Sep 11, 2021 17:53 Asia/Jakarta
  • Program nuklir damai Iran
    Program nuklir damai Iran

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat dan sekutu kawasannya kembali menjadikan program nuklir sipil Iran sebagai alasan untuk menuding Tehran sebagai ancaman bagi keamanan.

Sementara itu, Komite Kwartet Liga Arab di sidang terbarunya melanjutkan proses ini dan di statemennya mengumbar kebohongan dan klaim palsu. Tanpa mengisyaratkan senjata nuklir Israel, komite ini menyebut program nuklir damai Iran sebagai sebuah ancaman. Perilis statemen ini dengan tujuan yang dirancang sebelumnya, menuntut pembentukan sebuah mekanisme yang diperlukan untuk mengadakan inspeksi segera dan inklusif dari seluruh situs nuklir Iran.

Bersamaan dengan klaim palsu ini, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid di kunjungannya ke Moskow menuding Republik Islam Iran berusaha memproduksi senjata atom.

Lapid Jumat (10/9/2021) dalam wawancaranya dengan Sputnik mengklaim, Iran tengah meraih senjata atom. Ia hari Kamis (9/9/2021) di jumpa pers bersama dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov dengan retorika mengancam terhadap Iran mengklaim bahwa Tehran mengejar senjata nuklir.

Program Nuklir Iran

Pernyataan pejabat rezim Zionis terhadap Iran sebenarnya adalah semacam proyeksi dan pengulangan klaim konyol yang dibuat oleh mantan Perdana Menteri Israel Netanyahu beberapa kali di Majelis Umum dan diejek karena tidak berarti dan dibuat-buat.

Kebijakan Iranphobia merupakan bagian proyek bersama segitiga AS, Israel dan sejumlah sekutu Arab di kawasannya yang tengah diulang. Kini klaim di masa lalu ini kembali diulang terhadap Iran dengan dalih mempertahankan JCPOA, klaim tersebut manjadi permaian baru dan berubah menjadi retorika ancaman terhadap Tehran.

Zahra Ershadi, deputi wakil tetap Iran di PBB baru-baru ini di suratnya kepada ketua Dewan Keamanan PBB terkait ancaman petinggi Israel terhadap program nuklir damai Iran, memperingatkan segala bentuk perhitungan keliru yang potensial atau langkah petualangan Israel. Ia menjelaskan Republik Islam Iran menganggap haknya untuk mengambil langkah yang diperlukan guna melindungi dan membela warganya, kepentingan, instalasi dan kedaulatannya di hadapan segala bentuk teroris atau sabotase tetap terpelihara. Hak tersebut berdasarkan hukum internasional.

Pertanyaannya adalah apahak Israel dan sejumlah rezim reaksioner Arab yang melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah Israel, sejatinya mengkhawatirkan keamanan kawasan ? Pastinya jawaban pertanyaan ini adalah tidak.

Peminggiran ini sebenarnya mengejar tujuan dan sasaran tertentu, salah satunya adalah meminggirkan isu Palestina dan menutupi penyebab utama krisis dan perang di kawasan, yang telah dibebankan pada negara-negara kawasan dengan rancangan bersama Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi.

Gareth Porter, pengamat terkenal Amerika mengatakan, "Faktanya adalah faktor ancaman di kawasan, negara-negara yang mengerahkan upayanya untuk membeli peralatan perang dari Amerika Serikat."

Israel dan negara-negara Arab di kawasan yang mengkhianati cita-cita Palestina, sejatinya bagian dari faktor instabilitas regional. Sikap mereka yang selaras dan mengiringi Israel dalam bentuk statemen klise dan pengilangan klaim bahwa program nuklir damai Iran sebuah ancaman bagi keamanan kawasan, sebuah bentuk penipuan politik guna merusak fakta.

Israel ketika menyebut program nuklir Iran sebuah ancaman, justru program nuklir Iran berada di bawah pengawasan penuh dan berkesinambungan Badan Energi Atom Internasional (IAEA); Sementara Israel yang tidak mendapat pengawasa IAEA atas aktivitas inkonvensional nuklirnya, memiliki antara 200 hingga 300 hulu ledak nuklir.

Seperti yang dinyatakan Jubir Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh saat merespon klaim ini dan mengatakan, perhatian utama perilis statemen seperti ini adalah memberi pelayanan terbuka dan dan rahasia kepada rezim Zionis Israel. (MF)

 

Tags