Aug 28, 2021 17:57 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian tiba di Baghdad
    Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian tiba di Baghdad

Baghdad Sabtu (28/8/2021) menjadi tuan rumah pertemuan regional dan internasional yang dihadiri petinggi dari negara-negara penting kawasan seperti Iran, Turki, Arab Saudi dan Irak.

Selain tetangga Irak, perwakilan Prancis, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang juga diundang ke pertemuan ini.

Irak mengumumkan bahwa pertemuan ini dimaksudkan untuk mereduksi tensi di kawasan dan mengembangkan hubungan ekonomi dan menyelesaikan friksi di antara negara-negara tetangga Baghdad.

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian Sabtu sebelum bertolak ke Baghdad mengatakan, "Kami menyambut setiap inisiatif dan prakarsa regional petinggi Irak yang mengadopsi partisipasi negara kawasan."

Kehadiran menlu Iran di pertemuan ini sangat penting dari sejumlah dimensi:

Pertama, penekanan Republik Islam Iran untuk menyambut setiap prakaras regional demi perdamaian, persaudaraan dan keamanan di kawasan.

Kedua, urgensitas kehadiran Iran di pertemuan Baghdad sebuah penekanan atas sikap nyata dan transparan Tehran terkait isu keamanan kolektif dan urgensitas untuk mengakhiri permusuhan di kawasan.

Pertemuan Baghdad

Hossein Amir Abdollahian hari Kamis lalu saat bertemu dengan sejawatnya dari Pakistan, Shah Mahmood Qureshi di Tehran menyambut usulan sejawatnya ini untuk menggelar pertemuan tingkat menlu enam negara tetangga dan menyatakan kesiapan Iran untuk menyelenggarakan pertemuan seperti ini dalam beberapa hari mendatang di Tehran.

Perspektif dan pendekatan ini menunjukkan sikap Iran yang mementingkan stabilitas dan keamanan serta kerja sama dan interaksi dengan seluruh negara kawasan di bidang ini serta dengan negara-negara tetangga.

Sebagian pengamat politik mengungkapkan sisi lain dari urgensitas pertemuan Baghdad dalam membuka peluang untuk menghapus friksi regional.

Sejumlah sumber menekankan bahwa Menlu Irak, Fuad Hussein menyebut memuaskan atmosfir bagi pertemuan antara pejabat Iran dan Arab Saudi di sela-sela pertemuan ini.

Selama beberapa bulan terakhir digelar negosiasi antara petinggi Iran dan Arab Saudi di Baghdad dan berlanjutnya pertemuan ini ditangguhkan hingga pemerintah baru Iran resmi bekerja dan aktif.

Hassan Hanizadeh, pakar Asia Barat seraya menjelaskan bahwa isu pertemuan Baghdad memiliki agenda penting seperti isu konvergensi dan kerja sama ekonomi regional, perlawanan serius terhadap kelompok teroris dan mereduksi konfrontasi negara-negara kawasan, menyakini bahwa agenda ini seperti sebuah impian, dan sulit terealisasi, namun diharapkan paling tidak output pertemuan Baghdad akan berujung pada penurunan tensi antara negara-negara tetangga.

Di kondisi saat ini, tidak bisa diharapkan friksi regional, mengingat kedalaman dan luasnya perselisihan tersebut, diselesaikan di satu pertemuan dan penyelesaian secara tuntas hingga akarnya. Selain itu, kritik dan protes juga bermunculan mengenai susunan dan peserta yang diundang di pertemuan ini.

Amir al-Faiz, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Irak terkait absennya sejumlah pemimpin negara di pertemuan Baghdad mengatakan bahwa sejumlah negara tetangga Irak mengkritik karena Suriah tidak diundang dan undangan terhadap sejumalah non-tetangga serta bukan anggota kawasan yang tidak ada kaitannya pertemuan ini.

Menlu Iran sebelum kunjungannya ke Baghdad menjelaskan bahwa kami terlibat kotak dan konsultasi dengan pemimpin Suriah terkait keamanan dan pembangunan kawasan yang berkelanjutan serta soal pertemuan Baghdad, dan menekankan kami akan terlibat konsultasi langsung dengan Damaskus soal peran penting negara kawasan di setiap prakarsa regional.

Amir Abdollahian juga menegaskan bahwa penting untuk mengundang Suriah di pertemuan ini sebagai tetangga Irak.

Meski demikian upaya untuk menciptakan atmosfer guna menerapkan dan memperkuat wacana politik bagi solusi friksi, sebuah langkah positif yang akan mampu mereduksi tensi di antara negara-negara kawasan. (MF)

 

Tags