May 09, 2022 10:47 Asia/Jakarta

Dalam pertemuan dengan Presiden Suriah dan delegasi yang menyertainya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai perlawanan rakyat dan pemerintah Suriah, serta kemenangan dalam sebuah perang internasional, telah meningkatkan kredibilitas dan marwah negara ini, seraya menekankan perluasan hubungan kedua negara.

Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Khamenei dan Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi di Tehran hari Minggu (08/05/2022) pagi.

Merujuk pada pencapaian besar Suriah di bidang politik dan militer, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Suriah hari ini bukan Suriah sebelum perang, meski saat itu tidak ada kerusakan-kerusakan, namun penghormatan dan kredibilitas Suriah sekarang jauh lebih besar dari sebelumnya, dan semua orang sekarang memandang Suriah sebagai sebuah kekuatan."

Ayatullah Khamenei, Bashar al-Assad dan Ebrahim Raisi

Pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan bahwa hari ini Presiden dan rakyat Suriah, terhormat di mata bangsa-bangsa kawasan.

"Beberapa pemimpin negara kawasan bertemu para pejabat Rezim Zionis, dan minum kopi bersama, tapi rakyat negara-negara ini di Hari Quds turun memenuhi jalan-jalan, dan meneriakan anti-Zionis, inilah realitas hari ini di kawasan," imbuhnya.

Di sisi lain, Presiden Suriah berterimakasih atas sikap dan dukungan rakyat dan pemerintah Iran, dan di saat yang sama mengenang perjuangan Syahid Qassem Soleimani. Menurutnya, "Perlawanan dan sikap kukuh Iran, dalam empat dekade terakhir terkait masalah kawasan, khususnya Palestina, menunjukkan kepada masyarakat kawasan bahwa jalan Iran, adalah jalan yang benar dan asasi."

"Kerusakan-kerusakan akibat perang dapat direkonstruksi, tapi jika asas dan prinsip rusak, maka itu tidak bisa diperbaiki, dan perlawanan rakyat Iran, yang berlandaskan prinsip Imam Khomeini dan dilanjutkan dengan bimbingan Ayatullah Khamenei, membuka peluang kemenangan-kemenangan besar rakyat Iran, dan masyarakat kawasan terutama rakyat Palestina," ujarnya.

Ini adalah kunjungan kedua Presiden Suriah ke Iran sejak 2011 ketika Suriah terlibat dalam perang melawan kelompok teroris dan Takfiri. Kunjungan pertama Bashar al-Assad ke Iran terjadi pada 25 Februari 2019, setelah keberhasilan koalisi Iran, Rusia dan Suriah dalam menekan teroris Takfiri dan membangun kondisi yang relatif tenang di negara ini.

Suriah telah diserang oleh teroris Takfiri sejak Januari 2011 karena kehadirannya di Front Perlawanan dan posisi geopolitiknya. Sementara Republik Islam Iran, sebagai basis stabilitas dan keamanan di Asia Barat, telah berusaha untuk mendukung rakyat dan negara Suriah untuk memerangi teroris yang didukung AS dan rezim Zionis, serta musuh-musuh Perlawanan.

Dalam pertemuan dengan Presiden Suriah dan delegasi yang menyertainya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai perlawanan rakyat dan pemerintah Suriah, serta kemenangan dalam sebuah perang internasional, telah meningkatkan kredibilitas dan marwah negara ini, seraya menekankan perluasan hubungan kedua negara.

Iran memainkan peran penting bagi kemenangan Suriah dalam menghadapi agresi asing dan perang skala penuh yang dilancarkan terhadap Suriah oleh banyak negara di kawasan. Para penasihat  militer Iran dan komandan militer Iran seperti Syahid Qassem Soleimani berdiri di samping tentara dan rakyat Suriah, yang pada akhirnya membuat Suriah mampu melawan teroris dan musuh.

Dalam pertemuan dengan Bashar al-Assad, Rahbar juga mengenang perjuangan Letjen Syahid Qassem Soleimani dan menuturkan, "Syahid terhormat itu punya keyakinan khusus terkait Suriah, dan dalam arti sebenarnya telah melakukan pengorbanan, dan sepak terjangnya di Suriah, tidak berbeda dengan sepak terjangnya selama delapan tahun perang pertahanan suci di Iran. Syahid Soleimani dan anggota IRGC terkemuka lainnya, termasuk Syahid Hamedani, benar-benar bekerja keras dan melihat masalah Suriah sebagai tugas dan kewajiban suci."

Dari sudut pandang Republik Islam Iran, menjaga keamanan dan stabilitas Suriah dan kehadirannya yang berwibawa dalam persamaan regional adalah penting. Dengan pendekatan anti-Zionis, negara ini berada di garis depan perlawanan terhadap penjajah Quds, dan karenanya, Iran dan Suriah memiliki pandangan yang sama dalam menentang normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan Islam dengan rezim palsu Zionis.

Dalam pertemuan dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Presiden Suriah mengatakan, "Apa yang membuat rezim Zionis tidak dapat menguasai kawasan ini adalah hubungan strategis antara Iran dan Suriah, yang harus dilanjutkan dengan penuh kekuatan."

Ayatullah Khamenei, Bashar al-Assad dan Ebrahim Raisi

Jelas, hubungan Suriah-Iran terus berkembang di semua bidang politik, ekonomi, perdagangan dan budaya, sementara posisi dan kepentingan bersama Iran dan Suriah dalam masalah bilateral, regional dan internasional memerlukan perencanaan jangka panjang dan komprehensif untuk memperluas dan memperdalam hubungan Tehran dan Damaskus.

Sekaitan dengan hal ini, Ayatullah Khamenei menekankan, "Pribadi Presiden dan pemerintah Republik Islam Iran juga benar-benar memiliki semangat, keceriaan dan tekad yang tinggi, mereka menaruh perhatian besar pada Suriah, dan memiliki motivasi serius, dan peluang ini harus digunakan untuk meningkatkan hubungan dua negara lebih dari sebelumnya."(sl)

Tags