Sep 25, 2021 17:52 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran, Hossein Amir Abdollahian
    Menlu Iran, Hossein Amir Abdollahian

Perkembangan di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, statemen petinggi militer Iran setelah serangan ke pangkalan teroris di Irak utara.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti penjelasan presiden Iran mengenai prinsip dasar pemerintah Iran, Iran ajak semua pihak bantu stabilkan kondisi Afghanistan, Iran Tuntut AS Menghapus Semua Sanksi, IRGC: Kami telah Menghimpun Kekuatan untuk Mengalahkan AS, Parade Militer Laut Terbesar Basij Iran Digelar di Teluk Persia, Iran Tegaskan Pemusnahan Total Diskriminasi Ras termasuk Zionisme, Menlu Iran: Perlu Kajian Sebelum Kembali ke Perundingan Wina ! Jika Diganggu, Iran akan Berikan Pukulan Mematikan.

Empat Markas Kelompok Anti-Revolusi Islam Iran di Utara Irak, Hancur

Wakil Komandan Pangkalan Hamzah Sayidu Syuhada di barat laut Iran mengatakan, empat markas kelompok anti-Revolusi Islam Iran dihantam rudal, dan hancur. Serangan ini dilakukan untuk membalas pergerakan kelompok anti-revolusi di perbatasan Iran-Irak.

Rudal Iran

Brigadir Jenderal Arjmandfar, Senin (20/9/2021) menuturkan, beberapa kelompok anti-Reolusi Islam Iran diorganisir oleh tim intelijen negara-negara musuh, pasukan asing, dan bahkan beberapa negara Arab, di utara Irak. Kelompok-kelompok anti-revolusi itu dimanfaatkan untuk meraih tujuan negara-negara itu, dan menghambat kemajuan Republik Islam Iran.

Ia menambahkan, markas kelompok-kelompok anti-revolusi ini tidak jauh dari perbatasan Iran, karenanya Tehran sudah memberikan peringatan kepada pemerintah Irak, dan pejabat Baghdad di utara negara itu.

"Kami sudah mengingatkan jika kelompok-kelompok anti-revolusi melakukan kesalahan sekecil apa pun, maka balasan tegas akan mereka terima, dan ini telah menyebabkan empat markas kelompok anti-revolusi hancur," imbuhnya.

Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, minggu lalu menghujani markas kelompok-kelompok anti-revolusi di utara Irak dengan peluru dan rudal, sebagai balasan atas pergerakan terbaru kelompok ini.

Kepala Staf Gabungan Militer Iran: Pangkalan AS, Harir Harus Ditutup !

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mengatakan, salah satu lokasi yang digunakan untuk menyusun konspirasi terhadap Iran adalah pangkalan militer Amerika Serikat, Harir di Irak, oleh karena itu pangkalan tersebut harus ditutup.

Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Minggu (19/9/2021) menuturkan, “Kami tidak bisa membiarkan pangkalan militer Harir yang terletak di perbatasan kami dengan Irak, dan merupakan lokasi pertemuan untuk menyusun konspirasi anti-Revolusi Islam Iran, tetap beroperasi, dan pangkalan tersebut harus ditutup, dan upaya untuk ini baru saja dimulai.”

Mayjen Bagheri

Menurut Mayjen Bagheri, upaya menutup pangkalan militer AS, Harir di perbatasan Iran dan Irak, akan terus dilakukan secara serius. Upaya itu dilakukan dalam kerangka aktivitas diplomatik, dan militer dengan maksud untuk mewujudkan keamanan dan ketenangan berkelanjutan di kawasan.

“Kelompok-kelompok teroris harus menyingkir dari wilayah perbatasan Iran di utara Irak, karena pergerakan mereka bisa memicu operasi besar, dan kontinu terhadap mereka. Mulai saat ini tidak akan ada lagi ketenangan di markas-markas kelompok bersenjata anti-Revolusi Islam Iran di utara Irak, dan ini hak rakyat Iran,” pungkasnya.

Raisi: Republik Islam Berpijak Pada Prinsip Nilai-Nilai Agama

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi mengatakan, "Pemerintahan kami didasarkan pada ajaran agama,".

Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi dalam peringatan Pekan Pertahanan Suci hari Selasa (21/9/2021) mengatakan, "Langkah untuk menghormati dan memuliakan para veteran dapat menjadi benteng bagi generasi muda sekarang dan generasi mendatang,"

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi

"Republik Islam Iran didasarkan pada ajaran agama; kitab suci [Al-Quran] dan Sunnah," ujar Raisi.

"Dalam sistem pemerintahan kami, tidak ada undang-undang dan peraturan disetujui dan dilaksanakan kecuali harmonis dengan nilai-nilai Islam," tegasnya.

Menurut Raisi, setiap peraturan yang bertentangan dengan nilai-nilai syari tidak akan disahkan sebagai ketentuan hukum di negaranya.

Menlu Iran Ajak Komunitas Internasional Bantu Stabilkan Afghanistan

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menyerukan masyarakat internasional mendukung upaya mewujudkan stabilitas politik di Afghanistan.

Menlu Iran, Hossein Amir Abdollahian dalam pertemuan dengan Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi di New York hari Senin (20/9/2021) meminta masyarakat internasional mendukung stabilitas politik di Afghanistan demi mencegah pengungsian lebih banyak orang meninggalkan negaranya.

"Organisasi-organisasi internasional perlu lebih aktif dalam menjalankan tugasnya terhadap situasi kemanusiaan di Afghanistan guna mencegah terusirnya lebih banyak lagi orang-orang mulia di negeri ini," ujar Amir Abdollahian.

"Republik Islam Iran selama ini menampung sejumlah besar pengungsi Afghanistan dalam kondisi sanksi AS dan Barat terhadap Iran. Meskipun menghadapi semua sanksi dan tekanan ekonomi serta wabah virus Corona, tapi Iran telah menjadi tuan rumah yang baik," tegasnya.

Sementara itu, Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi dalam pertemuan tersebut memuji kemurahan hati Republik Islam Iran yang menampung para pengungsi Afghanistan, dan menggambarkan situasi terbaru dan tantangan hak asasi manusia di Afghanistan.

Grandi mengakui kurangnya bantuan internasional terhadap para pengungsi, dan menyampaikan harapannya semoga negara-negara dunia menyadari tanggung jawab bersama tersebut.

Iran Tuntut AS Menghapus Semua Sanksi

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengatakan, Amerika Serikat harus menghapus semua sanksinya terhadap Iran dan memperbaiki kebijakannya yang salah.

Mohammad Eslami dalam wawancara dengan televisi NHK Jepang, Selasa (21/9/2021) menekankan bahwa AS harus memperbaiki kebijakannya yang salah.

Ketua AEOI, Mohammad Eslami

AS, tambahnya, belum memenuhi komitmennya yang disepakati dalam perjanjian nuklir 2015 sehingga mereka harus menghapus semua sanksi dan segera bergabung kembali dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

"Iran akan bertindak selangkah demi selangkah menyesuaikan apa yang dilakukan AS," tegas Eslami.

Program nuklir Iran menjadi salah satu agenda Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang dimulai pada hari Senin di Wina, Austria.

Mohammad Eslami tiba di Wina pada Minggu untuk mengikuti pertemuan tersebut.

IRGC: Kami telah Menghimpun Kekuatan untuk Mengalahkan AS

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan, kami telah menghimpun kekuatan untuk mengalahkan Amerika Serikat.

"Kami membangun kekuatan untuk (menghadapi) imperium militer terbesar umat manusia yaitu Amerika Serikat. Jadi, kekuatan-kekuatan kecil seperti rezim Zionis tidak lagi diperhitungkan bagi kami," kata Mayor Jenderal Hossein Salami dalam sebuah acara dengan para veteran Perang Pertahanan Suci di Tehran, Selasa (21/9/2021).

"Saat ini, rakyat Iran menghadapi sanksi kejam AS dan tekanan dari perang psikologis Amerika dan Barat serta propaganda media yang berat," ujarnya seperti dikutip laman Farsnews.

Menurut Mayjen Salami, berkat perang ekonomi dan psikologis yang hebat ini, bangsa Iran telah bangkit kembali dan mampu mematahkan sanksi. Bangsa besar Iran telah mematahkan sanksi dan menjauhkan musuh dari tujuannya.

"Semakin musuh mendekati bangsa Iran, mereka akan semakin jauh dari bangsa kita. Ini karena spirit perlawanan yang mengalir di masyarakat kita sejak era Pertahanan Suci," jelasnya.

Dia menambahkan, musuh-musuh kita berada di ambang kehancuran dan kita melihat mereka secara perlahan melarikan diri, menghilang, dan lari dari pandangan rakyat Iran.

Komandan IRGC menegaskan bahwa pertahanan terus berlanjut dan kami berdiri sampai akhir.

"Menceritakan kembali kisah hidup para syuhada memberikan energi kepada kaum muda kita dan membantu mereka berkembang. Pertahanan Suci merupakan perpaduan antara identitas budaya dan sejarah, yang membentuk satu kesatuan," pungkasnya.

Parade Militer Laut Terbesar Basij Iran Digelar di Teluk Persia

Bersamaan dengan dimulainya Pekan Pertahanan Suci, tanggal 31 Shahrivar (22 September), parade militer laut terbesar Organisasi Basij Iran digelar hari ini, Rabu (22/9/2021) di perairan Teluk Persia dan Laut Oman.

Parade militer laut terbesar yang diselenggarakan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC dan Basij ini diikuti oleh 650 perahu dan kapal peluncur rudal, dan digelar untuk memperingati perjuangan para pahlawan perang delapan tahun.

Parade militer ini dimulai di pelabuhan Shahid Haghani, pusat Provinsi Hormozgan, bersamaan dengan manuver unit-unit terlatih di distrik-distrik pesisir pantai Iran seperti Parsian, Bandar Lengeh, Minab, Ghesm dan Kish.

Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur Hormozgan, Komandan Angkatan Laut IRGC, jajaran komandan militer Wilayah Pertama AL IRGC, Basij laut, Sepah Imam Sajjad Hormozgan, dan sejumlah pejabat daerah.

Iran Tegaskan Pemusnahan Total Diskriminasi Ras termasuk Zionisme

Menteri Luar Negeri Iran menegaskan tekad Tehran untuk memusnahkan total seluruh bentuk diskriminasi ras termasuk Apartheid dan Zionisme.

Hossein Amir Abdollahian menyampaikan hal ini pada pidatonya hari Rabu (22/9/2021) di New York, Amerika Serikat dalam pertemuan tingkat tinggi peringatan ke-20 pengadopsian Durban Declaration and Programme of Action (DDPA).

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

Dalam pidatonya Abdollahian menuturkan, “Pada peringatan ke-20 pengadopsian Deklarasi dan Program Aksi Durban ini, saya ingin meminta seluruh tokoh politik, agama, nasional, dan pejabat resmi negara untuk bekerja dengan serius meningkatkan martabat manusia, dan saya berterimakasih atas pembentukan deklarasi dan program aksi Durban.”

Ia menambahkan, sungguh disayangkan setelah berlalu dua dekade sejak disahkannya Deklarasi dan Program Aksi Durban, dunia hari ini menyaksikan fenomena rasisme yang terus meluas. Pembunuhan George Floyd di Minnesota AS, dan protes luas lintas negara terhadap Islamfobia yang terus meningkat, menunjukkan bahwa masyarakat internasional harus mengenali penghambat utama perang melawan diskriminasi ras, dan berusaha keras menyingkirkannya.

“Saya sebagai Menteri Luar Negeri baru Iran bangga untuk mengumumkan tekad negara saya memusatkan perhatian pada upaya memusnahkan total seluruh bentuk diskriminasi termasuk Apartheid dan Zionisme. Semua ini adalah kejahatan yang memicu kekejian tak terhitung seperti pembunuhan anak-anak, pendudukan wilayah sebuah bangsa, dan pendirian distrik ilegal hingga ke jantung Masjid Al Aqsa,” pungkasnya.

Menlu Iran: Perlu Kajian Sebelum Kembali ke Perundingan Wina !

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hosein Amir Abdollahian menyatakan saat ini masih melakukan kajian untuk kembali ke perundingan Wina.

Menlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian dalam wawancara dengan IRIB hari Jumat (24/9/2021) mengatakan, "Kita tidak boleh menunda-nunda dan menunggu hasil dari pembicaraan Wina,".

Di bagian lain statemennya, Menteri Luar Negeri Iran yang menghadiri sesi ke-76 sidang Majelis Umum PBB di New York juga menyinggung posisi Iran dalam menyikapi dinamika Afghanistan, dengan menjelaskan, "Posisi berprinsip Iran menjunjung tinggi perdamaian, stabilitas dan keamanan di Afghanistan yang dapat dicapai hanya melalui pembentukan pemerintah yang sepenuhnya inklusif dengan partisipasi semua kelompok etnis,".

"Kami berhubungan dengan semua pihak di Afghanistan dan kami mendorong semua pihak untuk menyelesaikan masalah secara damai," tegasnya.

Menteri Luar Negeri Iran tiba di New York pada Senin malam sebagai kepala delegasi untuk menghadiri Majelis Umum PBB.

Selama kunjungannya, Amir Abdollahian bertemu dengan pejabat dan menteri luar negeri dari beberapa negara selama kunjungannya.

Jika Diganggu, Iran akan Berikan Pukulan Mematikan

Menteri Intelijen Iran Sayid Esmail Khatib memperingatkan elemen anti-revolusi jika mengganggu keamanan Republik Islam.

Menteri Intelijen Iran Sayid Esmail Khatib

“Tanggapan Iran terhadap elemen anti-revolusi akan mematikan,” tegasnya dalam kunjungan ke kota Piranshahr, Provinsi Azarbaijan Barat seperti dilansir IRNA, Jumat (24/9/2021).

Khatib menegaskan semua elemen anti-revolusi dan pendukung mereka di kawasan harus tahu bahwa jika keamanan Republik Islam diganggu, mereka akan diberikan pukulan mematikan oleh angkatan bersenjata dan lembaga-lembaga keamanan.

Dia juga memperingatkan pangkalan Amerika dan Zionis di wilayah Kurdistan Irak dengan mengatakan, jika mereka menciptakan gangguan terhadap Iran, mereka akan berhadapan dengan tindakan agresif para pejuang Iran.

Menteri Intelijen Iran juga mendesak pengusiran elemen teroris anti-revolusi dari wilayah Kurdistan dan pelucutan senjata mereka oleh otoritas Irak secepat mungkin berdasarkan kesepakatan yang ada.

 

 

Tags