Okt 03, 2021 21:09 Asia/Jakarta
  • manuver militer Iran di perbatasan Republik Azerbaijan
    manuver militer Iran di perbatasan Republik Azerbaijan

Republik Islam Iran sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menolerir kehadiran rezim Zionis Israel di dekat perbatasannya, dan tidak bisa menerima perubahan geopolitik di kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian, Sabtu (2/10/2021) malam mengatakan, Republik Islam Iran mengamati dengan penuh sensitivitas, tegas, pada saat yang sama dengan pandangan persahabatan, terhadap negara-negara tetangga termasuk Republik Azerbaijan.

Perang di Nagorno-Karabakh sekarang sudah usai, tapi dampaknya tetap membayangi kawasan. Salah satu dampak perang ini adalah sikap Israel yang ingin memancing di air keruh, dan kelompok-kelompok teroris yang ingin masuk ke kawasan.

Akan tetapi sebenarnya masalah ini sudah muncul sejak pecahnya perang Nagorno-Karabakh. Pertama pada dekade 90-an, dan kedua pada perang empat hari, April 2016. Kala itu berita tentang kehadiran kelompok teroris di kawasan sudah tersebar luas.

Kekhawatiran Iran dalam hal ini sepenuhnya dapat dipahami dikarenakan terhubungnya perbatasan negara ini dengan negara-negara kawasan, serta kedekatan hubungan dengan mereka.

Realitasnya, kedekatan wilayah geografis Iran dengan negara-negara yang terlibat perang Nagorno-Karabakh mendesak Tehran untuk bersikap sangat sensitif menanggapi setiap perkembangan yang terjadi di perbatasannya.

Oleh karena itu segala bentuk petualangan, dan kehadiran anasir-anasir pemicu ketidakamanan serta ancaman di kawasan yang dekat dengan perbatasan Iran, dapat memberikan pengaruh langsung pada keamanan nasional negara ini.

Poin penting sehubungan dengan masalah ini adalah pandangan jernih, dan tegas Republik Islam Iran terhadap krisis-krisis yang terjadi di kawasan.

Dengan memperhatikan poin-poin penting di atas, pernyataan Menteri Luar Negeri Iran menjadi sangat penting dilihat dari dua sisi.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

 

Pertama, garis merah dalam diplomasi regional Iran disampaikan dengan jelas, lugas, tanpa tedeng aling-aling. Menlu Iran menegaskan bahwa Iran adalah tetangga besar Republik Azerbaijan. Menurutnya, Iran khawatir, Israel dan teroris akan menjerumuskan Republik Azerbaijan ke dalam bahaya.

Hossein Amir Abdollahian menjelaskan, Republik Islam Iran sampai kapan pun tidak akan pernah menolerir kehadiran rezim Zionis di dekat perbatasannya.

Kedua, dalam statemennya, Menlu Iran menegaskan evaluasi Tehran terkait sikap sejumlah pejabat Republik Azerbaijan, dan analisa dampak provokasi, serta imbasnya bagi hubungan dua negara bertetangga ini.

Amir Abdollahian dalam pernyataannya juga menyinggung poin penting bahwa Iran sudah mengumumkan kekhawatirannya kepada pejabat Republik Azerbaijan, dan mengatakan, "Masalahnya adalah, pergerakan ini dipusatkan oleh Israel dan teroris untuk merusak hubungan Iran dan Republik Azerbaijan."

Kenyataannya, bagi Israel, memiliki hubungan dan hadir di wilayah Republik Azerbaijan sebagai sebuah negara Muslim dengan mayoritas penduduk Syiah, adalah peluang emas. Pejabat Israel menganggap langkah ini dapat mengubah Republik Azerbaijan menjadi "halaman belakang"nya.

Israel yang tengah mengedepankan kebijakan infiltrasinya di negara-negara Muslim, sejak awal kemerdekaan Republik Azerbaijan terus mengejar tujuan ini.

Pengaruh Israel di Nagorno-Karabah bersamaan dengan terjalinnya hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, dan Bahrain, merupakan kebijakan yang disertai target-target terukur, dengan maksud untuk menginfiltrasi keamanan kawasan.

Kebijakan ini dapat dipastikan akan merugikan keamanan, dan kepentingan nasional Republik Azerbaijan sendiri, dan menjadi ancaman bagi keamanan seluruh negara kawasan.

Di sisi lain, Iran selalu menunjukkan pandangan, dan sikap terkait peran destruktif Israel di kawasan, dan menegaskan bahwa Israel kelak tidak akan punya tempat di kawasan. Oleh karena itu Menlu Iran menekankan bahwa menurut Tehran perubahan di perbatasan kawasan tidak bisa ditolerir. Ini merupakan pesan yang jelas, sekaligus tegas. (HS)

Tags