Jun 25, 2021 16:06 Asia/Jakarta
  • Terinfeksi virus Corona
    Terinfeksi virus Corona

Indonesia tengah menghadapi lonjakan kasus COVID-19 besar-besaran. Laporan terakhir per Kamis (24/6/2021), Indonesia mencatat penambahan kasus baru COVID-19 tembus 20 ribu.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan, waktu pandemi berakhir sulit diprediksi. Mengingat, pola pandemi COVID-19 di Indonesia yang berlangsung hingga saat ini sebenarnya sangat bergantung pada perilaku masyarakat Indonesia.

"Saya sering ditanya, kapan pandemi ini berakhir? Sulit menjawab dengan pasti kapan pandemi ini akan berakhir. Setelah saya melihat pola pandemi ini, semuanya bergantung pada kita. Berapa lama pandemi akan terus ada, itu tergantung pada kita," ujar Menkes dalam konferensi pers virtual, sebagaimana dikutip Parstodayid dari Detik, Jumat (25/06/2021).

Presiden RI Joko Widodo mengikuti protokol kesehatan

Penanganan Pandemi Butuh Kesemaan Frekuensi

Presiden RI Joko Widodo mengingatkan semua pihak bahwa penanganan pandemi membutuhkan kesamaan frekuensi baik di tataran lembaga negara, maupun di tingkat pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada acara Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LHP LKPP) Tahun 2020 dan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2020, serta Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2020 secara virtual di Istana Negara, Jakarta, seperti dikutip Parstodayid dari Antaranews, Jumat (25/06/2021).

"Saya ingin mengingatkan kepada kita semua, bahwa pandemi belum berakhir. Kita harus waspada, dan situasi yang kita hadapi masih dalam situasi extraordinary yang harus direspon dengan kebijakan yang cepat dan tepat, yang membutuhkan kesamaan frekuensi oleh kita semua, baik di tataran lembaga negara dan seluruh jajaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah," ujar Presiden.

Presiden mengatakan sejak pandemi muncul di 2020 pemerintah sudah melakukan langkah-langkah luar biasa termasuk dengan perubahan APBN, refocusing dan realokasi anggaran di seluruh jenjang pemerintahan, serta memberikan ruang relaksasi defisit APBN agar dapat diperlebar di atas dari 3 persen selama 3 tahun.

Kebijakan Harus Cepat dan Tepat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan setiap kebijakan harus diambil secara cepat dan tepat, karena bangsa saat ini masih menghadapi situasi ekstra luar biasa (extraordinary) di tengah pandemi COVID-19.

“Saya ingin ingatkan kepada kita semua, bahwa pandemi belum berakhir. Kita harus waspada, dan situasi yang kita hadapi masih dalam situasi extraordinary yang harus direspons dengan kebijakan yang cepat dan tepat, yang membutuhkan kesamaan frekuensi oleh kita semua,” kata Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat.

Berbagai lembaga negara juga melakukan langkah luar biasa, seperti kebijakan pembagian beban (sharing the pain) antara pemerintah pusat dan Bank Indonesia dalam memulihkan perekonomian.

“Dengan berbagai respons kebijakan tersebut, Alhamdulillah kita mampu menangani peningkatan belanja kesehatan, dan sekaligus melindungi ekonomi Indonesia dari berbagai tekanan,” jelasnya.

Dengan beberapa kebijakan ekstra luar biasa itu, kata Presiden Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dalam beberapa kuartal terakhir, meskipun masih dalam zona kontraksi.

Di kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot hingga minus 5,32 persen secara tahunan (year on year. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik di kuartal III-2020, kuartal IV-2020, hingga kuartal I-2021.

“Ekonomi Indonesia tumbuh membaik sampai kuartal I kita berada di minus 0,74 persen,” pungkas Presiden Jokowi.

Tags