Mar 16, 2022 17:14 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian dan Menlu Rusia Sergei Lavrov
    Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian dan Menlu Rusia Sergei Lavrov

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Hossein Amir-Abdollahian Selasa (15/3/2022) bersama rombongan tiba di Moskow untuk berunding dengan sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov.

Abdollahian diterima Lavrov di Kementerian Luar Negeri Rusia dan membicarakan isu-isu bilateral, perundingan Wina, Ukraina, Suriah, Yaman dan Afghanistan. Menurut Abdollahian, Rusia masih berkomitmen untuk meraih kesepakatan final di Wina.

Menlu Iran saat jumpa pers bersama dengan Lavrov menjelaskan, Rusia tidak akan menjadi penghalang untuk mencapai kesepakatan dan tidak ada hubungan antara perkembangan di Ukraina dan pembicaraan Wina. Lebih lanjut Abdollahian mengatakan, Rusia akan tetap berada di samping Iran hingga akhir perundingan dan diraihnya sebuah kesepakatan baik, kuat dan berkesinambungan sama seperti peran positif dan konstruktinya sejak awal perundingan Wina. Rusia menurut Abdollahian juga akan mendukung tercapainya kesepakatan yang baik.

Menlu Iran dan sejawatnya dari Rusia Sergei Lavrov

Sementara itu, Lavrov menyebut pembicaraan dengan Abdollahian sangat bersahabat. Ia juga mengkonfirmasi penyusunan draf kerja sama Moskow dan Tehran di tingkat internasional, perdagangan dan ekonomi. Menlu Rusia menegaskan, tidak ada sanksi ilegal dapat mencegah pertumbuhan yang terus meningkat Iran dan Rusia. Terkait perundingan Wina ia mengatakan, Moskow menghendaki dihidupkannya JCPOA sesegera mungkin dan Amerika harus kembali ke kesepakatan nuklir ini dan mencabut sanksi ilegal.

Penekanan menlu Iran atas peran konstruktif Rusia di perundingan Wina diambil mengingat agitasi dan perang psikologis Barat terhadap Rusia termasuk dalam koridor perundingan pencabutan sanksi di Wina dan klaim bahwa Moskow berencana mensabotase pencapaian kesepakatan final Iran dan Kelompok 4+1 serta Amerika. Sebelumnya Rusia meminta pengecualian hubungan ekonomi dan perdagangannya dari cakupan sanksi Amerika dalam koridor hukuman terhadap Moskow karena perang Ukraina. Tapi permintaan Moskow ini direspon negatif oleh Washington.

Sekaitan dengan ini Amerika menolak memberikan pengecualian sanksi kepada Rusia untuk menyatakan dukungannya guna mencapai kesepakatan dalam pembicaraan Wina. Reza Zabihi, pakar internasional terkait jeda yang ada di perundingan untuk menghidupkan JCPOA mengatakan, alasan dihentikannya perundingan nuklir adalah berlanjutnya friksi antara Iran dan Amerika, serta isu krisis Ukraina saat ini tidak memiliki dampak menentukan bagi masa depan perundingan.

Meski demikian transformasi terbaru khususnya kunjungan menlu Iran ke Rusia dan pembicaraannya dengan sejawatnya dari Rusia telah memicu hasil positif di bidang ini. Sergei Lavrov di jumpa pers hari Selasa mengatakan bahwa Amerika telah memberi jaminan tertulis kepada Rusia bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada Moskow karena perang Ukraina tidak akan menghalangi kerja sama Rusia dengan Iran dalam koridor JCPOA.

Salah satu pejabat Amerika saat merespon statemen Lavrov mengatkan, "Tentu saja kami tidak akan memboikot keterlibatan Rusia di proyak nuklir yang menjadi bagian dari proses untuk menghidupkan kembali JCPOA." Respon Washington ini dapat dicermati sebagai lampu hijau untuk melanjutkan perundingan Wina.

Dengan demikian, kini bola berada di lapangan Amerika, dan dengan menerima penuh tuntutan Iran akan dicapai sebuah kesepakatan final. Menlu Iran seraya menjelaskan bahwa jeda yang ada di perundingan Wina dapat menjadi peluang untuk menyelesaikan isu-isu yang tersisa dan kembalinya semua pihak ke komitmen JCPOAnya, menambahkan, menjaga kepentingan dan prinsip Iran independen dan kuat, serta menjamin kepentingan pasti bangsa Iran menjadi perhatian serius tim juru runding Iran.

Menurut Abdollahian, bola berada di lapangan Amerika untuk memberikan jawaban yang diperlukan untuk menyelesaikan negosiasi dengan sukses. Jika Amerika realistis, kami akan meraih sebuah kesepakatan yang baik, kuat dan berkesinambungan dengan dukungan seluruh pihak yang terlibat di perundingan Wina.

Dengan demikian harus dikatakan bahwa jika Amerika benar-benar ingin perundingan Wina mencapai hasil dan kesepakatan, maka Washington harus meninggalkan tuntutan baru dan borosnya dan menanggapi secara positif tuntutan prinsip Iran, yaitu pencabutan sanksi sepihak, verifikasinya, dan memberi jaminan untuk tidak keluar lagi dari JCPOA. (MF)

 

Tags