May 18, 2022 16:38 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Ricardo Cabrisas Ruiz dengan Hossein Amir Abdollahian di Tehran
    Pertemuan Ricardo Cabrisas Ruiz dengan Hossein Amir Abdollahian di Tehran

Deputi perdana menteri dan utusan khusus presiden Kuba, Ricardo Cabrisas Ruiz bersama delegasi tinggi berkunjung ke Tehran.

Agenda kunjungan Ruiz ke Tehran untuk bertemu dan menggelar lobi dengan pejabat Republik Islam Iran serta menghadiri sidang ke-18 Komisi Bersama Kerja Sama Ekonomi Iran-Kuba. Kunjungan pejabat senior Kuba ini dimaksudkan untuk meningkatkan level hubungan ekonomi kedua negara.

Di pertemuan antara menteri ekonomi Iran dan deputi perdana menteri Kuba, keduanya mencapai kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama kedua negara.

Menteri Ekonomi Iran, Ehsan Khanduzi di pertemuan ini mengatakan, "Pemerintah Republik Islam Iran senantiasa menghendaki dibentuknya hubungan ekonomi jangka panjang dan berkesinambungan dengan negara-negara Amerika Latin, khususnya Kuba."

Ricardo Cabrisas Ruiz di Tehran

Sementara itu, Ricardo Cabrisas Ruiz di pertemuan ini menjelaskan program pengembangan ekonomi dan berbagai sektor prioritas bagi negara ini untuk mencapai pengembangan ekonomi, dan menghitung faktor-faktor negatif yang mempengaruhi ekonomi Kuba seperti blokade ekonomi atau dampak serius pandemi Corona. "Ada dua faktor, perubahan iklim dan perang Ukraina, yang secara khusus memicu dampak negatif di sektor ketahanan pangan ekonomi Kuba," ungkapnya.

Pejabat tinggi Kuba ini juga menyatakan kesiapannya untuk memanfaatkan pengalaman dan teknologi perusahaan Iran untuk menjalankan proyek penting ekonomi negara ini.

Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran di tahun 1979  dan pembentukan pemerintah Republik Islam Iran, Tehran di langkah pertamanya menjalin hubungan politik dengan negara-negara anti-imperialis termasuk Kuba. Hubungan Tehran dan Havana selama beberapa dekade terakhir terus berkembang, khususnya keanggotaan Iran di Gerakan Non-Blok telah membuat hubungan kedua negara semakin dekat. Kedua negara memiliki memiliki kesamaan pandangan terkait melawan kebijakan imperialis dan hegemoni Amerika sebagai pemimpin blok Barat. Keduanya juga menghendaki perlawanan tehradap langkah-langkah ilegal Washington di bidang intervensi di urusan internal negara lain, serta penjatuhan sanksi sepihak.

Amerika Serikat adalah negara pemberi sanksi terbesar di dunia dan memiliki sejarah terlama dalam menerapkan segala macam sanksi kepada negara lain sesuai dengan tujuan kebijakan luar negerinya. Selain menjatuhkan sanksi paling berat terhadap Iran dalam sejarah, sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimum, Amerika Serikat telah memberlakukan banyak sanksi sepihak di berbagai negara, termasuk Kuba. Faktanya, Kuba telah berada di bawah sanksi Washington yang paling beart sejak awal 1960-an, dan Amerika Serikat melanjutkan pendekatan tidak manusiawi ini ke Havana.

Mengingat bahwa Iran dan Kuba, sebagai negara merdeka, telah dijatuhi sanksi ilegal dan sepihak AS selama beberapa dekade, oleh karena itu, meningkatkan level hubungan dan memenuhi kebutuhan satu sama lain dapat efektif dalam mencabut dan menetralisir sanksi tersebut. Isu ini menyebabkan terus berkembangnya kerja sama kedua negara di berbagai bidang.

Perluasan kerja sama Iran dan Kuba juga diambil berdasarkan logika ini. Bahram Einollahi, menteri kesehatan Iran di acara penutupan sidang ke-18 Komisi Bersama Ekonomi Iran-Kuba di Tehran mengatakan, di Komisi Bersama 18, 13 dokumen dan nota kesepahaman kerja sama di berbagai bidang termasuk bioteknologi, kesehatan, ekonomi, perdagangan, perbankan, olahraga dan pertanian mencapai tahap final dan ditandatangani.

Seraya mengisyaratkan pandemi Corona dan sanksi berat Amerika terhadap Iran dan Kuba, Einollahi mengatakan, meski ada sanksi kedua negara berdiri di atas kaki mereka sendiri, dan meraih banyak prestasi dalam melawan pandemi Corona. (MF)

 

Tags