Aug 29, 2021 09:37 Asia/Jakarta

Mengacu pada situasi di Afghanistan saat ini, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, menekankan dukungan Iran untuk rakyat negara itu.

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan pertemuan dengan Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dan anggota kabinetnya pada hari Sabtu (28/08/2021), menyebut Afghanistan sebagai negara saudara, yang memiliki bahasa, agama dan budaya yang sama dengan Iran.

Ayatullah Khamenei juga mengungkapkan penyesalan yang mendalam atas masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dihadapi oleh rakyat Afghanistan, seperti serangan bom di Bandara Internasional Kabul pada Kamis lalu.

Pertemuan Rahbar dengan Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dan anggota kabinetnya

"Masalah dan kesulitan ini adalah (hasil) pekerjaan Amerika yang menduduki Afghanistan selama 20 tahun dan memaksakan segala bentuk penindasan terhadap rakyat negara ini," jelas Rahbar.

Pemimpin Besar Revolusi Islam juga menyebutkan efek negatif dari kehadiran AS di Afghanistan, termasuk pemboman acara pernikahan dan pemakaman, pembunuhan anak muda, pemenjaraan banyak orang yang tidak dapat dibenarkan, dan puluhan kali lipat peningkatan produksi narkoba.

"Amerika Serikat belum mengambil satu langkah pun untuk kemajuan Afghanistan, dan Afghanistan hari ini,  jika dalam hal kemajuan sipil tidak ketinggalan dari 20 tahun lalu, namun juga tidak lebih maju, ungkap Rahbar.

Mengenai sikap Republik Islam Iran, Rahbar menyatakan, "Kami mendukung rakyat Afghanistan karena pemerintah datang dan pergi seperti di masa lalu, tetapi orang-orang Afghanistan tetap."

Pernyataan Ayatullah Khamenei tentang rapor AS yang gagal di Afghanistan setelah 20 tahun pendudukan menunjukkan bahwa, seperti yang telah diprediksi oleh Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat terpaksa meninggalkan tanah air Afghanistan dengan penuh malu setelah gagal penuh dalam perang melawan ekstremisme di negara ini.

Gedung Putih mengakhiri kehadiran militernya di Afghanistan setelah dua dekade pendudukan negara ini. Amerika Serikat tidak dapat menerapkan slogan dan janji-janjinya di negara itu.

Ayatullah Khamenei juga mengungkapkan penyesalan yang mendalam atas masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dihadapi oleh rakyat Afghanistan, seperti serangan bom di Bandara Internasional Kabul pada Kamis lalu.

Warisan Amerika Serikat selama tahun-tahun pendudukan Afghanistan adalah kerusakan yang tidak dapat diperbaiki yang terjadi pada pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah serta penghancuran infrastruktur dasar negara ini, yang telah mengekspos wajah licik para penguasa Gedung Putih kepada dunia.

Dalam dua dekade kehadiran yang tidak bermanfaat di Afghanistan, Amerika Serikat justru menyebarkan terorisme dan narkotika di negara itu, yang telah menyebabkan bantuan keuangan internasional ke Afghanistan berada dalam siklus penyalahgunaan oleh perusahaan asing. Alokasi bantuan ini menjadi sia-sia dan untuk proyek-proyek yang tidak perlu.

Sebagaimana yang dikatakan Rahbar, tindakan AS menyebabkan Afghanistan tertinggal dalam hal kemajuan sipil dan pembangunan dari 20 tahun yang lalu.

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan sebenarnya telah memberikan kesempatan kepada masyarakat, aktivis politik dan kelompok etnis dan agama di negara ini. Mereka dapat mengesampingkan perbedaan dan kepentingan kelompok yang terbatas, dengan bertumpu pada prinsip dialog dan konsensus pada kepentingan nasional, dan itu akan menjadi sarana yang baik untuk pembentukan pemerintahan yang inklusif di Afghanistan.

Dalam beberapa dekade terakhir, ketika Afghanistan terlibat dalam perang saudara atau pendudukan asing, garis tetap kebijakan Republik Islam Iran selalu menjadi pendukung setia rakyat Afghanistan. Kebijakan strategis ini terkadang mengambil bentuk menerima pengungsi Afghanistan di dalam Iran atau membantu membangun kembali negara itu setidaknya selama dua dekade terakhir.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam

Sekarang Taliban telah menguasai Afghanistan dan menekankan pembentukan pemerintahan inklusif di negara ini. Sementara Iran masih menganggap dukungan atas rakyat Afghanistan sebagai indikator utama kebijakannya terhadap negara ini. Iran percaya bahwa semua upaya di Afghanistan harus dalam rangka meningkatkan standar hidup masyarakat, khususnya jaminan keamanan yang bersandar pada kemauan internal.

Tags