Jan 18, 2022 19:30 Asia/Jakarta
  • Apa Urgensi Nota Kesepahaman 25 Tahun Iran-China ?

Di akhir kunjungannya ke China baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengumumkan kesepakatan antara Tehran dan Beijing untuk mulai mengimplementasikan dokumen komprehensif kerja sama strategis 25 tahun kedua negara.

Mengenai urgensi kesepakatan ini, Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran di akun Twitternya mengatakan, "Dimulainya implementasi perjanjian 25 tahun antara Iran dan China, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, merupakan pencapaian strategis bagi Tehran. Sebab, kondisi ini terjadi ketika Amerika Serikat terus mengejar unilateralisme dan tekanan maksimum untuk mengucilkan Iran dari interaksi ekonomi dengan dunia."

Kerja sama jangka panjang, dari perspektif teori ekonomi, membuka jalan bagi pengembangan hubungan di berbagai bidang, yang akan membantu memperkuat hubungan ekonomi, sekaligus mengarah pada keseimbangan dalam hubungan politik.

 

Tingkat hubungan ini memiliki tujuan strategis yang saling menguntungkan, serta bersifat multilateral di bidang kerja sama lainnya. Dari perspektif ini, dokumen kerja sama 25 tahun antara Iran dan China merupakan kelanjutan dari kerja sama multilateral dengan fokus di Asia.

Sebelumnya, dokumen keanggotaan tetap Iran di Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) disetujui oleh para pemimpin organisasi ini dalam pertemuan di Dushanbe, ibu kota Tajikistan, dengan kehadiran Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi.

Keanggotaan strategis ini juga berdampak penting pada proses kerja sama multilateral Iran di kawasan dan kebijakan berorientasi Asia. Oleh karena itu, Iran dapat memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya, terutama di bidang ekonomi dan politik. 

Bukti lain dari urgensi prakarsa China dengan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra, yang saling menguntungkan di bidang perdagangan, juga memiliki dimensi geopolitik. Peran China dalam pembentukan aliansi kerja sama ekonomi regional, terutama dengan kekuatan ekonomi lunaknya telah menjadi mimpi buruk bagi Amerika Serikat.

 

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada Februari 2015, menyinggung kebijakan hegemonik segelintir negara dunia, terutama Amerika Serikat, dan kerja sama mereka yang tidak jujur ​​dengan negara lain. Rahbar mengatakan, "Situasi ini telah mendorong negara-negara merdeka untuk mencari lebih banyak kerja sama satu sama lain. Kesepakatan antara Iran dan China dalam kerja sama strategis 25 tahun berada dalam kerangka yang sama bahwa kesepakatan harus mencapai tahap operasional dengan upaya  serius dari kedua belah pihak,".

Presiden China, Xi Jinping dalam pertemuan tersebut menjelaskan, "Perekonomian China dan Iran saling melengkapi. Selama perjalanan ini kami menyepakati rencana kemitraan strategis 25 tahun. Kami siap untuk memperluas dan memperdalam kerja sama di bidang budaya, pendidikan, teknologi, militer, dan keamanan di tingkat mitra strategis,".

Berdasarkan indikator tersebut, dapat dikatakan bahwa awal dari implementasi dokumen kerja sama jangka panjang antara Iran dan China memiliki dua pesan yang jelas.

Pertama, ruang lingkup hubungan politik dan ekonomi Iran yang luas, sehingga Amerika Serikat tidak mampu melakukan blokade terhadap Iran.

Kedua, penekanannya terletak pada dinamika diplomasi regional Iran di era pemerintahan ketiga belas, yang tentu saja ditempuh dengan menjaga kepentingan bersama dan menghormati negara lain.

Kerja sama dan ufuk jangka panjang antara Iran dan China tersebut memberikan tujuan strategis dan mendorong tingkat hubungan antara kedua negara, yang memiliki salah satu hubungan sejarah dan peradaban tua di kawasan Asia-Pasifik. Titik balik dalam hubungan bilateral ini berarti pembentukan kutub politik, ekonomi dan budaya yang kuat di Asia.(PH)

Tags