Sep 25, 2021 11:25 Asia/Jakarta

Republik Islam Iran menyambut baik inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk berkontribusi pada perdamaian dan keamanan dunia, dan menyikapi positif posisi sekretaris jenderal lembaga internasional ini yang tidak memihak dan obyektif.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Amir-Abdollahian mencatat hari Jumat (24/09/2021) bahwa dari Palestina ke Suriah, Yaman dan Afghanistan, PBB perlu memainkan peran yang serius dan konstruktif, dan kehadiran yang adil dan bertanggung jawab lebih dari sebelumnya.

Image Caption

"Situasi kemanusiaan di Palestina masih dalam situasi yang buruk setelah beberapa dekade, karena tindakan penjajah dan kejahatan rezim Zionis. Solusi terakhir harus berupa referendum dan pemungutan suara oleh penduduk asli Palestina. Sayangnya, PBB telah pasif di masa lalu, dan saya harap itu akan berubah di waktu Anda," imbuh Amir-Abdollahian.

Pada kenyataannya, dalam beberapa dekade terakhir, ada dua fenomena dominan, yaitu pendudukan dan terorisme yang telah membayangi dunia, dan kelanjutan dari tren ini telah menyebabkan kerusakan serius di banyak negara. Iran juga menjadi salah satu sasaran sanksi dan aksi teroris AS.

Aksi teror Letnan Jenderal Qassem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Quds, yang memainkan peran utama dalam perang melawan terorisme dan Daesh (ISIS) di kawasan, adalah salah satu dari kasus tersebut.

Jenderal Qassem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melakukan perjalanan ke Irak pada 3 Januari 2020, atas undangan resmi pejabat Irak, gugur syahid bersama dengan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil al-Hashd al-Shaabi dan 8 orang lainnya. Mereka gugur syahid dalam serangan udara oleh agresor dan teroris AS di dekat bandara Baghdad di Irak.

Sebagai ahli strategi militer, Jenderal Qassem Soleimani mengungkap kepalsuan klaim AS dalam perang melawan terorisme. Garis yang digambar oleh Jend. Soleimani pada geografi perlawanan menggagalkan rencana AS-Israel untuk membagi kawasan.

Republik Islam Iran menyambut baik inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk berkontribusi pada perdamaian dan keamanan dunia, dan menyikapi positif posisi sekretaris jenderal lembaga internasional ini yang tidak memihak dan obyektif.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Syahid Soleimani mengalahkan kekuatan arogansi baik selama hidupnya maupun dengan kesyahidannya.

Rahbar mengingatkan sebagian dari pernyataan presiden AS yang mengakui bahwa kami telah menghabiskan $7 triliun di kawasan, tetapi tidak mencapai apa-apa. Menurut Rahbar, "Pahlawan dari karya besar ini adalah Jenderal Soleimani, yang dilakukan semasa hidupnya."

Tidak diragukan lagi, kebijakan unilateralisme, dukungan untuk terorisme dan ekstremisme, dan pengabaian AS terhadap hukum internasional serta peran PBB yang lemah dalam masalah perdamaian dan keamanan internasional telah menjadikan kawasan itu salah satu pusat krisis dan ketidakstabilan.

Peristiwa terkini di Asia Barat, di Irak, Suriah, Afghanistan, dan Yaman, menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan itu telah menjadi korban tindakan agresi dan terorisme yang didukung AS.

Konsekuensi mengerikan dari tren ini dapat dilihat dalam kekerasan dan ekstremisme serta perang yang dipaksakan di kawasan itu.

Amerika Serikat juga mengaitkan sanksi dengan kesehatan dan obat-obatan selama masa sulit pandemi virus Corona, yang menyebabkan kerusakan serius dan tidak dapat diperbaiki pada kesehatan rakyat Iran. Amerika Serikat harus menjawab kepada komunitas internasional terkait mengapa menciptakan krisis dan intervensi sepihak ini.

Sanksi obat-obatan

Pada saat yang sama, peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa nasib bangsa-bangsa tidak terpisah satu sama lain. Keamanan, terorisme, ekonomi, dan menghadapi Corona adalah semua masalah yang perlu ditangani dengan menjadikan PBB sebagai poros.

PBB dan Majelis Umum juga merupakan kesempatan untuk mengungkapkan berbagai pandangan tentang tantangan dan harapan Sekretaris Jenderal untuk mengatasi ancaman global. (SL)

Tags