Des 01, 2021 16:44 Asia/Jakarta
  • JCPOA
    JCPOA

Negosiasi untuk mencabut sanksi zalim Amerika Serikat terhadap Iran dimulai di Wina pada hari Senin (29/11/2021).

Dalam putaran pembicaraan ini, yang dimulai setelah jeda lima bulan, hadir tim ahli dan diplomat Iran yang berpengalaman dengan komposisi ahli hukum-ekonomi, yang dipimpin oleh Ali Bagheri Kani, Deputi Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran.

Ali Bagheri Kani, Deputi Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran

Penekanan Iran dalam negosiasi ini adalah pemenuhan semua persyaratan pencabutan sanksi sebagai salah satu jaminan bahwa pemerintah AS dan negara-negara anggota Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) lainnya tidak akan dapat menarik diri dari JCPOA.

Selain itu, harus ada jaminan bahwa tidak ada sanksi baru yang akan dikenakan dan bahwa sanksi sebelumnya tidak akan dijatuhkan kembali.

Pembicaraan ahli dalam kerangka Kelompok Kerja Penghapusan Sanksi dimulai pada Selasa (30/11) pagi, hari kedua negosiasi pencabutan sanksi. Delegasi Iran menekankan bahwa selama daftar merah sanksi ada, lampu hijau bagi AS untuk kembali ke perjanjian tidak akan menyala.

Amerika Serikat menarik diri dari JCPOA pada tahun 2018, dan dengan tekanan sanksi maksimum dan mengikat JCPOA ke masalah lain, telah memperumit negosiasi untuk menghidupkan kembali JCPOA.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Selasa (30/11), Sayid Hossein Mousavian, mantan anggota tim perunding nuklir Iran, dalam menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran telah mengambil sikap keras dalam pembicaraan Wina, mengatakan, "Tuntutan Iran adalah implementasi yang tepat, benar dan sempurna dari kesepakatan JCPOA."

Analis senior urusan internasional menambahkan bahwa para perunding Iran tidak menginginkan apa pun lebih atau kurang dari JCPOA. Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Eropa telah menawarkan untuk menghidupkan kembali dan implementasi penuh JCPOA, dan itulah yang dikatakan Iran.

Sikap profesional dan konstruktif dan pada saat yang sama posisi delegasi Iran yang serius dan tegas sebelum dan di awal negosiasi, membuat evaluasi semua pihak dari pertemuan pembukaan menjadi evaluasi positif.

Persepsi positif pertemuan Wina, terlepas dari upaya dan suasana beberapa media dan kantor berita sebelum pertemuan untuk menciptakan mentalitas negatif terhadap sikap Iran di pertemuan Wina, menunjukkan bahwa langkah-langkah ini telah gagal dan pihak-pihak yang bernegosiasi memiliki pandangan konstruktif dari pertemuan.

Negosiasi untuk mencabut sanksi zalim Amerika Serikat terhadap Iran dimulai di Wina pada hari Senin (29/11/2021).

Saeed Khatibzadeh, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, memposting sebuah tulisan di akun Twitter-nya pada malam pembicaraan Wina.

"Amerika Serikat dan Troika Eropa mengeluarkan pernyataan palsu, akan meningkatkan sanksi, mengarang narasi yang menyimpang, dan tetap diam dalam menghadapi ancaman Israel."

Ali Bagheri, Deputi Menteri Luar Negeri Iran dalam hal ini telah mengklarifikasi, "Selama kampanye tekanan maksimum masih bernapas, menghidupkan kembali JCPOA tidak lebih dari ucapan yang berlebihan."

Republik Islam Iran telah menunjukkan kepatuhannya pada kewajibannya dalam praktik dan sekarang sepenuhnya siap dan bertekad untuk mencapai "perjanjian adil yang menjamin hak-hak sah rakyat Iran".

Para pengamat politik percaya bahwa kemajuan pembicaraan Wina akan tergantung pada koreksi perilaku kontradiktif Amerika Serikat. Karena itu, jika pihak lain memasuki Wina dengan cara pandang konstruktif dan jauh dari masalah yang bukan inti tanpa hasil, maka negosiasi akan berada di jalur yang benar.

Pada saat yang sama, Iran tidak menempatkan dirinya dalam keadaan darurat waktu dan menganggap "mencapai kesepakatan yang baik dan akurat lebih penting daripada mencapai kesepakatan cepat".

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan dalam sebuah catatan, "Republik Islam Iran siap untuk dialog berorientasi hasil demi mencapai "kesepakatan yang baik" dengan kelompok 4 + 1, untuk menunjukkan niat baik dan dengan tujuan akhir mencabut sanksi sepihak dan ilegal, terlepas dari semua janji-janji yang tidak ditepati Barat di JCPOA."

Tags