Nov 20, 2021 11:57 Asia/Jakarta

Kementerian Keuangan AS baru-baru ini mengumumkan daftar nama beberapa individu dan perusahaan Iran dalam daftar sanksi AS yang dianggap mengganggu pemilu di negaranya.

Kementerian Keuangan AS menempatkan nama enam orang Iran dan satu lembaga dalam daftar sanksi dengan dalih "upaya untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS 2020".

Kemenkeu AS dalam sebuah pernyataan hari Kamis (18/11/2021) mengatakan, "Amerika Serikat telah mengidentifikasi penyusupan dunia maya oleh aktor yang disponsori pemerintah Iran, termasuk yang dilakukan para aktivis media Iran. Para aktivis berusaha memecah-belah dan merusak kepercayaan pemilih dalam proses pemiu AS. Mereka juga memposting informasi palsu di media sosial dan membuat email ancaman dan video palsu,".

Langkah sanksi baru Washington terhadap Tehran datang ketika pemerintahan Biden terus mendorong tekanan maksimum terhadap Iran yang bertentangan dengan janji sebelumnya untuk mengubah pendekatannya terhadap Iran.

Dalam hal ini, Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki menyinggung beberapa laporan tentang kemungkinan pemerintahan Biden mencoba mencapai kesepakatan sementara dengan Iran, dan mengatakan bahwa pendekatan sanksi AS terhadap Iran tidak berubah.

Isu lain yang menarik perhatian di bidang sanksi terhadap enam orang dan institusi Iran dengan dalih campur tangan dalam pemilu AS yang menunjukkan bahwa pendekatannya terhadap Tehran tidak berubah, dengan menuduh negara-negara saingan atau oposisinya ikut campur dalam pemilihan AS.

Sementara itu, Washington sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mencampuri urusan negara lain, termasuk campur tangan langsung dan tidak langsung dalam pemilu, berbagai tindakan subversif, terutama peluncuran revolusi  dan kudeta.

 

Presiden AS, Joe Biden

 

Kali ini juga, pemerintah Biden melancarkan tudingan baru mengenai pemilu sebagai alasan untuk mengintensifkan tekanan terhadap Iran. Tentu saja, tuduhan seperti itu tidak hanya dilakukan Washington terhadap Iran, tetapi juga dilancarkan terhadap Rusia dan Cina dalam beberapa tahun terakhir.

Rekam jejak kelam intervensi AS menunjukkan bahwa Washington telah melakukan intervensi puluhan kali secara langsung dan tidak langsung dalam proses pemilu negara lain, terutama Rusia dan Iran.

Pavel Sharikov, pakar politik Rusia mengungkapkan alasan memburuknya hubungan bilateral AS dan Rusia,  karena isu Rusia telah menjadi topik pergulatan politik domestik AS.

Melihat tindakan AS terhadap Iran setelah Perang Dunia II menunjukkan bahwa Washington, bersama dengan London, memainkan peran langsung dalam melakukan kudeta tahun 1953 terhadap pemerintah nasional Perdana Menteri Iran yang dipimpin Mohammad Mossadegh.

Pasca kemenangan Revolusi Islam, Amerika Serikat dalam konteks perang propaganda dan media, berulang kali mendorong rakyat Iran untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu, dan mempertanyakan hasil berbagai pemilu, khususnya pemilu presiden 2009, dan secara eksplisit menuduh rakyat Iran melakukan pembangkangan sipil dan memprotes hasil Pemilu tersebut.

Bahkan sekarang, Washington telah mencoba untuk ikut campur dalam pemilihan Iran, termasuk pemilu presiden dan parlemen demi mengurangi partisipasi publik dalam penyelenggaraan pemilihan umum tersebut.

Akumulasi dari isu-isu ini mencerminkan pendekatan konfrontatif AS yang melakukan intervensi paling banyak di negara-negara lain sejak Perang Dunia II, tapi ironisnya menuduh negara-negara lain ikut campur dalam politik domestik AS.(PH) 

Tags