Okt 19, 2021 15:11 Asia/Jakarta
  • Amir Abdollahian dan Sekjen OKI Yousef Al Othaimeen
    Amir Abdollahian dan Sekjen OKI Yousef Al Othaimeen

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir Abdollahian di kontak telepon dengan Sekjen Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Yousef Al Othaimeen menyinggung aksi teror dan kejahatan terbaru Daesh (ISIS) menyerang jamaah shalat di dua Masjid Kunduz dan Kandahar.

Amir Abdollahian di kontak telepon tersebut juga meminta sekjen dan anggota OKI mengutuk aksi kejahatan dan sadis ini.

Rakyat Afghanistan lebih dari dua abad menjadi korban pendekatan perang Amerika dan kini mereka juga menjadi target kejahatan teror Daesh yang aktif di negara ini dengan dukungan Amerika Serikat.

Daesh selama beberapa bulan terakhir menarget masjid-masjid Syiah di Afghanistan untuk mengobarkan perpecahan antara Sunni dan Syiah.

Aksi teror di Masjid Imam Bargah-e Fatima, masjid terbesar Syiah di Kandahar menggugurkan lebih dari 40 orang dan menciderai 70 lainnya. Kelompok teroris Daesh mengaku bertanggung jawab atas serangan berdarah tersebut.

Serangan teror di masjid Kunduz

Ini merupakan serangan teror kesekian kalinya di Afghanistan. Ledakan teror pertama di pekan kedua setelah berkuasanya Taliban di Afghanistan, tepatnya di dekat bandara udara Kabul. Milisi Daesh juga mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan sekitar 200 korban termasuk perempuan dan anak-anak.

Beberapa pekan lalu juga terjadi ledakan bom di dekat Masjid Eidgah di Kabul yang menewaskan sedikitnya delapan orang dan menciderai 20 lainnya. Aksi teror di sebuah masjid di Kandahar terjadi ketika sebelumnya insiden serupa di Masjid Syed Abad di Kunduz menewaskan 46 orang dan tanggung jawab serangan tersebut juga teroris Daesh.

Republik Islam Iran mengutuk kejahatan ini dan mengaku khawatir atas berlanjutnya insiden teror.

Kegagalan pemerintah sementara Taliban menghadapi aksi teror Daesh dan berlanjutnya kejahatan ini di Afghanistan sebuah kendala utama yang harus diambil keputusan serius untuk menanganinya.

Isu penting lain adalah tanggung jawab Dunia Islam dan negara-negara anggota OKI.

Negara-negara Islam meski memiliki kapasitas besar, tapi sayangnya tidak mengambil langkah efektif dalam melawan terorisme Daesh.

Sejak tahun 2001 ketika Afghanistan diduduki Amerika Serikat hingga beberapa bulan lalu ketika Washington memutuskan untuk meninggalkan negara ini secara tidak bertanggung jawab, rakyat Afghanistan senantiasa menjadi korban kehadiran dan petualangan Gedung Putih dan NATO. Selama tahun-tahun-tahun tersebut, kejahatan ini berlangsung di bawah kebungkaman dan sikap pasif berbagai organisasi dan lembaga HAM. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang seharusnya menjadi sandaran dan pembela hak bangsa Muslim, dalam prakteknya tidak menjalankan tanggung jawabnya tersebut.

Saat ini, situasi rakyat Afghanistan sangat mengkhawatirkan dan kebutuhan untuk memberikan keamanan bagi semua spektrum politik dan kelompok etnis-agama sangat terasa. Tidak diragukan lagi, krisis Afghanistan akan memasuki fase yang lebih serius jika langkah-langkah keamanan yang ketat tidak diambil dan ketidakmampuan untuk menghadapi elemen teroris terus berlanjut.

Dalam situasi sulit ini, Republik Islam Iran menganggap dirinya berada di pihak rakyat Afghanistan dan siap membantu dan bekerja sama dalam segala cara yang memungkinkan untuk menciptakan stabilitas dan keamanan yang langgeng bagi rakyat Afghanistan.

Hossein Amir Abdollahian terkait hal ini di kontak teleponnya dengan Sekjen PBB, Antonio Guterres Senin (18/10/2021) malam mengungkapkan kekhawatirannya atas situasi di Afghanistan dan menuntut langkah serius sekjen PBB untuk menghentikan dan melawan terorisme di negara tersebut.

Serangan bom teror di masjid Syiah di Kandahar

Kontak menlu Iran dengan petinggi PBB dan sekjen OKI serta penekanan akan dukungan terhadap peran aktif organisasi dan negara-negara Islam terkait Afghanistan, mengingatkan urgensitas masalah ini di tingkat regional dan internasional. (MF)

 

Tags