Okt 09, 2021 20:41 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian
    Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

Republik Islam Iran akan kembali ke meja perundingan ketika Barat menunjukkan niat baiknya dan komitmen terhadap janjinya di JCPOA.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian Jumat (8/10/2021) saat jumpa pers di akhir kunjungannya di Beirut menjelaskan, “Sangat penting kepentingan dan hak bangsa Iran dijamin secara penuh di perundingan.”

Menlu Iran seraya menjelaskan bahwa Kami akan kembali ke perundingan Wina mengingatkan, “Kami tidak akan menyia-nyiakan waktu kami di perundingan. Sangat penting kami menerima sinyal dari pihak seberang termasuk Amerika yang mengindikasikan niat serius Washington untun kembali secara penuh ke janjinya di JCPOA.”

Kesepakatan JCPOA diabaikan oleh mantan presiden AS Donald Trump pada tahun 2018, namun setelah Joe Biden berkuasa di Gedung Putih, para petinggi Amerika mulai berbicara mengenai kesiapan negara ini kembali ke JCPOA. Minat tersebut hanya sekedar di mulut, tapi tidak pernah terealisasi di luar.

JCPOA

Isyarat menlu Iran juga mengarah ke poin ini. Amir Abdollahian mengatakan, “Kami menjadikan perilaku AS sebagai tolok ukur dan jika perilaku Washington bertumpu pada kembali secara penuh ke komitmennya dan troika Eropa juga, maka saat itu ada harapan bagi perundingan Wina.”

Kembalinya Iran ke meja perundingan berdasarkan logika dan pengalaman masa lalu. Fakta terkait JCPOA adalah Iran memenuhi komitmennya, tapi troika Eropa (Inggris, Prancis dan Jerman) serta Amerika tidak menjalankan komitmen mereka.

Di sebuah kesepakatan, kedua pihak harus menjalankan komitmennya. Di kondisi saat ini, pihak Barat melalui perang syaraf menyatakan jika Iran tidak kembali ke meja perundingan, maka akan kehilangan kesempatan, sementara Amerika harus mengambil keputusan finalnya.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait hal ini menjelaskan, “Iran akan kembali ke komitmennya di JCPOA ketika AS mencabut seluruh sanksi secara praktis bukan secara lisan atau di atas kertas, dan pencabutan sanksi ini akan diverifikasi oleh Iran.”

Trump telah memberlakukan lebih dari 800 sanksi sepihak dan ilegal terhadap Iran, dan kebijakan yang sama yang diterapkan selama era Trump terus berlanjut.Oleh karena itu, Iran mencari cara untuk memastikan bahwa sanksi dicabut secara efektif. Pencabutan sanksi praktis oleh Amerika Serikat, dan tidak hanya di atas kertas, akan menyebabkan Iran kembali memenuhi kewajiban yang telah dikurangi menurut JCPOA.

Menlu Iran selama kunjungan terbarunya ke Rusia mengatakan, jika perundingan harus menempuh jalur delapan tahun lalu, dan perundingan untuk perundingan, pastinya Iran di waktunya akan mengambil keputusan yang diperlukan.

Pernyataan Menlu Iran tentang dimulainya kembali pembicaraan di Wina memiliki dua aspek penting, pertama, dalam situasi saat ini, ada banyak keraguan tentang tekad AS untuk kembali ke JCPOA. Aspek terpenting kedua dalam hal ini; Menjelaskan tujuan Iran dalam negosiasi adalah untuk menghidupkan kembali JCPOA. Aparat diplomatik Iran percaya bahwa awal yang jelas dan terarah untuk negosiasi lebih baik daripada awal yang samar, tidak matang, dan tanpa hasil.

Sikap jelas dan tegas ini menunjukkan strategi Tehran tekait JCPOA sepenuhnya transparan dan kembalinya Iran ke perjanjian multinasional ini tergantung pada niat baik pihak seberang. (MF)

 

 

Tags