Okt 14, 2021 20:59 Asia/Jakarta
  • Mengenang Hafez Shirazi, Shiraz, Rabu (13/10/2021).
    Mengenang Hafez Shirazi, Shiraz, Rabu (13/10/2021).

Peringatan Hari Hafez Shirazi diselenggarakan pada hari Rabu, 13 Oktober 2021 di mausoleum penyair terkenal Persia ini di Shiraz, Provinsi Fars, Republik Islam Iran. Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Mohammad Mehdi Ismaili dan beberapa pejabat provinsi Fars menghadiri acara tersebut.

Ismaili mengatakan,  yang menentukan keabadian dalam sejarah adalah hubungan yang ditemukan orang-orang dengan al-Qur'an dan Tuhan, dan Hafez, yang karenanya Lisanul Ghaib, telah menemukan kehormatan ini dan mencapai makna yang besar.

Menurutnya, Hafez terikat dengan identitas historis orang Iran. Dia menuturkan, banyak cendekiawan dalam sejarah kontemporer kita yang memiliki pandangan khusus tentang Hafez, misalnya Shahid Muthahhari yang menggunakan hubungan antara Islam dan Iranisme.

Tanggal 20 Mehr yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 12 Oktober 2021 diperingati sebagai Hari Hafez Shirazi. Mehr adalah bulan ketujuh dalam kalender nasional Republik Islam Iran.  

Hafez adalah penyair sekaligus arif besar Iran abad kedelapan Hijriah, atau abad keempat belas Masehi. Kebanyakan sejarawan menyebutkan namanya dengan Khawajeh Shams al-Din Muhammad bin Bahauddin Muhammad Hafez Shirazi. Tapi kemudian, dikenal dengan sebutan Hafez, karena beliau adalah penghafal al-Quran.

Hafez yang lahir pada tahun 727 H di Shiraz dan meninggal dunia pada 792 H ini juga dikenal sebagai Lisanul Ghaib, Tarjumanul Asrar, Lisanul Urufa dan Nadhimul Auliya.

Hafez tidak hanya dikenal luas di Iran, tapi juga masyarakat dunia. Pengaruh magnet puisinya menarik banyak orang di berbagai negara dunia, termasuk para penyair terkemuka. Bahkan sebagian dari mereka mencurahkan waktunya untuk mempelajari bahasa Farsi demi bisa menelaah karya puisi Hafez.

Salah seorang penyair, penulis, dan pemikir terkemuka Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) banyak dipengaruhi pemikirannya oleh Hafez. Bahkan ia mempersembahkan karyanya berjudul "West–östlicher Divan", sajak pujian Barat-Timur.

Pada awalnya, Goethe mengenal karya puisi Hafez melalui terjemahan Divan Hafez oleh Joseph von Hammer Purgstall. Tapi setelah mengenal secara lengkap terjemahan tersebut, ia merasa perlu memperlajari bahasa Persia demi mendukung pemahamannya tentang karya Hafez.

Goethe menyebut diwan Hafez sebagai ‘heiligen Bücher’, buku yang berharga. Karya Goethe, West–östlicher Divan terinspirasi oleh korespondensi Goethe dengan Marianne von Willemer dan terjemahan puisi Hafez oleh orientalis Joseph von Hammer. Versi yang diperluas dari karya Gothe ini dicetak pada tahun 1827.

Buku ini terdiri dari dua belas bagian yaitu: Buku Penyanyi (Moganni Nameh); Buku Hafez (Hafez Nameh); Buku Cinta (Uschk Nameh): Buku Tafakur (Tefkir Nameh); Buku Penderitaan (Rendsch Nameh); Buku Hikmah (Hikmet Nameh); Buku Timur (Timur Nameh); Buku Zuleika (Suleika Nameh); Buku Gugatan (Saki Nameh): Buku Perumpamaan (Mathal Nameh): Buku Parsi (Nama Parsi); Buku Surga (Chuld Nameh)

Karya Goethe ini dipandang sebagai simbol untuk interaksi yang baik antara Timur dan Barat. Frasa "barat-timur" tidak hanya mengacu pada pertukaran kebudayaan antara Jerman dan Timur Tengah, tetapi juga antara budaya Latin dan Persia, serta budaya Kristen dan Muslim. Kedua belas buku itu terdiri atas puisi dari berbagai jenis: perumpamaan, kiasan historis, potongan puisi yang mengundang, politik atau agama yang mencerminkan usaha untuk mencari persamaan antara Timur dan Barat oleh seorang penyair Jerman.

Pemikiran Hafez juga menjadi perhatian Friedrich Engels, sebagaimana dalam salah satu pesan yang ditulisnya kepada Karl Marx. Engels menulis, "Selama kamu tidak memahami pemikiran Hafez, engkau tidak akan bisa mewujudkan pemikiranmu di dunia. Oleh karena itu, saya hari ini mulai belajar bahasa Farsi sehingga bisa lebih baik untuk mempelajari pemikiran Hafez, dan saya pun menganjurkan supaya kamu mempelajari bahasa ini,".

Pemikiran besar Hafez tidak bisa dilepaskan dari kekayaan khazanah Persia yang kaya. Latar sosial kehidupan Hafez ketika itu dipengaruhi oleh dinamika keilmuan Shiraz. Para arif dan ulama terkemuka berada di Shiraz dan mengajarkan berbagai ilmu kepada para muridnya. Hafez memanfaatkan situasi yang kondusif bagi pengembangan intelektualitas dan spiritualitasnya saat itu.

Arthur John Arberry, seorang orientalis Inggris berkeyakinan bahwa Hafez sejak kecil memiliki potensi sastra kritis yang maju. Dengan mengisi beberapa isi ghazal, format puisinya lebih artistik. Menurut Arberry, pemikiran Hafez sepenuhnya revolusioner. Meskipun terdapat dua atau beberapa isi, tapi ghazal Hafez tetap terjaga kesatuannya. Lambat laun ia menimba pengalaman dari seorang murid baru  hingga menemukan jalannya sendiri dengan membuat ghazal yang menawan.

Para peneliti menilai syair Hafez dari sisi metode dan isi mensintesiskan irfan Maulawi, kecintaan Saadi dan pemikiran filsafat Khayyam. Tapi, karakteristik syair Hafez tidak hanya itu. Ia juga menggunakan metode ghazal yang tidak pernah dipergunakan oleh para pendahulunya. Oleh karena itu, para peneliti Hafez meyakini karya puisi penyair Iran ini sangat unik dan khas. (RA)

 

Tags