Jan 17, 2022 20:13 Asia/Jakarta
  • blokade Yaman
    blokade Yaman

Utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman Hans Grundberg melakukan kontak telepon dengan Asisten khusus Menteri Luar Negeri Iran Ali Ashgar Khaji untuk membicarakan perkembangan terbaru di Yaman.

Asisten khusus Menlu Iran dalam pembicaraan ini menyinggung kondisi menyedihkan rakyat Yaman, dan situasi sulit yang diakibatkan oleh perang dan blokade ekonomi yang menindas. Ia menuntut upaya serius PBB dan masyarakat internasional untuk menghentikan perang, dan mencabut blokade atas Yaman. Ali Ashgar Khaji mengatakan bahwa blokade menindas atas Yaman, akan menjadi mukadimah penyelesaian politik krisis Yaman.

Amin Mohammad Hoteit, pengamat masalah strategi kawasan dalam salah satu catatannya menyinggung kekalahan Arab Saudi di perang Yaman.

Ia menulis, "Penguasa Saudi memulai perang destruktif terhadap Yaman, pada tahun 2015 dengan nama 'Operasi Badai Penentuan'. Bayangan Saudi adalah ia bisa dengan mudah dan pasti mencapai tujuannya dalam perang ini, dan untuk menguasai kekayaan minyak dan gas Yaman oleh Saudi, dan pendudukan Riyadh atas Bab El Mandeb serta pengawasan terhadap Laut Merah, hanya dibutuhkan waktu beberapa minggu saja. Ambisi Saudi ini semakin kuat karena dukungan tekanan Amerika Serikat dan Inggris, sehingga muncul sangkaan di benak orang-orang Saudi bahwa mereka sedemikian kuatnya sampai tak ada seorang pun yang bisa melawan mereka."

Atas dasar dugaan dan kalkulasi keliru ini, agresi militer dan perusakan terhadap Yaman terus berlangsung. Akan tetapi gerakan perlawanan Yaman membuktikan bahwa perang ini semakin lama berlangsung, justru semakin menjauhkan Saudi dari target militer yang diinginkannya.

Sebaliknya, pembunuhan, pembantaian dan blokade juga tidak pernah menyurutkan tekad rakyat Yaman. Perang Yaman pada kenyataannya adalah sebuah perang yang gagal, dan penuh biaya bagi Saudi, berlarut-larutnya perang ini tidak menguntungkan Koalisi Saudi-Uni Emirat Arab.

Hans Grundberg, Utusan khusus Sekjen PBB untuk Yaman

 

Untuk keluar dari kebuntuan ini diperlukan keputusan rasional dan realistis oleh Saudi. Para pengamat politik dan analis independen meyakini bahwa untuk terlepas dari kebuntuan ini perlu untuk mengambil tiga langkah, pertama, menghentikan perang dan mengakhiri serangan serta blokade Yaman, kedua, interaksi yang tepat dengan PBB, dan ketiga kembali ke upaya membangun kepercayaan, dan menghormati prinsip menentukan masa depan politik Yaman oleh rakyatnya sendiri.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian dalam wawancara terbaru dengan stasiun televisi Al Jazeera mengatakan bahwa kondisi Yaman sepenuhnya mengkhawatirkan.

Ia menuturkan, "Sudah sekitar enam tahun berlalu sejak pecah perang dan agresi militer terhadap Yaman. Masalah ini menurut kami adalah penindasan terhadap rakyat Yaman, dan di sisi lain, Saudi sebagai sebuah negara Muslim di kawasan, bukannya menggunakan investasinya untuk pertumbuhan dan kemajuan kawasan, dan negara-negara Muslim, tapi malah dihabiskan untuk sebuah perang. Dalam hal ini satu-satunya pihak yang diuntungkan adalah mereka yang menjual senjata ke Saudi, dan mereka yang ingin menyulut perang di kawasan. Perang Yaman tidak memiliki pemenang militer."

Apa yang terjadi selama tujuh tahun agresi militer terhadap Yaman adalah kejahatan perang dan genosida rakyat Yaman. Berdasarkan laporan Dewan Keamanan PBB, lebih dari setengah rakyat Yaman kelaparan, dan negara ini mengalami krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Sikap Republik Islam Iran terkait perang menindas ini adalah penekanan terhadap solusi politik. Iran sebagai salah satu aktor politik berpengaruh di kawasan, mengerahkan seluruh kapasitas diplomatik dan hubungan regionalnya di jalan ini. (HS)

Tags