Okt 01, 2021 18:36 Asia/Jakarta
  • Manuver Militer Iran Fatehan Kheibar
    Manuver Militer Iran Fatehan Kheibar

Kebijakan Republik Islam Iran adalah menghindari tensi dan perang. Namun demikian negara ini terus menghadapi berbagai ancaman di dekat perbatasannya dan tentu saja Iran tidak dapat mentolerirnya. Dalam hal ini Tehran dengan kekuatan penuh, siap melawan anasir yang merusak stabilitas dan keamanannya.

Penyelenggaraan latihan militer yang teratur merupakan pesan jelas bagi musuh di bidang ini.

Sekaitan dengan ini, manuver Fatehan Kheibar digelar hari Jumat (1/10/2021) dengan melibatkan unit tempur, artileri, drone, unit perang elektronik dan dengan dukungan helikopter tempur angkatan udara. Manuver ini digelar di wilayah barat laut Iran.

Manuver Fatehan Kheibar

Salah satu tujuan strategis Amerika Serikat khususnya selama beberapa tahun terakhir adalah mengobarkan krisis di kawasan dengan maksud memaksakan represi maksimum keamanan dan melibatkan Iran dengan ancaman global. Hal ini dilakukan dengan berbagai aksi seperti pembentukan koalisi militer dan konspirasi hubungan damai Israel dengan negara-negara kawasan.

Amerika Serikat dan Israel melalui pengaruhnya terhadap sejumlah negara kawasan sejatinya ingin mengubah identitas bersejarah bangsa kawasan. Jalinan hubungan Israel dengan sejumlah negara kawasan juga dimaksudkan untuk tujuan ini dan demi menciptakan friksi serta perpecahan antara negara-negara Islam. Dengan kata lain, strategi politik-militer Israel di koridor ini adalah menebar pengaruh di kawasan dengan mengobarkan friksi dan perpecahan.

Republik Islam Iran senantiasa mengawasi pergerakan ini dan menekankan poin ini bahwa kehadiran Israel di kawasan dengan nama atau bentuk apa pun, merupakan peluang bagi tensi, krisis dan ancaman nyata terhadap keamanan bersama di kawasan. Oleh karena itu, Iran tidak pernah memberi kesempatan ini kepada para pengobar instabilitas di kawasan.

Pesan terpenting manuver angkatan bersenjata Iran kepada musuh adalah pasukan kuat militer dan Pasdaran serta pembela keamanan nasional sepenuhnya siap melawan segala bentuk ancaman.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei pada 7 Februari 2021 di pidtonya saat bertemu dengan sejumlah komandan angkatan udara dan unit anti-udara militer menyebut salah satu manifestasi produksi kekuatan adalah memperkokoh angkatan bersenjata sesuai dengan kebutuhan kawasan dan internasional.

Bukti menunjukkan bahwa rezim Zionis berusaha untuk menciptakan ketegangan dan krisis dalam hubungan antara negara-negara Islam, dan dalam situasi di mana ia telah menerima pukulan berat dari Front Perlawanan; Dengan pendekatan licik, ia mencoba menjadikan wilayah tetangga Iran sebagai platform untuk memajukan tujuan dan sasaran agresifnya.

Abdul Bari Atwan, redaktur Koran Rai al-Youm seraya mengisyaratkan hubungan sejumalh negara kawasan dengan Israel dan pintu terbuka bagi rezim ini untuk hadir di kawasan menulis, Israel dengan dalih melawan Iran dan melalui petunjuk langsung Amerika, menjalin kesepakatan militer dan keamanan dengan negara-negara ini.

Statemen dan kontemplatif serta pergerakan provokatif sejumlah negara terhadap Republik Islam Iran, juga dapat dianalisa di koridor ini.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian terkait hal ini secara transparan menekankan bahwa Iran tidak dapat mentolerir pergerakan semacam ini.

Di statemennya saat menerima surat kuasa Ali Alizadeh, dubes baru Republik Azerbaijan di Tehran, Abdollahian seraya mengisyaratkan pergerakan Israel di dekat perbatasan bersama Iran, menjelaskan, "Republik Islam Iran tidak dapat mentolerir kehadiran dan aktivitas Israel mengganggu keamanan nasionalnya dan akan mengambil langkah yang diperlukan di bidang ini."

Wajar jika Israel menilai segala bentuk perubahan geopolitik kawasan merusak keamanan nasionalnya dan senantiasa menyebutnya sebagai garis merah.

Sikap tegas Iran di bidang ini dalam mencegah krisis memiliki urgensitas strategis. Pengalaman beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa banyak tensi dan krisis di perbatasan internasional serta friksi dan ketidakpercayaan antara negara kawasan hanya menguntungkan kepentingan dan tujuan rezim Zionis Israel, serta berkaitan erat dengan kebijakan bersama AS-Israel di kawasan. (MF)

 

 

 

Tags