Okt 16, 2021 14:03 Asia/Jakarta
  • Serangan Bom Teror di Masjid Syiah di Kunduz, Afghanistan
    Serangan Bom Teror di Masjid Syiah di Kunduz, Afghanistan

Perkembangan di Republik Islam Iran selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting seperti Iran sikapi aksi teror di dua masjid Syiah di Kunduz dan Kandahar.

Selain itu, masih ada isu penting lainnya seperti Menlu Iran: Kami Tak Percaya pada Perilaku AS, Iran: Tidak Ada Toleransi bagi Kehadiran Israel di Perbatasan, Militer dan IRGC Iran Gelar Latihan Gabungan Skala Besar, Iran Sukses Berlatih Lumpuhkan Rudal-Rudal Bersayap, Iran Memperingatkan Petualangan Berbahaya oleh Israel, Mayjen Salami: IRGC Siap Lakukan Operasi Reaksi Cepat.

Sikap Iran atas Ledakan Bom Teror di Kunduz dan Kandahar Afghanistan

Hanya berselang satu pekan terjadi dua serangan teroris mematikan terhadap dua masjid Syiah di Kunduz dan Kandahar Afghanistan. Republik Islam Iran menyikapi keras aksi teror tersebut dan meminta pemerintah Taliban untuk menangkap para pelaku dan menghukumnya secara keras.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam sebuah pesan, meminta para pelaku serangan terhadap sebuah masjid di Provinsi Kunduz, Afghanistan dihukum.

Rahbar, Ayatullah Khamenei

Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyerukan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya tragedi semacam itu.

“Insiden tragis ledakan di masjid distrik Khan Abad, Provinsi Kunduz, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah besar jamaah shalat, membuat kami berduka,” kata Rahbar dalam pesannya pada Sabtu (9/10/2021).

“Pejabat negara-negara tetangga dan saudara Afghanistan sangat diharapkan untuk menghukum para pelaku kejahatan besar ini dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya tragedi semacam itu,” tambahnya.

Ayatullah Khamenei memohon kepada Allah Swt agar mencurahkan rahmat-Nya dan meninggikan derajat para syuhada peristiwa itu serta memberikan kesembuhan segera bagi korban luka dan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Serangan bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Provinsi Kunduz, Afghanistan Utara pada hari Jumat menyebabkan hampir 100 jamaah shalat gugur dan sekitar 200 lainnya terluka.

Kelompok teroris Daesh dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam mengaku bertanggung jawab atas serangan berdarah itu.

Sementara itu, Presiden Republik Islam Iran mengaku khawatir dengan berlanjutnya aksi teror, dan kombinasi fitnah mazhab serta fitnah etnis, dan menyebutnya sebagai proyek keamanan baru Amerika Serikat di Afghanistan.

Sayid Ebrahim Raisi, (9/10/2021) menyampaikan pesan belasungkawa atas gugur dan terlukanya sejumlah banyak warga tak bersalah Afghanistan dalam aksi teror di Masjid Syed Abad, Kunduz.

Ia menambahkan, kejahatan ini dilancarkan untuk memecah belah umat Islam, oleh orang-orang yang substansi anti-kemanusiaan dan anti-agamanya tampak jelas.

Dalam pesannya, Raisi menulis, "Saya menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Afghanistan, dan seluruh masyarakat dunia, atas gugur dan terlukanya sejumlah banyak warga tak bersalah Afghanistan di sebuah tempat suci saat mereka tengah beribadah."

"Tidak ada yang meragukan bahwa pertumbuhan gerakan teroris Takfiri ini didukung dan diorganisir oleh AS, dan Washington dalam beberapa tahun terakhir memfasilitasi meluasnya kejahatan ISIS di Afghanistan, dan mencegah pemberantasan kelompok teroris itu," paparnya.

Adapun Ketua Majelis Syura Islam Iran (parlemen) mengecam kejahatan sadis yang dilakukan para teroris Takfiri di sebuah masjid di kota Kunduz, Afghanistan. Menurutnya, proyek keamanan baru musuh Afghanistan adalah fitnah etnis dan mazhab.

Mohammad Bagher Ghalibaf, Minggu (10/10/2021) menuturkan, "Sungguh disayangkan sejumlah banyak warga tak bersalah dan tertindas Afghanistan gugur di Masjid Syed Abad, kota Kunduz, sehingga membuat hati seluruh pecinta kebebasan dunia terluka."

Ia menambahkan, "Saya mengucapkan belasungkawa kepada saudara dan saudari saya warga Afghanistan, saya memohon kepada Allah Swt agar keluarga para syuhada diberikan kesabaran dan ketabahan."

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf

Ghalibaf menegaskan, pejabat Afghanistan berkewajiban untuk melindungi satu per satu warga negara ini, dan selain menghukum para pelaku, dan dalang teror mengerikan ini, mereka juga harus menerapkan pengawasan keamanan ketat untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

"Fitnah etnis dan mazhab merupakan proyek keamanan baru musuh rakyat Afghanistan yang dilakukan melalui tangan kelompok teroris, dan didukung Amerika Serikat," imbuhnya.

Menurut Ketua Parlemen Iran, negara-negara Muslim harus waspada dan dengan bersandar pada persatuan bangsa-bangsa Muslim dunia, mencegah berlanjutnya aksi teror kelompok teroris Takfiri di seluruh kawasan.

Di sisi lain, seorang anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran mengatakan bahwa ledakan di Kunduz mungkin dilakukan oleh Daesh atau kelompok teroris lain, tetapi Taliban yang saat ini menguasai Afghanistan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab secara langsung atas terjadinya serangan teroris tersebut.

Fada Hussein Maliki dalam wawancara dengan Iran Press hari Minggu (10/10/2021) menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Afghanistan atas terjadinya ledakan bom di masjid Kunduz dan meminta Taliban bertanggung jawab dalam  masalah ini.

"Saat ini Taliban masih sibuk mengurus struktur internalnya, dan kekacauan masih terlihat di berbagai setiap sudut Afghanistan," ujar Maliki.

"Taliban belum mengambil langkah positif dalam membangun dan membentuk pemerintahan yang inklusif, meskipun berjanji untuk melakukannya," tegas anggota dewan legislatif Iran ini.

Dia juga mengkritik Taliban yang tidak menempatkan orang-orang yang profesional di bidangnya masing-masing dalam struktur pemerintahan Afghanistan.

"Banyak orang di negara ini  memiliki pengalaman dan keahlian dalam pemerintahan, tapi tidak dipekerjakan," paparnya.Al-Maliki menekankan bahwa Taliban akan berhasil ketika bisa membentuk pemerintahan yang inklusif untuk memulihkan stabilitas negara.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (15/10/2021) mengutuk serangan teroris terhadap sebuah masjid syiah di Provinsi Kandahar, Afghanistan.

“Musuh-musuh Islam dan kaum Muslim kembali menggunakan tangan teroris takfiri untuk membunuh rakyat tertindas Afghanistan yang sedang menunaikan shalat Jumat,” tambahnya.

Kemenlu Iran bersimpati dengan keluarga para korban serangan mematikan itu dan mendoakan kesembuhan segera untuk orang-orang yang terluka.

“Kami sekali lagi memperingatkan terhadap konspirasi memecah-belah yang dilakukan oleh musuh umat Islam dan menekankan perlunya persatuan Syiah-Sunni serta menolak kekerasan dan ekstremisme atas nama Islam,” tegas pernyataan tersebut.

Kemenlu Iran mencatat bahwa insiden tragis ini dan peristiwa tragis di masa lalu, termasuk serangan terhadap jamaah shalat di Kunduz, semakin menuntut kewaspadaan dan perlunya melipatgandakan perlindungan pusat-pusat keagamaan Syiah dan Sunni serta pertemuan lain di Afghanistan.

“Iran yakin bahwa saudara dan saudari Muslim Afghanistan kita akan menggagalkan konspirasi memecah-belah oleh musuh melalui persatuan, solidaritas, dan kerja sama,” tegasnya.

Menlu Iran: Kami Tak Percaya pada Perilaku AS

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan, jika Amerika Serikat dan tiga negara Eropa kembali ke komitmennya, dan tidak menjadikan JCPOA sebagai pion permainan politik mereka, maka Iran akan tetap menjadi pihak paling terpercaya untuk kembali ke kesepakatan nuklir.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

Hossein Amir Abdollahian, seperti dikutip Fars News, Senin (11/10/2021) dalam wawancara dengan stasiun televisi NBC menuturkan, Iran akan segera kembali ke kesepakatan nuklir JCPOA.

Akan tetapi pada saat yang sama Menlu Iran mempertanyakan sikap AS, jika benar-benar ingin kembali ke perundingan lalu sanksi-sanksi baru yang dijatuhkan atas Tehran, apa artinya.

"Apa yang kami butuhkan sekarang adalah mengembalikan kepercayaan. Kami tidak percaya pada perilaku AS. Karena pemerintah terdahulu Iran selama delapan tahun penuh bertahan di perundingan, dan sekarang rakyat Iran bertanya kepada pemerintah baru, apa hasil yang diperoleh dari JCPOA. Kami tidak punya jawaban yang memuaskan untuk mereka. Maka sekali lagi saya tegaskan, semua tergantung pada pihak lawan perundingan Iran," paparnya.

Iran: Tidak Ada Toleransi bagi Kehadiran Israel di Perbatasan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Republik Islam tidak akan mentoleransi kehadiran Israel di dekat perbatasannya.

Saeed Khatibzadeh menyatakan pada hari Minggu (10/10/2021) bahwa pesan Iran sangat jelas, dan dalam praktiknya telah ditunjukkan bahwa Israel tidak dapat hadir di dekat perbatasan Iran.

"Iran dan Republik Azerbaijan tidak boleh membiarkan pihak ketiga ikut campur," tegasnya mengacu pada kehadiran rezim Zionis di Azerbaijan.

"Israel senang melihat kawasan kami tidak aman,” tambahnya seperti dilaporkan Iran Press.

Khatibzadeh menandaskan Israel tidak membawa apa pun selain ketidakamanan, ketidakstabilan, dan terorisme di mana pun mereka hadir.

"Iran tidak bermain-main dengan keamanan nasionalnya dan semua tetangga mengetahui ini dengan sangat baik,” pungkasnya.

Militer dan IRGC Iran Gelar Latihan Gabungan Skala Besar

Angkatan Bersenjata Iran menggelar latihan gabungan pertahanan udara yang disebut “Modafe'an-e Aseman-e Velayat 1400” (Pembela Langit Wilayat 1400).

Latihan ini dimulai pada hari Selasa (12/10/2021) di daerah gurun, Iran Tengah dengan sandi “Ya Rasulullah Saw,” Manuver ini melibatkan sistem pertahanan rudal buatan lokal, radar, peralatan peperangan elektronik, drone pengintai, dan sistem jaringan komunikasi.

Brigadir Jenderal Qader Rahimzadeh, Komandan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam al-Anbia, mengatakan tahap pertama latihan gabungan ini dimulai dengan penyebaran sistem pertahanan udara dan pergerakan cepat pasukan.

“Pasukan militer dan IRGC juga akan menerbangkan pesawat pengintai berawak dan tanpa awak di daerah latihan,” tambahnya.

Brigjen Rahimzadeh menuturkan bahwa di antara misi latihan ini adalah untuk melindungi pusat-pusat sensitif dan bertahan dari ancaman udara, amunisi pintar, rudal jelajah, serta drone dan pesawat siluman.

Latihan gabungan besar-besaran ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pasukan dalam mempertahankan wilayah udara Iran dari ancaman musuh.

Iran Sukses Berlatih Lumpuhkan Rudal-Rudal Bersayap

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengatakan, dengan adanya Pangkalan Udara Khatam Al Anbiya Saw, pertahanan udara Iran menjadi terintegrasi, dan sistem pertahanan udara Militer dan IRGC ditempatkan di seluruh penjuru Iran.

amir

Brigadier Jenderal Amir Ali Hajizadeh

Brigadier Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Rabu (13/10/2021) di sela manuver militer Modafean-e Aseman-e Velayat 1400 menuturkan, “Dalam manuver ini, kami melakukan sebuah simulasi perang potensial, satu kelompok memainkan peran musuh, dan satu kelompok lain berperan sebagai agresor. Keduanya menyerang lokasi manuver dari berbagai arah, dan kami memainkan peran sebagai yang diserang.”

Ia menambahkan, “Dalam manuver ini untuk pertama kalinya kami menggunakan rudal-rudal bersayap yang ditembakan dari jet tempur, kemudian kami melacaknya dan menyerahkannya ke sistem pertahanan udara.”

Brigjen Hajizadeh menjelaskan, “Kami melakukan simulasi menghadapi berbagai jenis ancaman seperti ancaman rudal jelajah, amunisi perang jarak jauh, dan drone dengan kecepatan rendah serta tinggi. Semua ancaman ini berhasil kami atasi dengan sistem pertahanan buatan dalam negeri.”

Iran Memperingatkan Petualangan Berbahaya oleh Israel

Duta Besar Iran untuk PBB dalam sebuah surat kepada Dewan Keamanan, mengatakan kami memperingatkan terhadap setiap kesalahan perhitungan dan petualangan militer rezim Israel terhadap Iran, termasuk program nuklir kami.

Majid Takht-Ravanchi mengirim surat resmi Iran kepada ketua periodik Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (13/10/2021) sebagai jawaban atas ancaman terbaru Israel.

“Dalam beberapa bulan terakhir, rezim Zionis terus meningkatkan jumlah dan intensitas ancaman provokatif dan petualangannya yang telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan,” tulis Takht-Ravanchi dalam suratnya seperti dilansir IRNA.

Kepala Staf Gabungan Militer Israel, Letnan Jenderal Aviv Kohavi mengatakan baru-baru ini bahwa rencana operasional untuk melawan program nuklir Iran akan terus dikembangkan dan ditingkatkan.

“Operasi untuk menghancurkan kemampuan Iran di berbagai bidang akan terus berlanjut kapan saja,” tegasnya.

Takht-Ravanchi menuturkan Iran juga pernah mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB pada 1 Februari, 12 April, 27 Agustus, dan 12 September 2021 untuk memprotes ancaman Israel.

“Ancaman sistematis terbuka seperti ini yang dilakukan rezim Zionis atas salah satu anggota pendiri PBB merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, khususnya Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB,” tambahnya.

“Fakta bahwa Israel terus melanjutkan operasi untuk menghancurkan kemampuan Iran, tanpa ragu lagi menjadi bukti bahwa rezim itu bertanggung jawab atas serangan teroris terhadap program nuklir damai kami di masa lalu,” kata Takht-Ravanchi.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu diambil langkah untuk menghentikan semua ancaman dan perilaku yang mengganggu oleh rezim Zionis.

Mayjen Salami: IRGC Siap Lakukan Operasi Reaksi Cepat

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC menagtakan, Angkatan Laut IRGC sekarang sudah sampai pada level yang mampu melancarkan "operasi reaksi cepat".

Mayor Jenderal Hossein Salami

Mayor Jenderal Hossein Salami, Jumat (15/10/2021) menuturkan, dalam kebijakan dan strategi Iran, tidak ada satu pun langkah musuh, di mana pun dan dengan pertimbangan apa pun, tidak bisa ditolerir.

Ia menambahkan, "IRGC siap menghadapi ancaman apa pun, dan kekuatan pertahanan serta serangan IRGC untuk memberikan reaksi keras terhadap semua musuh, selalu siap dan cepat."

Mayjen Salami hari ini meninjau tingkat kesiapan pertahanan-tempur unit-unit AL IRGC di pulau-pulau Teluk Persia, dan Selat Hormuz di selatan Iran. Ia menilai level kesiapan pasukan IRGC bagus, dan seluruh unit siap untuk melancarkan segala bentuk operasi tempur.

"AL IRGC dengan peralatan-peralatan perang canggih yang dimilikinya, mampu menngontrol kondisi geografis Teluk Persia, dan Selat Hormuz dengan cermat," pungkasnya.

 

Tags