Nov 13, 2020 06:54 Asia/Jakarta
  • Pengamat: Sinergi Kampus dan Kemlu Bisa Perkuat Diplomasi Indonesia di  Timteng

Diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Timur Tengah masih jauh dari harapan, tapi bisa diperkuat dengan melibatkan perguruan tinggi.

Pandangan ini disampaikan pengamat Timur Tengah, Purkon Hidayat dalam kuliah tamu yang digelar Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Brawijaya baru-baru ini.

"Masalah pertama yang perlu dipertajam oleh kementerian luar negeri Indonesia mengenai diplomasi ekonomi. Apalagi Presiden Jokowi menekankan masalah ini sebagai prioritas," ujar peneliti Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) hari Selasa (10/11/2020).

"Selain itu, peran Indonesia dalam perdamaian juga harus ditingkatkan yang membutuhkan diplomasi politik lebih kuat lagi," tegas pengamat yang berdomisi di Tehran selama 19 tahun ini.

Mengenai laporan CSIS tentang analisis kinerja Kemenlu RI tahun 2015-209 yang memberikan penilaian 90 persen realisasi rencana kerja, Purkon menekankan pentingnya analisis efektivitas polugri Indonesia di lapangan dalam merespon berbagai dinamika hubungan internasional.

Menurutnya, ada dua masalah yang kerap muncul dari dinamika domestik dan politik internasional.

"Dinamika domestik mengenai sinergi antarinstansi, termasuk kerja sama antara kemenlu dengan kementerian perdagangan dan lainnya. Adapun dinamika internasional berhubungan dengan iklim birokrasi dan struktur politik negara mitra," papar peneliti ICMES ini dalam kuliah tamu online yang dihadiri sekitar 90 orang dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya, serta kalangan umum.

 

 

Penulis dan reviewer beberapa jurnal ini menunjukkan relatif kecilnya jumlah perjanjian yang disepakati Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah. Selain itu, angka volume perdagangan antara Indonesia dan negara-negara kawasan strategis ini masih jauh panggang dari api.

 Timur  Tengah memiliki banyak peluang yang besar, sekaligus tantangan yang tidak kecil.

"Populasi  dan pasar potensial yang besar, terutama kecenderungan masyarakatnya yang konsumtif. Itu semua potensi besar, juga kekayaan sumber daya alam, dan geopolitik yang strategis," tutur dosen tamu salah satu kampus negeri terkemuka di Tehran ini.

Dia juga menguraikan banyak tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjalankan diplomasinya di kawasan Timur Tengah.

"Sanksi, misalnya yang menimpa Iran masih menjadi hambatan, terutama dalam diplomasi ekonomi Indonesia. Perlu penanganan khusus. Isu tarif bea masuk dan daya saing juga masih jadi kendala," jelasnya dalam kuliah tamu yang dimoderatori dosen HI UB, Adhi Cahya Fahadyana.

Menjawab pertanyaan mengenai kemanjuran "Peace broker" Indonesia di Timur  Tengah, Purkon melihatnya masih belum sesuai harapan.

Dia mengusulkan dukungan seluruh elemen bangsa, termasuk diaspora dan ormas yang memiliki perwakilan di luar negeri  untuk mendukung diplomasi Indonesia di negara domisilinya masing-masing.

Selain itu, Purkon juga mengusulkan keterlibatan kampus untuk bersinergi dengan kemenlu dalam mendukung penguatan diplomasi Indonesia di Timur Tengah melalui riset-riset yang lebih spesifik.

"Apa yang terjadi di Timur Tengah seringkali begitu cepat direspon masyarakat kita, tapi ironisnya kajian tentang Timur Tengah relatif tidak spesifik dan dalam. Saya ambil contoh, riset tentang diplomasi ekonomi atau politik Indonesia di Iran bisa dibilang tidak ada. Kalaupun ada masih belum menukik. Makanya tidak ada mapping yang jelas, terutama big datanya. Kampus bisa membantu kemlu menyusunnya lebih baik," pungkas Purkon. (PH)

 

 

Tags