Des 06, 2021 19:58 Asia/Jakarta
  • Hossein Amir-Abdollahian dan Faisal Mekdad
    Hossein Amir-Abdollahian dan Faisal Mekdad

Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad tiba di Tehran Ahad (5/12/2021) sore dan Senin (6/12/2021) bertemu dengan sejawatnya dari Iran, Hossein Amir-Abdollahian serta membahas berbagai isu yang diminati kedua pihak.

Deputi menteri luar negeri Suriah, Bashar Jaafari menyertai Mekdad di kunjungannya ke Iran kali ini. Tujuan kunjungan ini fokus pada lobi regional dan kesepakatan bilateral di bidang politik dan ekonomi serta kerja sama strategis.

Iran dan Suriah telah mencapai aksi dan kemenangan bersama di bidang perang kontra-terorisme, dan sekarang sedang menyusun rencana untuk mengembangkan hubungan selama periode konstruktif. Dalam konteks saat ini, penguatan kerja sama di bidang industri, energi, pelabuhan, transportasi, serta percepatan implementasi perjanjian perdagangan dan perbankan dalam rangka melawan sanksi yang menindas kedua negara menjadi sangat strategis. Dalam hal ini, pekan lalu, pameran khusus Iran di Suriah diadakan di Damaskus dengan partisipasi perusahaan-perusahaan Iran di bidang farmasi, permesinan, perkapalan, layanan air, tekstil, layanan elektronik, teknik teknis, dan perusahaan berbasis pengetahuan. Bersamaan dengan penyelenggaraan pameran ini, Reza Fatemi Amin, menteri Perindustrian, Pertambangan, dan Perdagangan Iran melakukan perjalanan ke Suriah.

Kunjungan Menlu Suriah Faisal Mekdad ke Iran

Hubungan antaran Suriah dan Iran kini semakin luas dan beragam, serta memiliki ufuk terang bagi peningkatan hubungan ini di segala sektor. Suriah telah melewati fase utama perang lapangan di negara ini. Perang ini telah menimbulkan kerugian besar kepada negara ini. Seiring dengan meredanya perang dan krisis, kini pemerintah Suriah membutuhkan bantuan negara-negara sahabat dan sekutunya untuk merekonstruksi negara yang porak-poranda.

Sebagai salah satu negara berpengaruh di poros muqawama, Suriah sejak akhir Januari 2011 mengalami perang yang dipaksakan oleh Barat dan sekutu regionalnya. Salah satu tujuan pemaksaan perang kepada Suriah adalah memecah-belah negara ini, di mana rencana busuk musuh ini berhasil digagalkan dengan perlawanan. Faktanya apa yang saat ini membuat orientasi politik luar negeri Tehran dan Damaskus sama adalah tekad kedua negara melanjutkan arus muqawama. Karakteristik ini merupakan poros utama di kebijakan luar negeri Republik Islam Iran dan Suriah, serta pengokohan hubungan kedua negara berdasarkan prinsip ini.

Tehran dan Damaksus sedang mengembangkan hubungan dengan pendekatan ini dan sebanding dengan tingkat hubungan ini. Poin yang membantu memperkuat hubungan ini dan stabilitas di sikap tersebut adalah kepercayaan timbal balik yang meningkatkan level hubungan kedua negara ke tingkat strategis di bidang politik, ekonomi, perdagangan dan dalam menghadapi ancaman keamanan.

Iran dan Suriah saat membutuhkan untuk saling membantu, tetap berdiri berdampingan dan kini di era rekonstruksi dan pembangunan, Iran juga tetap bersama Suriah.

Hassan Hanizadeh, pakar politik menilai hubungan Tehran dan Damaskus strategis dari sisi ini dan seraya mengisyaratkan bahwa Suriah saat ini berada di fase melewati krisis delapan tahun dan memasuki babak baru pembangunan mengatakan, Iran karena memiliki pengalaman panjang di bidang rekonstruksi kota yang hancur dilanda perang, dapat memberikan pengalamannya ini kepada pemerintah dan bangsa Suriah. Selain itu, kehadiran Iran selama proses rekonstruksi akan memberi konsesi dan peluang beragam kepada aktivis ekonomi dan perdagangan Iran.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian dan sejawatnya dari Suriah, Faisal Mekdad

Amir-Abdollahian di kunjungan terbarunya ke Suriah seraya menjelaskan bahwa hubungan Tehran-Damaskus strategis mengungkapkan, Suriah telah melewati hari-hari sulit dan Republik Islam Iran akan aktif mengembangkan hubungan kedua negara. (MF)

 

Tags