepanjang hidupnya, mengatakan pandemi tersebut mengingatkannya pada masa kecilnya.

"Sebelum booming pariwisata ... yang memberi kehidupan bagi masyarakat Lembongan adalah rumput laut," jelasnya.

Namun, budidaya rumput laut adalah pekerjaan yang melelahkan dan kurang menguntungkan dibandingkan pariwisata, terutama karena pandemi telah menurunkan permintaan dari produk ini.

Menurut Boedi Sarkana Julianto, para petani rumput laut mengatakan bahwa rumput laut kering, yang ditujukan untuk diproses dan diekspor untuk digunakan sebagai makanan, saat ini harganya sekitar 12.000 rupiah (80 sen Amerika) per kilogram, dan memberikan penghasilan hingga $ 400 sebulan. Itu hanya lebih dari setengah dari hasil tangkapan yang sama sebelum pandemi.

Kepala Badan Pariwisata Bali I Putu Astawa mengatakan, pengunjung dan wisatawan tetap dibutuhkan karena "pertanian saja tidak bisa mengembalikan perekonomian Bali kembali normal".

Namun beberapa penduduk setempat, seperti guru dan petani rumput laut Wayan Ujiana, 51 tahun, mengambil pandemi sebagai pelajaran untuk tidak terlalu bergantung pada pariwisata.

"Jangan lupa untuk mendiversifikasi pendapatan dan usaha Anda, jadi ketika masalah terjadi kita tidak runtuh," ujarnya. (RA)

Tags

Komentar