Jan 27, 2022 11:28 Asia/Jakarta

Setelah sejumlah media merilis berbagai interpretasi atas kemungkinan negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat terkait kesepakatan untuk menghidupkan kembali JCPOA, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menjelaskan bahwa kunci setiap kesepakatan adalah pencabutan sanksi zalim terhadap bangsa Iran.

Babak baru negosiasi untuk menghidupkan kembali JCPOA dengan fokus pada tujuan utama yakni pencabutan sanksi zalim terhadap bangsa Iran tengah berlangsung di Wina, dan berbagai laporan positif menyebutkan kemajuan signifikan perundingan ini serta sesi penulisan konten dan teks di tingkat ketua delegasi.

Namun demikian sejumlah berita dan statemen termasuk usulan perundingan langsung antara AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan menghidupkan kembali JCPOA mulai berhembus sejalan dengan perundingan di Wina.

Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi Selasa (25/1/2022) malam dalam sebuah wawancara televisi terkait perkembangan terbaru perundingan Wina dan mengenai sikap Iran terkait usulan serta permintaan serius AS untuk berunding langsung dengan Iran mengungkapkan, permintaan ini bukan digulirkan saat ini, tapi sejak lama telah ada permintaan tersebut, namun sampai saat ini belum ada perundingan langsung dengan AS.

Perundingan Wina

Setiap langkah baru untuk melapangkan jalan mencapai kesepakatan menghidupkan kembali JCPOA membutuhkan konsistensi kata-kata dan perbuatan nyata, dan sekedar mengungkapkan sejumlah statemen lebih hanya bertujuan tertentu dan mempengaruhi media. Kepercayaan diperoleh melalui kata-kata dan tindakan yang benar dan konsisten.

Pengalaman JCPOA menunjukkan bahwa perilaku dan kata-kata Amerika kontradiksi. Amerika di zaman Presiden Barack Obama menandatangani perjanjian JCPOA pada tahun 2015, namun di periode Presiden Donald Trump, ia mengabaikan komitmen pemerintah Washington dan pada tahun 2018 keluar dari perjanjian nuklir tersebut serta menjatuhkan sanksi baru terhadap bangsa Iran.

Pencapaian tingkat kepercayaan memiliki hubungan yang signifikan dengan kesesuaian ucapan dan tindakan para pihak JCPOA, khususnya Amerika Serikat. Jika tingkat kepercayaan ini dapat diverifikasi dan disetujui oleh Republik Islam Iran, maka dapat fokus pada langkah selanjutnya untuk mencapai kesepakatan yang baik dan langgeng di Wina.

Situasi dalam pembicaraan Wina, bagaimanapun, untuk Republik Islam Iran berada pada tingkat bahwa rute komunikasi saat ini antara Iran dan Amerika Serikat adalah melalui pengiriman dan penerimaan komentar tertulis. Dan selama tidak ada jaminan bahwa pertemuan langsung akan sukses dan mencapai kesepakatan, maka bagi Iran tidak ada urgensi untuk berunding langsung.

Di kondisi seperti ini, Republik Islam Iran untuk sementara belum mengambil keputusan baru terkait usulan pihak Amerika untuk berunding langsung dengan Tehran di Wina. Iran tidak menghendaki pertemuan dan perundingan pura-pura dan selama tidak ada tekad serius untuk mencabut sanksi zalim terhadap bangsa Iran serta jaminan verifikasinya dengan maksud menjamin kepentingan ekonomi Iran tidak terwujud, maka rute perundingan Wina saat ini tidak akan berubah.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, sampai saat ini komunikasi dengan delegasi Amerika di Wina dalam bentuk pertukaran tulisan informal, dan metode ini akan diubah ketika ada kesepakatan baik yang diraih. (MF)

 

Tags