Des 20, 2021 21:14 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian
    Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir-Abdollahian Ahad (19/12/2021) di pidatonya di pertemuan para menlu negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memaparkan sikap dan pandangan Iran terkait penerapan keamanan berkesinambungan di Afghanistan.

Menlu Iran mengatakan, keamanan berkesinambungan dan stabilitas politik serta sosial di Afghanistan hanya dapat direalisasikan melalui partisipasi kolektif sejati dan pemerintahan inklusif serta efektif yang melibatkan seluruh etnis dan mazhab.

"Penangguhan di kasus ini akan memberi peluang kepada musuh rakyat Afghanistan, melalui aksi terorisme Daesh (ISIS) yang terus meningkat, akan memaksakan kesulitan ekonomi dan kondisi krisis terhadap pejabat Kabul dan rakyat negara ini," ungkap Abdollahian.

Pidator menlu Iran di sidang Islamabad mengisyaratkan tiga komponen penting yang efektif dalam pembentukan masa depan Afghanistan di jalur perdamaian dan keamanan serta stabilitas berkesinambungan. Rekonsiliasi dan Kohesi Nasional, partisipasi menyeluruh di pemerintah dan kerja sama negara-negara tentangga dalam melawan terorisme, merupakan tiga komponen yang disebutkan menlu Iran sebagai langkah terpenting dan segera untuk menjamin masa depan terang di Afghanistan.

Anak-anak dan Kemiskinan di Afghanistan

Komponen ini mengindikasikan pandangan Iran terkait perdamaian dan keamanan bersama di kawasan. Peran Iran dalam membantu Afghanistan telah terbukti, meski ada perubahan pemerintah dan variabel politik. Di pertemuan Islamabad, sikap ini menjadi perhatian dan delegasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di sidang OKI memuji peran konstruktif Iran dalam mendukung dan membantu rakyat Afghanistan. Faktanya adalah sektor kesehatan dan pendidikan di Afghanistan saat ini telah rusak. Lebih jelasnya, Afghanistan tengah bergerak cepat ke arah sebuah krisis kemanusiaan.

Di transformasi terbaru Afghanistan, sebanyak 500 ribu warga negara ini memasuki Iran. Kebijakan keliru dan intervensif di kawasan telah mendorong tingkat pengungsi ini dan selama kebijakan ini berlanjut, maka kita masih akan menyaksikan arus pengungsi dan pencari suaka. Saat ini, lebih dari 500 ribu siswa Afghanistan tengah belajar di Iran. Di sektor kesehatan, Iran juga tidak membedakan antara warganya dan warga asing, dan sampai saat ini lebih dari 3,4 juta dosis vaksin telah disuntikkan kepada warga asing.

Sementara menurut, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi, bantuan internasional bagi warga Afghanistan kurang dari lima persen dari biaya mereka dan Iran menanggung sisanya. Wajar jika Republik Islam Iran khawatir atas masalah ini dan dampaknya.

Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Mahmoud Abbaszadeh Meshkini seraya menyinggung urgensitas pertemuan ini yang digelar atas prakarsa dan inisiatif Tehran, mengingatkan, pembentukan pemerintahan inklusif di Afghanistan akan membantu penerapan stabilitas politik dan keamanan, dan anggota OKI dapat memainkan peran dalam merealisasikannya.

Kini kondisi politik di Afghanistan telah berubah dan jika kedaulatan neagra ini tidak mampu melawan terorisme dan menyelesaikan tantangan yang ada, mana negara lain juga akan menerima dampaknya. Taliban harus memahami bahwa pembentukan sebuah pemerintahan inklusif yang disertai dengan penghormatan terhadap hak seluruh etnis dan lapisan masyarakat, serta tidak memanfaatkan wilayah Afghanistan bagi terorisme ke negara lain, sebuah urgensitas yang akan disertai dengan penerapan stabilitas dan keamanan serta kembalinya Afghanistan ke era interaksi regional dan internasional. (MF)

 

Tags