Jun 01, 2022 17:18 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Ayatullah A\'rafi dan Paus Fransiskus di Vatikan
    Pertemuan Ayatullah A\'rafi dan Paus Fransiskus di Vatikan

Pemimpin Hauzah Ilmiah Qom, Iran, Ayatullah Alireza A'rafi di pertemuan dengan Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus di Vatikan menyampaikan pesan lisan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei kepada Paus.

Ayatullah A'rafi di pertemuan ini mengatkaan, "Setelah mengetahui kunjungan saya ke sini, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyampaikan salam hormat kepada Anda dan memuji latar belakang Anda, terutama hubungan yang baik dengan Amerika Latin, dan memuji berbagai kiprah Anda dalam menjaga hubungan baik antara Islam dan Kristen, serta membela kaum tertindas. Kami mengharapkan Anda untuk terus bekerja membela kaum tertindas di dunia, terutama Palestina dan Yaman, dan mengambil posisi yang jelas dan transparan".

"Pemimpin Besar Revolusi Islam mengharapkan adanya tindakan yang diambil untuk membela rakyat Palestina dan solusi yang didasarkan pada suara rakyat, dan penyelenggaraan referendum yang diikuti semua orang asli Palestina, dari semua pemeluk agama."

Sementara itu, Paus Fransiskus dalam pertemuan ini mengungkapkan, "Salam hangat kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dan otoritas agama dan tokoh masyarakat Iran. Kami setuju dengan apa yang dikatakan pemimpin Revolusi Islam,".

Pertemuan Ayatullah A'rafi dengan Paus Fransiskus di Vatikan

Dalam pertemuan ini, Ayatullah A'rafi juga mengumumkan kesiapan Hauzah Ilmiah (Seminari) untuk berinteraksi dengan lembaga ilmiah-keagamaan internasional, termasuk Gereja Katolik, dan seraya menyebutkan masalah dunia manusia saat ini mengatakan, goncangan di kepercayaan terhadap Tuhan, memudarnya spiritualisme dan kepercayaan terhadap alam ghaib, melemahnya institusi keluarga, dan peran serta status tinggi perempuan, sanksi dan tekanan zalim terhadap berbagai bangsa, kemiskinan dan kelaparan, perang, pendudukan dan penindasan yang terorganisir secara internasional, degradasi lingkungan dan ketidakpedulian terhadapnya oleh kekuatan ekonomi, dan pertumbuhan ekstremisme adalah salah satu tantangan dan krisis terbesar zaman baru, yang tidak dapat diatasi tanpa peran efektif agama-agama ilahi.

Pesan lisan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam kepada Paus, pemimpin Katolik dunia, memiliki makna mengingat sikap Paus sebelumnya dalam berbagai isu global. Paus telah berulang kali menyerukan penyelesaian krisis regional dan internasional dan perhatian negara-negara besar terhadap masalah-masalah global. Pada saat yang sama, dimensi religius Paus sebagai pemimpin Katolik terkemuka di dunia, yang memiliki populasi yang signifikan, telah membuat ucapannya memiliki pengaruh dalam skala besar.

Di antara tindakan Paus, yang juga disebutkan dalam pesan lisan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, adalah upayanya untuk melunakkan hubungan antara Islam dan Kristen, serta dialog antaragama untuk lebih memahami masing-masing dan kebutuhan akan hidup berdampingan secara damai antar agama yang berbeda. Pada Februari 2019, Paus Fransiskus menandatangani deklarasi bersama "Persaudaraan Umat Manusia" dengan Sheikh Ahmad al-Tayyib, Imam Masjid Al-Azhar di Mesir, dan sambil mengharapkan perdamaian dunia, ia mengutuk kekerasan agama dan segala bentuk kekerasan lainnya.

Di sisi lain, posisi Paus dalam masalah Palestina dan kecamannya terhadap tindakan kriminal rezim Zionis termasuk di antara posisinya yang menonjol dalam isu-isu global yang penting. Paus Fransiskus mengutuk pembantaian warga Palestina Mei 2018 di perbatasan antara Wilayah Pendudukan dan Gaza sebagai protes atas relokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, di mana sekitar 60 warga Palestina terbunuh, dan mengatakan pembunuhan itu hanya menambah kekerasan. Dan ini meminta dialog antara kedua pihak dan mengembalikan keadilan dan perdamaian ke Asia Barat.

Paus di pidatonya di Bundaran Saint Peter kepada ribuan orang yang hadir mengatakan, "Saya menyampaikan duka dan kesedihan bagi korban tewas dan terluka warga Palestina, dan Saya berdoa bagi mereka yang menderita akibat insiden ini."

Lebih lanjut Puas menambahkan, "Saya ulangi lagi, penggunaan kekerasan tidak akan berujung pada perdamaian. Perang, akan meningkatkan peperangan dan kekerasan."

Paus pada Mei 2021, menyusul serangan keji rezim Zionis ke Jalur Gaza, di pidtonya menyebut hilangnya nyawa sejumlah manusia tak berdosa yang mencakup anak-anak sangat mengerikan dan tidak dapat diterima serta tanda kehancuran masa depan. "Saya tidak tahu akan kemana kebencian akan berakhir," paparnya.

Penekanan Rahbar atas pentingnya melanjutkan sikap Paus Fransiskus dalam membela kaum tertindas di dunia, khususnya Palestina dan Yaman juga ditekankan mengingat pendekatan Paus di masalah ini. (MF)
 

 

 

Tags