Okt 23, 2021 16:16 Asia/Jakarta
  • Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35
    Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35

Perkembangan di dalam negeri Iran selama satu pekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35 Dibuka di Tehran.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Shahriari: Agresor Global Jadikan Perang untuk Justifikasi Kehadirannya ! Presiden Iran: Kami Serius dengan Perundingan Nuklir Berorientasi Hasil, Iran Imbau Para Tetangga Mewaspadai Kehadiran Zionis, Raisi: Amerika Latin, Prioritas Diplomasi Ekonomi Iran, Iran Tak Ingin Kaitkan Perundingan Nuklir dengan Pertukaran Tahanan, Iran dan Saudi Hidupkan Kembali Hubungan Perdagangan, Latihan AU Militer Iran Libatkan Banyak Jet Tempur dan Drone.

Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35 Dibuka di Tehran

Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35 yang mengusung tema "Persatuan Islam, Perdamaian dan Menghindari Perpecahan serta Konflik di Dunia Islam" dibuka secara resmi hari ini, Selasa (19/10/2021) di Tehran.

Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi membuka secara resmi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35 ini.

Konferensi ini dijadwalkan berlangsung selama enam hari, 19-24 Oktober 2021 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan karena masih dalam situasi wabah virus Corona.

Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-35 yang dituan rumahi Iran, dihadiri oleh perwakilan dari 39 negara dunia, dan digelar secara virtual dan fisik.

Dalam acara pembukaan yang dilakukan hari ini, selain Presiden Iran, Sekjen Jihad Islam Palestina Ziad Al Nakhala, Adil Abdul Mahdi, mantan Perdana Menteri Irak, Aziz Hasanovic, Mufti Agung Kroasia, Khalil Al Hayya, Deputi urusan internasional Hamas, Bouabdallah Ghlamallah, Ketua Dewan Tinggi Islam Aljazair, dan sejumlah cendekiawan Dunia Islam lain, turut menyampaikan pidatonya.

Shahriari: Agresor Global Jadikan Perang untuk Justifikasi Kehadirannya !

Sekjen Forum Pendekatan Antarmazhab Islam, Hujatul Islam wal Muslimin, Hamed Shahriari mengatakan, "Adidaya global selalu berusaha membenarkan kehadirannya di kawasan dengan menciptakan perang dan pertumpahan darah serta menjarah sumber daya alam negara-negara Muslim".

Hujatul Islam wal Muslimin Hamed Shahriari dalam pembukaan Konferensi ke-35 Persatuan Islam hari Selasa (19/10/2021) mengatakan, "Sayangnya hari ini kita menyaksikan  perang dan konflik berdarah di dunia Islam. Untuk itu, kami mengangkat tema perdamaian dalam Konferensi Persatuan Islam ke-35 demi mewujudkan perdamaian dan menghindari perpecahan maupun konflik di dunia Islam,”.

"Kekuatan arogan global selalu berusaha untuk membenarkan kehadirannya di kawasan dengan menciptakan perang dan pertumpahan darah serta penjarahan sumber daya alam negara-negara Muslim." ujar Shahriari.

Bersamaan dengan dimulainya Pekan Persatuan Islam, Konferensi Internasional ke-35 Persatuan Islam mengusung tema "Perdamaian dan Menghindari Konflik di Dunia Islam" dimulai hari ini hingga 24 Oktober dengan kehadiran para ulama dan intelektual Muslim dari 39 negara dunia, yang berlangsung secara virtual dan fisik.

Presiden Iran: Kami Serius dengan Perundingan Nuklir Berorientasi Hasil

Presiden Republik Islam Iran mengatakan bahwa negaranya tidak pernah meninggalkan meja perundingan, dan serius soal perundingan berorientasi hasil. Menurutnya perundingan nuklir harus menghasilkan, dan pihak lawan perundingan harus menunjukkan kesiapan untuk mencabut sanksi secara serius.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi

Sayid Ebrahim Raisi, Senin (18/10/2021) dalam wawancara khusus dengan televisi nasional Iran, menjelaskan Republik Islam berkomitmen dan serius atas apa yang sudah diumumkannya, sebaliknya pihak lawan perundingan juga perlu menunjukkan keseriusannya.

Presiden Iran menyinggung keanggotaan negaranya dalam kesepakatan-kesepakatan regional terutama Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO dan menuturkan, "Hubungan dengan negara-negara tetangga, dan kawasan adalah prioritas pemerintah Iran."

Sehubungan dengan situasi yang terjadi di Afghanistan, dan sikap Iran terkait masalah ini, Raisi menerangkan, "Strategi Republik Islam Iran di Afghanistan adalah mewujudkan stabilitas dan persatuan, sementara strategi Amerika Serikat adalah menciptakan kekacauan, perpecahan dan disintegrasi, dan ini sudah disadari oleh rakyat Afghanistan."

"Pemerintah Iran berharap agar pihak berkuasa di Afghanistan membentuk pemerintahan inklusif yang mengakomodir seluruh kelompok politik dan etnis yang aktif di negara itu, dan langkah ini didukung oleh Iran," ujarnya.

Terkait berlanjutnya dukungan AS terhadap kelompok teroris ISIS, dan kehadiran anasir teroris ISIS di Afghanistan, Raisi mengatakan, "AS selalu berusaha menciptakan kekacauan, dan instabilitas di kawasan terutama di Afghanistan."

Menurutnya, Afghanistan harus mampu memiliki kondisi aman dan tenang, sehingga rakyat bisa hidup dalam perdamaian, keamanan dan ketenangan.

Iran Imbau Para Tetangga Mewaspadai Kehadiran Zionis

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, semua negara di kawasan perlu menyadari bahwa kehadiran rezim Zionis tidak membawa apa pun selain ketidakamanan.

Hal itu disampaikan Saeed Khatibzadeh dalam konferensi pers di Tehran, Senin (18/10/2021) seperti dilaporkan Iran Press.

Jubir Kemenlu Iran Saeed Khatibzadeh

Dia menganggap manuver militer yang digelar oleh Azerbaijan sebagai hal yang wajar. "Latihan ini wajar dilakukan oleh negara-negara regional, tetapi mereka harus memberikan informasi yang akurat tentang ini," imbuhnya.

Namun, lanjut Khatibzadeh, kehadiran Israel ilegal di kawasan telah menjadi pemicu bagi semua ketidakamanan. Oleh sebab itu, semua negara di kawasan perlu lebih berhati-hati.

"Iran tidak akan mentoleransi kehadiran rezim Zionis di dekat perbatasannya dan kami telah menyampaikan ke negara-negara tetangga melalui berbagai saluran persahabatan," jelasnya.

Di bagian lain, Khatibzadeh menuturkan Iran tidak pernah menetapkan prasyarat untuk Amerika Serikat.

"Kami tidak pernah menetapkan prasyarat untuk AS, karena mereka bukan anggota Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA)," tegasnya.

"Seluruh pembicaraan yang dilakukan sampai saat ini bertujuan untuk memastikan kembalinya AS pada komitmennya secara penuh, efektif, dan tanpa syarat sesuai dengan resolusi 2231, dan mencabut sanksi ilegalnya terhadap Iran secara penuh," kata Khatibzadeh.

Raisi: Amerika Latin, Prioritas Diplomasi Ekonomi Iran

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raeisi mengatakan Republik Islam ingin secara signifikan mengembangkan hubungan dengan negara-negara berkembang.

Raisi menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Venezuela, Felix Plasencia di Tehran pada Senin (18/10/2021).

"Amerika Latin, khususnya Venezuela, adalah bagian dari prioritas diplomasi ekonomi Republik Islam Iran. Kami bertekad untuk mengembangkan hubungan kami dengan negara-negara tersebut," ujar Raisi.

Menurutnya, untuk mengembangkan hubungan bilateral, Tehran dan Karakas perlu memiliki rencana jangka panjang yang jelas sehingga hubungan kedua pihak berkembang secara maksimal.

"Melalui rencana kerja sama jangka panjang ini, tercipta prospek yang cerah untuk pengembangan dan penguatan hubungan," jelasnya.

Raisi berharap dengan adanya kunjungan Presiden Venezuela ke Tehran dalam waktu dekat, dapat diambil langkah-langkah baru untuk pengembangan kerja sama dan hubungan.

Dalam pertemuan ini, menlu Venezuela menyampaikan salam presiden negaranya kepada presiden Iran, dan menganggap hubungan kedua negara bersahabat.

"Kedua negara bersatu melawan kekuatan hegemoni dan pihak-pihak yang ingin merusak independensi kita,” kata Plasencia.

"Republik Bolivarian Venezuela berdiri bersama Iran dalam membela multilateralisme dan melawan campur tangan Amerika Serikat," tegasnya.

Menurut menlu Venezuela, Iran merupakan negara penting dan berpengaruh di kawasan.

"Menyusun rencana hubungan jangka panjang Iran-Venezuela dapat membantu kita dalam mengembangkan hubungan. Karakas siap untuk mempererat hubungan dengan Tehran di semua bidang yang menjadi kepentingan bersama," tegas Plasencia.

Menlu Venezuela berkunjung ke Tehran untuk bertemu dengan para pejabat tinggi Iran. Dia diterima oleh Presiden Raisi setelah berdialog dengan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian

Iran Tak Ingin Kaitkan Perundingan Nuklir dengan Pertukaran Tahanan

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan Tehran tidak ingin mengaitkan pertukaran tahanan dengan perundingan nuklir. Menurutnya Iran mendukung perundingan yang membawa hasil nyata, dan selama anggota JCPOA menjalankan komitmen, maka Iran juga akan berlaku sama.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian

Hossein Amir Abdollahian, Senin (18/10/2021) malam melakukan pembicaraan telepon dengan Sekjen PBB Antonio Guterres.

Dalam pembicaraan itu, Abdollahian mengatakan, "Kami menganggap masalah tahanan berada dalam kerangka kemanusiaan, dan kami tidak ingin mengaitkan masalah ini dengan perundingan nuklir."

Di sisi lain, Juru bicara Kemenlu Iran Saeed Khatibzadeh dalam konferensi persnya hari ini, Selasa (19/10) mengatakan, perundingan Iran dan Uni Eropa di Brussells adalah kesepakatan dua arah.

Iran dan Saudi Hidupkan Kembali Hubungan Perdagangan

Juru bicara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Iran mengatakan, hubungan perdagangan antara Republik Islam Iran dan Arab Saudi berjalan kembali di bawah pemerintahan baru.

Sayid Rouhollah Latifi menuturkan pada hari Senin (18/10/2021) bahwa Iran mengekspor barang senilai 39 ribu dolar ke Arab Saudi.

"Hal ini menandai dimulainya kembali hubungan ekonomi bilateral di bawah pemerintahan baru Iran setelah terhenti selama satu setengah tahun," ujarnya kepada kantor berita IRIB.

Latifi menjelaskan bahwa setelah hubungan kedua negara terputus selama satu setengah tahun, ekspor ke Saudi dilakukan bersamaan dengan pembicaraan kedua negara, yang merupakan sebuah kabar baik.

"Dari total nilai ekspor produk Iran ke Saudi, 6 ribu dolar untuk pengiriman keramik dan 33 ribu dolar terkait dengan ekspor kaca untuk keperluan rambu lalu lintas," jelasnya.

Menurut Latifi, dimulainya kembali ekspor produk Iran ke Saudi di bawah pemerintahan Presiden Raisi merupakan sinyal dari mencairnya hubungan politik, ekonomi, dan budaya kedua negara.

Latihan AU Militer Iran Libatkan Banyak Jet Tempur dan Drone

Angkatan Udara Militer Iran melakukan manuver besar-besaran yang melibatkan beberapa pangkalan udara yaitu pangkalan udara Babaei di kota Isfahan, Fakuri di Tabriz, Vahdati di Dezful, Abdul Karimi di Bandar Abbas, dan Yasini di Bushehr.

Dikutip dari laman Iran Press, latihan militer yang disebut Modafe’an Aseman-e Velayat 1400 (Pembela Langit Velayat 1400) dimulai pada hari Kamis (21/10/2021).

“Puluhan pesawat tempur, pesawat pengebom, pesawat angkut berat dan semi berat, pesawat pencegat dan pengintai, serta drone akan melakukan latihan tahap utama dan tahap operasional selama satu hari,” kata Brigadir Jenderal Hamid Vahedi, Komandan Angkatan Udara Militer Iran.

Kegiatan ini, lanjutnya, melibatkan pesawat berawak dan tanpa awak, termasuk Sukhoi 24 dan pesawat F-4, F-5, F-7, RF-4, MiG-29, F-14, Saegheh, pesawat pengisian bahan bakar di udara, Boeing 707 dan 747, pesawat angkut, dan pesawat patroli angkatan laut P-3F, serta berbagai jenis drone termasuk Karrar, Kian, Ababil, Arash, dan Kaman-12 yang dilengkapi dengan rudal, bom pintar jarak jauh, dan pengacak radar.

Brigjen Vahedi menjelaskan bahwa latihan itu dikomandoi oleh Markas Besar Angkatan Udara Militer di Tehran.

Dia menambahkan dalam latihan ini, drone Kaman-12 berhasil menembak sasaran dengan menggunakan bom pintar dan presisi yang sudah ditingkatkan, qaem. Drone Karrar, yang dilengkapi dengan bom seberat 500 pon, juga mampu secara akurat menembak target.

“Kegiatan ini membawa pesan keamanan, stabilitas, persahabatan, dan perdamaian bagi negara-negara di kawasan. Ia juga membawa pesan kesiapan untuk membela dan merespons secara tegas jika musuh membuat kesalahan perhitungan,” tegasnya.

 

Tags